TIDAK SELAMANYA “JALAN KEHIDUPAN” ITU BERJALAN LURUS DAN NYAMAN

Anggota Hasan Ma'shum Palang Society sedang berramai-ramai di depan keong emas TMII Jakarta setelah mengikuti acara Haul Gurunya di Bambuapus pada 16 Nopember 2023

Cobalah anda berjalan melewati sebuah jalan raya atau jalan desa, melangkahlah dengan seksama bersama kendaraan (sepeda, mobil, hewan tunggangan) anda atau jalan kaki, kelak anda akan menemukan bahwa jalan itu ternyata tidak selamanya lurus ke depan. Jalan itu akan bengkok, berbelok, ada yang rusak dan ada pula yang bercabang dua, tiga bahkan sampai empat.

Jika jalan itu berbelok, tentu anda akan mengikuti belokan itu untuk sampai ditujuan anda. Jika jalan itu berlubang, tentu anda akan mencari cara untuk menghindari lubangan itu atau mencari cara agar lubangan itu bisa dilewati. Dan jika jalan itu bercabang, tentu anda akan memilih jalan mana yang benar dan yang tercepat untuk anda pilih agar sampai ditujuan yang akan anda capai.

Bacaan Lainnya

Hidup dan kehidupan itu seperti sebuah jalan yang kita lewati sehari-hari. Ia tidak selamanya lurus, tidak selamanya baik-baik saja, tidak selamanya bahagia, tidak selamanya enak-manis-nikmat, dan tentunya tidak selamanya menyenangkan. Terkadang hidup yang kita hadapi ini adakalanya bengkok, mengarah pada kesedihan, menjurus pada kehilangan, membentuk rasa sakit, berupa kekecewaan, menjadi penghinaan, dan kadang pula berupa kehancuran jiwa.

Sudah menjadi kodrat alam yang diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala bahwa kehidupan ini hakekatnya adalah jalan itu sendiri yang harus dilalui oleh manusia. Ia harus dihadapi dan harus dijalani, tidak harus putus asa jika kebetulan kehidupan yang kita hadapi menemukan kekecewaan, tidak perlu marah jika kebetulan kehidupan yang kita hadapi ini menemukan kehancuran jiwa, dan tidak perlu melakukan protes terhadap Allah subhanahu wata’ala jika kebetulan hidup yang kita jalani ini menatap pada kesedihan dan rasa sakit.

Jika kebetulan hidup yang kita lalui itu tidak lurus, cukuplah kita mengembalikannya kepada Allah subhanahu wata’ala bahwa segala yang kita miliki ini merupakan milik Allah subhanahu wata’ala dan kepadanya kita akan Kembali. Dengan sikap demikian itu hidup yang kita jalani menjadi indah, menyenangkan dan tanpa beban merasakan beratnya tantangan yang dihadapinya.

Dalam menikmati hidup bersikaplah seperti anak kecil yang sedang bermain mobil-mobilan. Ia akan dengan bebas membenturkan mobilnya ke dinding, menabrakkan ke mobil lainnya, membuat mobilnya bisa berjalan kesana-kemari dengan gaya kesamping kiri-kanan, lalu jatuh dan dibangunkan lagi untuk Kembali bermain. Anak kecil itu menjalaninya dengan hati yang riang, perasaan yang bahagia, dan luapan kegembiraan yang sangat besar.   

Sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala kita harus menjalani hidup ini dengan penuh gairah, bangga dan bahagia. Ketika ada bencana atau kesusahan yang menimpah kita, kita cukup bersyukur dan mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa “Allah masih sayang pada kita, sehingga kita diingatkan oleh-Nya melalui bencana itu agar tetap ingat kepada Allah dan selalu waspada dalam menjalani kehidupan ini”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *