Syawariqul Anwar; Inspirasi dari Kitab Pemberian Sang Kiai

Suasana mengaji santri-santri syawariqul Anwar di Gunung Pendhil Paciran pada Ramadhan 1444 H di pagi hari

Abah Ghoni menerima kitab dari gurunya itu, Kiai Maimun Zubair, yang tipis dan kecil seukuran kitab “majmu’ syarif”. Walaupun kecil kitab itu sangat berarti dan sangat menginspirasi. Memberikan petunjuk yang mencerahkan sekaligus menciptakan imajinasi yang membangun.

Di dalam lemari koleksinya Abah Ghoni masih menyimpan kitab tersebut, selalu membukanya jika waktu senggang memberikan kesempatan untuk membacanya, dan senantiasa menjadikannya pengingat untuk tetap merasa bersama sang guru—kendati kiai Maimun Zubair sudah berpulang dan dengan nyaman ditempat peristirahatannya.

Bacaan Lainnya

Disampulnya kitab itu dengan jelas tertulis judulnya, sebuah judul yang tidak jauh dari makna pengembangan ilmu dan menyebarnya kebaikan agama. Sebuah nama yang jelas mendorong lahirnya semangat berfikir dan gairah membuka cakrawala keilmuan, Syawariqul Anwar.

Ya, kitab itu berjudul “Syawariqul Anwar”. Sebuah nama yang mengisyaratkan sebuah petunjuk dimasa depan untuk menciptakan sumber keilmuan baru dan melahirkan mercusuar gagasan-gagasan kebaikan dan tingginya ajaran islam—disamping adanya pesantren al-Anwar Sarang sendiri yang menjadi tempatnya belajar abah Ghoni dahulu.

Dan, ketika waktu “yang diisyaratkan” itu telah tiba, atau apa yang didoakan oleh kiai Maimun Zubair dengan memberikan kitab kecil tersebut kepada Abah Ghoni sudah waktunya “ada”, maka judul kitab tersebutlah yang menjadi nama bagi sebuah pesantren yang berdiri di lereng pegunungan pendhil yang legendaris itu.

Sebuah nama yang sudah jauh, sudah lama dan sudah “di-ada-kan” untuk dipersiapkan di masa yang tidak pernah bisa diramal, namun perwujudanya jelas dan pasti terjadi. Apa yang kita ketahui dengan berdirinya pondok pesantren di lereng pegunungan pendhil dengan nama Syawariqul Anwar, yang diasuh oleh Abah Ghoni bukanlah sebuah kebetulan, atau sebuah gagasan yang lahir dari ruang kosong tanpa makna—tanpa energi inspiratif.

Tapi melalui proses panjang yang istiqomah, kesabaran dalam menyebarkan kebaikan, konsistensi didalam pengkajian keilmuan, dan penelusuran jalan panjang untuk senantiasa membagikan ketinggian islam di suatu masyarakat yang siap untuk menerimanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *