ROMADLON SABTU BERKAH, SANTRI BEROX SWADAYA BERKUMPUL DI MAKAM GURUNYA

Para Santri Berox yang hadir dalam acara Romadlon Sabtu Berkah dan Refleksi Santri "Masa-Masa Indah Bersama Abah" sedang menjalani berbuka bersama dengan makan satu daun pisang bersama. lauk rajungan goreng, pelas palang, krupuk ikan dan pelas udang menjadi menu yang sangat menyenangkan proses berbuka pada sore 23 Maret 2024 itu.

Waktunya telah ditentukan jauh-jauh hari, sabtu wage 23 Maret 2024, tepat pada 12 Romadlon 1445 H para santri berox bergerak dengan antusias dan penuh semangat berkumpul di makam guru ngaji qur’annya. Seperti terbakar api semangat dan keganasan angin musim ini para santri berox melakukan swadaya berbagai makanan-minuman untuk menjadikan pertemuan ke-II mereka menjadi mengasyikkan dan seru.

Fakhruddin: dari Ujungpangkah (Gresik), bergerak pulang ke Lembor (Brondong) hanya untuk menggoreng rajungan yang baru diperolehnya dari melaut. Rajungan goreng itu khas rasanya, guring, renyah dan ada rasa minyak lezat yang menyertainya. Setiap bibir yang menguyah rajungan itu akan mengatakan bahwa itu makanan yang sangat lezat dan memuaskan. Dia juga tidak lupa menyertakan jambu air yang sangat segar, warnanya merah dan body-nya gendhut-gendhut, ditambah dengan kerupuk ikan yang renyah—menjadi pelengkap buka bersama sore itu.

Bacaan Lainnya

Sifyani: datang belakangan dari Tuban dengan membawa dua botol legen khas Panyuran. Legen asli yang baru turun dari pohonnya dan mengalami proses rumit untuk bisa dinikmati. Satu botol habis, dan satu botol lagi diminta oleh kawannya untuk menjadi oleh-oleh istrinya.

Mulyakin: rela membatalkan jadwal mengajinya di pondok pesantren tahfidzil qur’an di Kradenan (Palang), ia membawa satu dus air mineral untuk melengkapi kebutuhan minum, membuat kopi-teh, atau sekedar untuk mengawali berbuka.

Edi Tsalis Fuadi dan Iqbal: dari Surabaya-Gresik mereka berduaan naik motor, rela pulang lebih cepat dari jam kerjanya di pabrik tempatnya bekerja (Edi) dan rela tidak beraksi dengan aplikasi Grab-nya (Iqbal) dikala rame-ramenya kota Surabaya pada jam pulang kerja, mereka berdua menembus kemacetan menuju Paciran dengan membawa aneka snack, roko dan kue yang lezat.

Syihabuddin: pelas (Palang), gimbal urang, botok telur rajungan, kompor portable, gelas-gelas, dan panci dijadikan satu dalam tas besar, diselipkan ditengah-tengah motor dan dibawa ke lokasi makam Abah Bihin untuk bisa dinikmati bersama teman-temannya. Perlengkapan ini sangat menunjang untuk bersantai bersama selepas berbuka, dari membuat kopi hingga membuat teh panas.

Imam Wahyono: awalnya hanya menyediakan es blewah dan gorengan, namun dia melihat daftar makanan yang masih ganjil dan belum lengkap. Dalam daftar makanan belum ada buah dan nasinya, ia langsung berkoordinasi dengan istrinya untuk segera menanak nasi secukupnya dan menyediakan semangka sebagai kelengkapan kesegaran berbuka.

***

Syihabuddin datang pertama, menyapu dan mencabuti beberapa helai rumput di makam. Disusul Mulyakin yang membatalkan jadwal mengajinya. Lalu Fakhruddin yang dengan santainya menikmati gairah sore itu dengan kelelahannya bekerja. Kemudian Imam Wahyono menyusul hadir, Iqbal dan Edi berboncengan juga menyusul, dan terakhir Sifyani tepat kurang dari 5 menit adzan maghrib berkumandang.

Gus Is’ad menyusul datang atas nama keluarga nDalem dan manajemen pondok pesantren al-Ibrahimy Legundi, sekedar untuk memberikan support dan memberikan dukungan atas adanya perkumpulan di makam abah Bihin ini. Lalu Kawakib juga datang, santri Romadlonan di Syawariqul Anwar yang membantu kebersihan dan melakukan dokumentasi kegiatan.   

Acara diawali dengan membaca tahlil untuk almarhum abah Bihin. Dilanjutkan dengan berbuka puasa sepuasnya. Lalu sholat maghrib berjamaah dengan Wahyono sebagai Imam-nya, dan dilanjutkan dengan acara inti; refleksi santri dengan tema “Masa-Masa Terindah Bersama Abah”.

Pada acara inti inilah semua santri bercerita, mengisahkan kenangan-kenangan terindahnya bersama Abah selama belajar di Legundi. Semua kisahnya mengarah pada bentuk “kasih sayang dan kesabaran” Abah Bihin dalam mendidik para snatrinya (para snatri berox) untuk menjadi anak-anak yang berguna dan bermanfaat di komunitasnya masing-masing.

Fahkruddin merasa beruntung dengan nasehatnya abah menjelang berjuang di tanah rantau Kalimantan, Mulyakin merasa mendapatkan bimbingan dalam akad nikahnya secara ruhani saat abah sudah berpulang—dengan bekal jas-nya abah yang telah diberikan oleh Ama Tuchah, Imam Wahyono merasakan bahwa satu-satunya orang yang memperjuangkan dirinya untuk eksis dalam menghafal al-Qur’an dan mendapatkan pekerjaan adalah abah, Iqbal merasa beruntung menjadi keponakan sosok abah Bihin, Edi merasakan bahwa apa yang diajarkan oleh abah adalah sebuah bekal yang layak untuk menjadi manusia yang bermanfaat, dan terakhir Sifyani merasakan jika tokoh Paciran di wilayah Jetak yang sesungguhnya adalah abah Bihin—selain abah Ghoni dan Mbah Wahab—yang sangat berpengaruh dan dirasakan kemanfaatannya oleh orang Paciran.  

Acara ditutup dengan jamaah sholat isya’, tapi tarawehnya sendiri-sendiri di rumahnya masing-masing karena beberapa kawan rumahnya sangat jauh—Surabaya. Dan selepas acara malam itu, Mulyakin mengatakan “Alhamdulillah, selesai acara ini hati terasa tentram, ayem. Semoga saja hal yang saya rasakan ini dirasakan oleh kawan-kawan yang lain dan bisa terlaksana kembali jika saudara-saudara tidak ada halangan”.       Pertemuan Santri Berox ke-II ini adalah sebuah keberhasilan dari sebuah koordinasi yang matang, komuniksi yang hangat dan tentunya kegirangan untuk berkumpul bersama sekedar melepaskan gurauan. Kedepan agenda akan dipersiapkan secara rapi dan mengasyikkan, sehingga gairah untuk hadir semakin meluap-luap dari para santri Berox. Wallahu’alam bishowaf.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *