MENGGAIRAHKAN RAMADHAN 1445 H, PESANTREN GUNUNG PENDHIL-PACIRAN MENGADAKAN KAJIAN TIGA KITAB MENARIK

Panflet yang mengajak para santri di seluruh wilayah Panturan tuban-lamongan-gresik untuk hadir di gunung pendhil mengkaji tiga kitab yang cukup menarik

Kenikmatan bulan Romadhan adalah bertualang dalam alam keilmuan dan intelektual. Gairah beribadah di bulan suci ditunjang oleh penelusuran akan kedalaman makna islam dan tafsirnya para ulama’ bisa menghadirkan kesenangan yang tak sampai pada takaran uang dan harta. Mereka yang sibuk bekerja dalam kondisi lapar berpuasa, tentunya lebih nikmat berangkat mengaji dan menghabiskan hari-hari dengan mengaji ragam khazanah keilmuan pesantren.  

Hal itulah yang sudah menjadi tradisi abah Ghoni, sapaan akrab KH. Abdul Ghoni Manan, S.Pd.I untuk menggairahkan Pondok Pesantren Syawariqul Anwar yang diasuhnya, setiap bulan suci datang dan menyambut semangat santri untuk menggali pengalaman mengaji.

Bacaan Lainnya

Setidaknya ada tiga kitab yang akan dikaji oleh Abah Ghoni langsung di Gunung Pendhil Paciran selama bulan Romadhan.

Pertama, Hikayat al-Ramadhan. Kajian kitab ini dilaksanakan setelah sholat shubuh sekitar pukul 05.00, tentunya setelah sahur dan kondisi tubuh masih mengantuk. Akan tetapi dengan mengaji kitab ini, rasa penasaran terhadap isinya akan mengalahkan rasa ngantuk dan menghilangkan kejenuhan suasana pagi tanpa sarapan.

Kedua, al-Riyadzh al-Badhi’ah. Kitab ini dikaji pada siang hari setelah dzuhur sekitar pukul 13.00. Sambil menikmati kondisi tengah hari yang panas (bisa jadi karena Paciran jarang hujan siang) tentunya akan memberikan kesan tersendiri yang sangat menyenangkan dan menyegarkan pikiran.

Kedalaman kitab ini (jelas) akan mengobati rasa lapar dan jenuh menghadapi lelah-lelahnya hari tanpa makan siang. Tidak peduli anda orang dewasa atau anak muda santri, mengikuti kajian siang hari kitab ini bisa memberikan ketenangan hati sambil menyambut datangnya angin sejuk di gunung pendhil.

Ketiga, al-Mau’idhoh al-‘Usfuriyah. Kisah-kisah yang mengagumkan yang dialami oleh ahli dzikir (para sufi) tersusun dalam keindahan kata dalam kitab ini. Apa yang tersembunyi dari para pecinta Allah telah disampaikan dalam kitab ini. Dan segala hal, yang bisa membimbing manusia untuk menemukan Tuhan-nya bisa diawali dengan kajian kitab ini.

Tepat sekali, kisah-kisah sufistik yang tersampaikan dengan ringan untuk menggantikan kegiatan konyol “ngabuburit” yang tanpa makna dan tanpa arti bisa dinikmati oleh setiap orang yang mengharapkan datangnya berbuka. Waktu berbuka pasti datang, kita tidak perlu menunggunya, yang artinya mengaji lebih baik dan lebih afdhol dibandingkan main handphone meramaikan media virtual dan menonton kekonyolan dunia.

Menyaksikan secara imajinatif kedalaman kitab yang dibaca setelah sholat asyar sekitar pukul 15.30 oleh abah Ghoni ini akan mendorong hati untuk tekun dan rajin menggairahkan Romadhon dengan kebodohan duniawi dan bermalas-malasan—alih-alih semakin rajin bangun malam dan semakin giat berdzikir.

Saya—selama mengikuti pengajian kitab ini cenderung rajin memanfaatkan tengah malam untuk memaksimalkan berdzikir dan qiyamul lain. Well, kitab ini menjadi rujukan utama para pengamal tarekat Naqsabandiyah.

Cukup Rp. 500.000

Ya, jika mengharapkan diri bisa bermukim sebagai santri yang menjalani “posonan” di pesantren syawariqul Anwar, cukup menyiapkan uang 500.000 rupiah, sudah termasuk biaya makan, biaya listrik, air, dan tiga kitab. Semua kalangan, santri junior maupun senior sangat dianjurkan untuk datang ke Gunung Pendhil dan mengikuti kajian tiga kitab ini. Dijamin tidak ada ruginya menikmati Ramadhan di gunung pendhil.

Dan bagi orang dewasa, yang mobilitasnya tinggi, mengaji dengan memilih salah satu kitab di salah satu waktu tersebut mungkin pilihan terbaik. Yang jelas, bisa hadir dan turut serta dalam kajian kitab ini adalah keuntungan yang mengesankan dalam menjalani bulan Romadhan 1445 H. Oke, selamat mondok posonan di Gunung Pendhil.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *