Viral Di Mata Manusia, Belum Tentu Viral di Sisi Allah

Para Santri dari TPQ Dziya'ul Ulum Setro Ketambul Palang sedang berpose di serambi masjid Desa Ketambul

Polusi informasi, polusi identitas, dan penyakit “memberi kabar” adalah sebagian deretan rasa sakit yang diderita oleh masyarakat abad-21 ini. Dan hal itu berangkat dari istilah “viral”.

Istilah Viral dewasa ini menjangkiti penyakit siapa saja yang bisa memegang android dan mengendalikan internet. Media virtual, seperti facebook, tik-tok, twitter, group watshapp dan Instagram menjadi palagan baru, lapangan baru untuk tampil sesuai dengan apa yang diinginkan.

Bacaan Lainnya

Ada peristiwa apa saja, yang bisa direkam dengan video atau dipotret dengan kamera maka akan dengan cepat menyebar dan diketahui oleh banyak yang memegang handphone cerdas.

Orang bodoh dan orang yang sangat tidak berilmu pun, asalkan lucu dan unik dewasa ini sangat mudah terkenal dan dikenal oleh banyak orang, kendati di rumah dia jarang bertemu tetangganya atau (sedang tidak baik) dengan saudaranya.

Viral juga menjadi penyakit bagi para wartawan media online yang tidak pandai menulis dan tidak gemar membuat tulisan berbobot, tapi memilih mencuplik berita dari berita yang sudah beredar—hanya untuk mengejar target dan memenuhi kewajiban sebagai pegawai saja untuk melancarkan “gaji cair”.

Apapun, yang mendapatkan like terbanyak pasti akan viral dan ramai menjadi perbincangan jagat internet. Orang-orang di internet saat ini mempunyai julukan yang konyol dan kurang tepat sebetulnya, warganet atau netizen.

Menjadi viral saat ini memang sangat menguntungkan. Tidak hanya saat ini saja pastinya, sejak dulu juga sudah begitu.

Orang yang viral tentu saja mempunyai banyak manfaat, bisa menjadi sponsor gratis, bintang iklan, namanya dikenal, mendapatkan kontrak dari perusahaan tertentu, dan bahkan bisa pula mendapatkan income dari pihak youtube atau facebook.  

***

Singkat kata menjadi terkenal, menjadi dikenal dan menjadi paling “tahu pertama” saat ini sangat muda dan siapa saja bisa mendapatkan “penghargaan”-nya sendiri. Di group watshapp, ada kecelakaan, orang langsung akan mengetahuinya karena salah satu anggota berada di lokasi atau mendapatkan kabar dari group lainnya.

Saya bisa katakan bahwa hari ini orang-orang sudah bangga dan merasa “berprestasi” jika membagikan hal-hal yang aneh, baru, sedang hangat, ramai diperbincangkan, dan tentunya “viral”. Ya, semua gila viral. Bahkan lucunya, beberapa media informasi saat ini kebanyakan menyampaikan berita dengan awalan “viral di media sosial”.

Capek deh, betul, saya sangat capek melihatnya.

Dan pastinya saya “menmakrukan” diri saya membaca berita-berita yang berkualitas rendah itu. Mau apa lagi, berita yang berdasarkan “viral di media sosial” tak ubahnya para “pelacur warta” yang hanya memanfaatkan “info-dari info-dari info ke info” demi kenikmatan dan keuntungan, bukan kebaikan dan hakekat kebenaran.

***

Siapa yang tidak suka terkenal? Semuanya pasti ingin terkenal. Entah menjadi youtuber, salebgram, facebooker, atau apalah, semuanya pasti ingin dikenal dan mendapatkan keuntungan dari kondisi “sampah informasi” ini.

Seorang yang bodoh, tidak bisa mengaji, tapi dia bisa melucu dan suaranya merdu pasti menjadi viralnya lebih cepat dan sangat banyak yang menggemarinya.

Sekarang ini, orang itu lebih suka bertemu dan berfoto dengan artis-artis youtuber atau salabgram dari pada bertemu dengan para ulama dan kiai. Sama dengan zamanya televisi, orang lebih bangga bertemu dengan artis sinetron, artis film, atau penyanyi dari pada bertemu kiai, gurunya atau ulama.

Padahal, tidak ada keuntungan apa-apa dengan bertemu para youtuber, bersalaman dengannya atau berbicara dengannya. Dosa, pasti.

Ya, pelacur juga terkenal di kalangan para pria hidung belang. Tapi apakah terkenalnya pelacur itu sebuah kebaikan? Tentu saja tidak.

Bintang porno, bom seks, mereka juga terkenal. Bahkan namanya selalu diabadikan dan menjadi perbincangan yang hangat dikalangan para lelaki hidung belang dan pria penikmat seks. Tapi apakah bertemu dengan para bintang porno itu merupakan sebuah kebaikan atau memiliki nilai “ibadah”? tentu saja tidak.  

Pejabat juga terkenal di mata masyarakat. Apalagi jika sedang mempunyai media yang baik untuk men-viral-kan pekerjaannya. Tapi apakah pejabat yang terkenal juga terkenal di mata Allah? Belum tentu, tapi penuh dos aitu sudah menjadi kepastian.

Anehnya, orang sekarang itu lebih bangga bertemu para pejabat negara dari pada para kiai atau orang yang berilmu. Jauh lebih bangga lagi jika bertemu dengan para youtuber atau salabgram.  

***

Saya tidak bermaksud menyalahkan para artis, para youtuber dan para pejabat. Saya cuma mengingatkan saja bahwa apa saja yang dilakukan oleh para youtuber, pejabat, dan artis lalu ada orang yang mengikutinya dan menimbulkan keburukan maka dosanya akan menumpuk dan mengakibatkan tersebarnya keburukan.

Dan pengaruh para artis media virtual lebih banyak keburukannya dari pada kebaikannya.

Saya tegaskan, bukan dikenal manusia adalah jalan hidup sebenarnya, tapi dikenal oleh Allah adalah tujuan dari hidup ini—hidup yang kita jalani ini.

Orang yang lagi viral dan menjadi bintang iklan atau bintang film atau bintang youtube belum tentu mereka dikenal oleh Allah. Bisa jadi Allah memberikan kemurkaan kepada mereka karena banyaknya kesalahan yang mereka lakukan dan lalainya mereka dengan posisi “viral”nya dirinya dan namanya yang dikenal.

Polusi informasi, polusi identitas, dan penyakit “memberi kabar” adalah sebagian deretan rasa sakit yang diderita oleh masyarakat abad-21 ini. Dan hal itu berangkat dari istilah “viral”. Silahkan and acari sendiri perkembangan dari “viral” ini. Lebih banyak mengakibatkan stress pikiran dari pada ketentraman hati.

Buktikan saja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *