Mengapa Pancasila Tidak Sama dengan Ideologi Negara-Bangsa yang lebih Tua dan Berpengalaman?

Musyawarah adalah ciri utama masyarakat muslim Indonesia untuk mengajarkan nilai-nilai pancasila yang diinternalisasikan dengan ajaran-ajaran Islam, menjadi sebuah ideologi kenegaraan-kebangsaan yang berbeda dengan bangsa besar lainnya.

Indonesia dilahirkan Pasca Perang Dunia II yang merupakan wujud dari kemenangan Demokrasi Liberal dan Sosialis-Komunisme. Dua ideologi ini sama-sama menganut filsafat Eksistensialisme Humanis dan ideologi Sekulerisme yang meniadakan peran “Tuhan” dan Agama dalam urusan negara dan urusan kehidupan sehari-hari penduduknya. Kendati demikian, antara Demokrasi Liberal dan Sosialis-Komunisme merupakan Gerakan yang saling berbenturan—sekaligus sangat sulit untuk dipersatukan.

Lahir dan hidup diantara dua ideologi yang berbenturan inilah Indonesia “dituntut” untuk melakukan Gerakan inovatif dalam membangun negaranya yang baru lahir dan sekaligus merawat keanekaragaman yang telah dimilikinya. Maka lahirlah gagasan Pancasila, yang tidak mengekor pada gagasan Nasionalisme yang lahir dari Eropa—alih-alih melahirkan Nasionalisme versinya sendiri yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.

Bacaan Lainnya

Yang membedakan antara Pancasila dengan ideologi-ideologi Nasionalisme Demokrasi Liberal dan Sosialis-Komunisme adalah tentang Ketuhanan. Dissatu sisi Pancasila lebih mengutamakan adanya Tuhan dalam menjalankan semua aktivitas kehidupan negaranya, sedangkan disisi lain dua ideologi ciptaan bangsa Eropa tidak ada sama sekali peranan Tuhan.

Disinilah tiitk penting keberadaan Pancasila sebagai sebuah ideologi, yaitu mengedepankan peranan Tuhan dalam membangun negara dan mengisi keberlangsungan kehidupan ber-negara. Peranan Tuhan sangat penting bagi bangsa Indonesia untuk menciptakan identitas Nasionalisme yang berbeda dengan bangsa-bangsa Eropa (penjajah) yang anti-Tuhan dan menghapus posisi agama dalam ber-negara.

Ber-Negara dan Ber-Agama

Kendati bukan negara agama, bukan negara Islam yang merujuk pada masa klasik peradaban Islam—yang diusulkan oleh kelompok islamis, atau mengikuti pola berdirinya negara-negara Arab yang masih memegang kesukuan, Indonesia merupakan negara yang hidup melebur dan menyatu dengan agama yang sudah dianut oleh penduduknya.

Nasionalisme Pancasila tidak mengedepankan agama tertentu—mayoritas Islam—sebagai sebuah ideologinya, tapi memisahkan antara agama dan negara yang tetap bergandeng renteng dalam membangun negara dan merawat masyarakat beragama di dalamnya.

Nasionalisme Pancasila tidak menyatakan dirinya sebagai negara agama atau anti agama, tapi sebuah negara yang menghargai dan menjunjung tinggi keberadaan agama dan Tuhan sebagai entitas penting kehidupan masyarakat Indonesia, dengan tetap menjadikan negara sebagai wadah yang mengayomi masyarakat beragama dan kepercayaan yang dipeluknya.

Pancasila mengakui semua agama yang sudah ada dan dipeluk oleh masyarakat Indonesia sebagai bagian penting bagi eksistensi Pancasila itu sendiri, sehingga dalam sila pertamanya Pancasila menggunakan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai pondasi awal membangun dan mengisi kemakmuran bangsa Indonesia.

Keberadaan masyarakat ber-Ketuhan-an sangat penting bagi Pancasila untuk menjadi sebuah ideologi bangsa yang baru lahir dari kemelut Perang Dunia II dan menghadapi Perang Dingin yang sedang berlangsung waktu itu. Bahkan hingga kini, Pancasila merupakan pondasi yang sangat relevan bagi kondisi kontemporer Indonesia pasca 9/11 yang “melibatkan” posisi muslim identik sebagai teroris dan menggerakkan sebuah gerakan anarkhis para islamis-radikal untuk melakukan berbagai kekacauan di wilayah (muslim) yang invansi Amerika atau disulut perang oleh negara adikuasa itu.

Dengan adanya Pancasila yang ber-Ketuhan-an mampu menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang beranekaragam dan hidup dalam satu kesatuan bentuk negara—NKRI, yang sekaligus bisa merawat dan menghargai beragam perbedaan yang sudah ada dan yang semakin berkembang dinamis mengikuti gerak zaman.

Dengan kata lain, kehidupan negara Indonesia dengan ideologi Pancasila-nya telah membentuk suatu bentuk negara yang modern (mengikuti pola-pola negara-negara yang lainnya) sekaligus tetap menjaga masyarakat religiusnya untuk terus tumbuh dan berkembang dengan baik.

Ber-Tuhan dalam Negara

Sejak dulu masyarakat Indonesia sebelum adanya “Indonesia sebagai negara” sudah menyakini dan menyembah dzat tertinggi yang mengayomi kehidupan masyarakat Indonesia. Mereka tersebar diberbagai daerah dan pulau-pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Islam sebagai mayoritas, tapi agama lainnya dan kepercayaan lama tetap menjadi bagian penting dari masyarakat Indonesia.

Sejak zaman Nabi Adam hingga zaman runtuhnya Atlantis kawasan Indonesia merupakan sebuah kawasan yang menganut kepercayaan tentang adanya Tuhan dalam kehidupan sehari-hari yang menggerakkan alam semesta seluruhnya. Selain tujuh agama yang diakui sebagai agama masyarakat (bukan agama negara) Indonesia, juga ada kepercayaan-kepercayaan lokal yang masih berkembang dan terus diamalkan oleh para pemeluknya di pedalaman-pedalaman. Mereka semua menyakini tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa yang bisa memberikan petunjuk secara kasat mata terhadap Nurani dan pikiran manusia.

Hingga kini, masyarakat Indonesia identik dengan melekatnya kepercayaan terhadap Tuhan dan tradisi agamanya masing-masing yang sudah lama berkembang dan diamalkan oleh bangsa Indonesia. Karena beragamnya kepercayaan-agama yang dimiliki oleh penduduknya itulah, para pendiri bangsa ini menggunakan nama “Indonesia”, bukan Jawa, Sumatra, atau Hindia-Belanda, sebagai nama negara barunya untuk tetap bisa merawat dan menjaga keanekaragaman yang dimilikinya itu, sekaligus mengajak masyarakatnya untuk membangun negara dengan spirit keagamaannya masing-masing. 

Pos terkait