Berbuat Baik-lah pada Semua Orang, Niscaya akan Dipertemukan dengan Orang Baik dan yang Menjaga Hubungan

Ditempat kerja, tidak selamanya kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik, ada yang culas, bermuka dua, suka mengaduh domba dan berkarakter hianat. Akan tetapi orang yang berbuat baik pasti akan menemukan orang yang baik, jadi tetap berbuat baik lebih menguntungkan dari pada balas dendam atas penghianatan.

Jangan menyerah untuk berbuat baik, jangan putus asa untuk berbuat baik kepada semua orang dan jangan lupa berbuat baik untuk mendapatkan “yang terbaik”, walau terkadang kenyataannya pahit dan realita yang kita hadapi sungguh menusuk hati.

Ingatlah bahwa kebaikan tetap akan mendapatkan ganjarannya dan sekaligus pula tantangannya, semakin berat tantangan yang dihadapi maka semakin besar pula ganjaran yang akan diperolehnya. Semakin kecil dan ringan sebuah tantangan dalam berbuat baik maka semakin ringan pula ganjaran yang akan diperolehnya.

Bacaan Lainnya

Berbuat baik memang tidak semuanya akan mendapatkan balasan “yang baik” dari orang yang kita ajak baik-an, terkadang mereka memanfaatkan kebaikan kita sebagai “kelemahan” dan menggunakannya untuk menjatuhkan kita. Hal itu sudah menjadi kenyataan hidup bahwa “kebaikan” akan selalu mendapatkan balasan yang “belum baik”` sebelum “akan menerima” ganjaran yang baik.

Jangankan kita, sekelas Rasulullah dan para sahabatnya saja, kebaikannya selalu disertai dengan berbagai rintangan dan balasan yang “tidak baik”. Orang-orang yang diperlihara oleh Rasulullah ada juga yang berbuat jahat dan bahkan berkeinginan untuk menyingkirkan Rasulullah. Artinya apa, ternyata sudah menjadi sunatullah (hukum alam) jika kebaikan akan mendapatkan godaan dan cobaannya sendiri sebelum balasan kebaikan itu akan diterima.

Hal penting yang perlu diingat dalam “berbuat baik kepada semua orang” adalah bahwa kelak di masa depan (tidak jauh—sepanjang kita masih hidup) pasti akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik. Orang yang berbuat baik seperti orang yang membawa sinar elektromagnetis—yang akan mencari gelombang frekwensi yang sama dengan kekuatan yang sama baiknya untuk dipertemukan. Orang yang baik—berbuat baik kepada semua orang, pastinya akan bertemu dengan orang-orang yang baik.

Orang yang baik ada kaitannya dengan “menjaga hubungan”, yang tetap akan dijalin dengan kebaikan pula dan dibentuk dengan keharmonisan komunikasi. Hubungan yang baik akan tetap dipelihara dengan teman-teman yang memang baik dari awalnya dan niatnya, dan sebaliknya hubungan yang buruk akan dibentuk oleh teman-teman atau orang-orang yang niat pertemanannya diikat oleh kepentingan.

Menyikapi “balasan buruk”

Sungguh sangat jahat dan kejam, seorang teman yang awalnya adalah “gelandangan” yang tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti situasi nasibnya sendiri tiba-tiba menghianati temannya sendiri yang telah menemaninya, mengawalnya tumbuh, dan menjadikannya orang yang bahkan “punya pekerjaan” serta diakui oleh sebuah intitusi.

Sungguh kejam dan biadab, seorang teman yang sudah menerima kebaikan temannya, menerima dirinya sebagai saudara sendiri, menjadikannya partner kerja dan mengawali sesuatu untuk tumbuh bersama, tiba-tiba karena sebuah “peluang” dan “rencana untuk memperkaya diri” berani untuk meninggalkan sahabatnya dan memilih jalan lain yang dianggapnya “lebih menguntungkan”.

Banyak orang yang menerima sebuah penghianatan dari temannya sendiri atau dari partner kerjanya, akibat dari perubahan sikap temannya yang melihat “dirinya kurang menguntungkan” jika terus menerus Bersama sahabatnya itu. Orang jenis ini biasanya mengalami lima hal, yaitu (1) ingin cepat kaya, (2) hanya berteman untuk mendapatkan kerja, (3) menemukan tempat yang lebih menguntungkan, (4) perbedaan orientasi hidup, dan (5) pengaruh pasangan.

Dengan orang jenis itu kita harus “tetap berbuat baik” tapi dengan penuh waspada dan hati-hati, tidak perlu terlalu direspon terlalu serius atau ditanggapi dengan berlebihan, yang penting “kita tidak berbuat jahat” kepada mereka itu sudah cukup.

Orang yang berpotensi berhianat terhadap temannya atau terhadap orang yang pernah berbuat baik “pastinya” tidak akan lagi menemukan kebaikan dari orang lain, kemana-mana dia akan menemukan keburukan dan penghianatan yang sama dari orang yang berbeda yang akan ditemuinya kelak di masa depan. Artinya, biarkan saja mereka yang berhianat dan melakukan “balasan jahat” kepada kebaikan kita, asalkan kita tidak berbuat buruk dan tetap baik dengan mereka.

Hadapilah dunia yang keras

Ingatlah bahwa dunia ini pasti akan mengalami seleksi alam, yang akan melibatkan datang, pergi dan hilangnya seseorang dari hubungannya dengan orang lain. Dunia selalu memberikan sebuah arena pertarungan dari setiap individu, antara bertahan dengan hubungan baik dengan temannya atau merusak hubungan tersebut menjadi sebuah permusuhan.

Dunia tidak semata-mata “kenikmatan” saja, tapi justru sebaliknya adalah sebuah rasa “jijik dan kotor” yang menjadi realita “yang pasti” yang harus dilalui oleh setiap manusia dengan manusia yang lainnya. Adakalanya hubungan itu akan tetap baik saat dibentuk dengan kebaikan, ada pula yang akan berubah buruk walaupun dibentuk dengan kebaikan, ada juga yang baik walaupun awalnya dibentuk dengan kejahatan—dengan yang terakhir ini biasanya adalah sebuah kompromi dari sebuah jalan bentuk yang sudah saling menyakitkan seperti konflik perang atau rusaknya komunitas.

Ya, tetap berbuat baik kepada semua orang pastinya balasanya (akan) mendapatkan teman yang baik-baik dan yang peduli dengan keadaan dan kondisi kita. Kita akan menemukan orang yang baik, walaupun mereka sedikit, cuma satu, dua atau lima saja—namun teman yang sedikit inilah teman yang benar-benar berkualitas dan sangat menyertai diri untuk bertumbuh bersama.       

Berbuat baik dengan semua orang tidak bisa lepas dari sikap “sabar” dalam segala hubungan dengan manusia. Tidak semua orang bisa baik kepada kita, dan kita tidak patut menuntut balasan baik mereka karena sebuah alasan “kita pernah berbuat baik”. Hanya bersabar sajalah yang perlu kita perkuat dalam diri kita sendiri, semoga ada “jalan terbaik” yang akan mempertemukan kita dengan orang yang baik, yang akan memberikan kebaikan kepada kita.

Well, jangan menyerah untuk berbuat baik, baik bisa jadi balasan berbuat baik itu “tidak kita terima”, tapi (di masa depan) akan diterima oleh anak-anak kita kelak, cucu-cucu kita kelak dan seluruh anak-cucu keturunan kita yang paling bawah hingga tujuh keturunan.

Sakit, jelas sungguh sakit saat kita mendapatkan penghianatan dan balasan buruk dari semua kebaikan yang kita (pernah) lakukan pada orang yang menghianati kita itu. Namun kita harus ingat pula bahwa mereka yang memberikan balasan buruk tidak lama pasti akan menderita dan bisa jadi lebih “tragis nasibnya”.

Maka, kita tetap baik-baik saja dengan diri kita sediri, walau mendapatkan timbal balik buruk dari orang yang kita baiki. Karena orang yang tetap baik dengan dirinya tentu akan tetap “menemukan” orang-orang yang terbaik baik bagi dirinya.

Jika setuju dengan opini saya, silahkan didiskusikan di kolom komentar ya.

Pos terkait