ASEAN dan Spirit ber-Ketuhanan Indonesia; Kunci Kekuatan Perdamaian Asia-Pasifik

Kota yang padat dengan bendera merah putih yang berkibar dengan gagah mencerminkan sebuah kekuatan bangsa Indonesia yang kuat dan menyatukan kawasan Asia-Pasifik

Pemikir Singapura, Kishore Mahbubani dalam bukunya keajaiban Asean sangat “berterima kasih” dengan Indonesia yang telah mendukung secara penuh keberadaan masyarakat ASEAN, dimana prinsip-prinsip Pancasila telah mengilhami dan menginspirasi ASEAN untuk tetap utuh dan bersatu.

Pancasila yang ber-ketuhanan dicirikan oleh peran “muswarah dan mufakat” sebagai bentuk konsesus untuk menyatukan berbagai perbedaan yang ada. Beragamnya masyarakat keagamaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia mendorong semangat bermusyawarah-mufakat yang sudah lama menjadi tradisi masyarakat muslim Indonesia. Tradisi tersebut berkembang menjadi tradisi bangsa Indonesia yang mau dan mampu menghargai semua perbedaan agama dan kepercayaan yang ada di Indonesia yang lainnya sehingga menghasilkan sebuah kesepakatan yang mendamaikan dan mempersatukan.

Bacaan Lainnya

Menurut Mahbubani “Musyawarah” dan “Mufakat” ini sangat penting bagi keberlangsungan Indonesia yang pada gilirannya memberikan semangat kebersamaan negara-negara asia tenggara untuk bersatu, yang pada gilirannya pula dipasarkan di seluruh kawasan asia-pasifik.

Dia mengatakan, “Dalam ASEAN, sebuah kultur damai telah berkembang sebagai hasil penerapan budaya Indonesia “Musyawarah dan Mufakat”. Sekarang ASEAN telah memperkenalkan budaya damai ini ke kawasan Asia-Pasifik yang lebih luas.

Tidak mengherankan jika Singapura sangat mendukung sekali keberadaan ASEAN sekaligus sangat berterima kasih dengan kultur Indonesia yang disebarluaskan di kawasan sekitarnya, sehingga kebersatuan bangsa-bangsa asia tenggara bisa terlaksana dan bisa berjalan dengan baik, kendati pada awalnya dipecah belah oleh sistem colonialisme-eropa.

Vietnam yang komunis, dan negara disekitarnya (Laos, Myanmar, Kamboja) pun diterima menjadi anggota ASEAN tidak lain dan tidak bukan karena semangat Indonesia yang menghargai perbedaan dan menyatu dalam perbedaan tersebut menjadi satu wadah. Dengan semangat religiusnya, Pancasilanya Indonesia bisa menerima negara-negara lainnya untuk menjadi saudara dan bersatu dalam satu kawasan yang membangun.

Dan kondisi inilah yang membuat iri kawasan-kawasan lainnya, alih-alih masih tarik ulur dengan adanya perbedaan dan sifat “agresif” masa lalu (perang) yang menghinggapi pikiran bawah sadar para pemimpinnya, seperti India dengan Pakistan, Amerika dengan Meksiko dan juga Kanada, atau juga pula Jerman-Eropa dengan Rusia-Slavia yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang bayangan Perang Dunia II. Bahkan kawasan asia timur pun iri dengan “perdamaian asean” yang dibuktikan dengan kewaspadaan (militer) Jepang terhadap (invansi) Tiongkok, terbelahnya Korea menjadi Utara dan Selatan, dan terjepitnya Mongolia dan Tibet dalam percaturan di kawasan tersebut.

Membendung Radikalisme-Global

Masyarakat berketuhanan yang dibangun oleh Pancasila dalam wadah negara kesatuan Indonesia juga efektif untuk membendung pengaruh radikalisme-global akibat kemenangan ISIS dan Taliban di Afghanistan.

Walaupun ISIS sudah dikalahkan di Suriah-Irak (pada 2018) tetap saja mereka beroperasi dan bergerak di beberapa kawasan Dunia Arab (Libya, Sudan, sebagian Suriah-Irak dan Iran) dan tetap melakukan teror, alih-alih mereka mendirikan negara tanpa kawasan dan terus melakukan rekrutmen anggota. Taliban, akhir 2021 juga sukses menggulung pasukan Afghanistan bentukan Amerika dan menyingkirkan NATO pulang ke negerinya masing-masing.

Simpatisan ISIS dan Taliban banyak menyebar di Indonesia, mereka berafiliasi dengan Partai berbasis Islam dan Ormas Radikal yang anti-NKRI. Mereka melakukan rekrutmen dan mempengaruhi berbagai kalangan pemuda muslim untuk mendukung Gerakan mereka. Akan tetapi dikarenakan masih kuatnya semangat “berketuhanan dalam perdamaian” masyarakat Indonesia dan kuatnya tradisi keagamaan di Indonesia maka ideologi radikal-agama tersebut kurang laku di negeri ini dan tidak mendapatkan dukungan secara penuh.

Pada akhirnya, benih-benih ISIS dan Taliban hanya menguap dan tinggal menjadi utopia beberapa ormas (figure tertentu) yang kehilangan posisi dan tidak mempunyai pengaruh di hati masyarakat (muslim) Indonesia yang moderat dan lebih memilih Pancasila. 

Menjadi bangsa Indonesia sungguh beruntung dalam satu hal, yaitu tetap menjadi negara yang modern (Demokratis-Republik) sekaligus tetap bisa menjalankan kehidupan ber-Ketuhanan dengan kepercayaan masing-masing yang dihargai dan dihormati dalam naungan ideologi Pancasila.

Ini merupakan kekuatan yang sangat “dasyat” sebagai modal untuk membangun Indonesia kini dan di masa depan, karena selain sudah terbukti memberikan (1) ketahanan goncangan politik internal, (2) menginspirasi perdamaian di kawasan juga bisa (3) menahan pengaruh radikalisme global, baik militer, budaya maupun ekonomi.  

Agenda selanjutnya, bagi bangsa Indonesia ideologi Pancasila harus tetap menjadi inovasi pembangunan bangsa dengan tetap melibatkan agama-agama dan kepercayaan yang ada di banak masyarakatnya, sebagai spirit pembangunan dan menjaga perdamaian. Dan bagi kawasan dunia, Pancasila sudah saatnya di pasarkan ke seluruh dunia seiring dengan menyebarnya pasar bebas dan internet yang massif dan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dunia.

Waallahu’alam bisshowaf

Pos terkait