BADAI CINTA; Kisah Gadis Pesisir Membangun Mental (Part 6-Terakhir)

Perempuan selalu memimpikan kehidupan yang indah, dengan sosok pendampingnya yang ideal bagi hatinya. Hati perempuan sangat lembut dan bagaikan kaca, tidak mudah disakiti dan tidak mudah pula melupakan sebuah peristiwa.

 Sebuah pintu terbuka setelah beberapa kali diketuk.

“Pipit?” Kata Danang terkejut melihat siapa yang datang malam malam.

Bacaan Lainnya

“Danang, bisa tolong antarkan Aku ke stasiun Babat.”

“Sekarang?”

Pipit hanya mengganggukan kepalanya.

“Tapi ini sudah malam sekali Pit.”

“Aku sudah terlanjur memesan tiket, dan keretanya akan berangkat malam ini juga.”

“Memangnya Kamu mau ke mana sih? Kok pesen tiket kereta segala?”

“Aku bisa jelaskan nanti.”

“Bagaimana dengan juragan?”

“Sudahlah Nang jangan banyak tanya, lebih baik kita pergi sekarang.”

Entah apa yang mendorong Danang untuk mengikuti perintah anak dari Juragannya itu. Merrkapun berangkat dengan menggunakan motor yang pernah dipakai Arjun untuk mengantarkan Pipit di Manunggal.

 Ketika sampai di stasiun Pipit pun menceritakan semuanya pada Danang terkait keinginannya menjadi TKW dan tentu tanpa ijin kedua orang tuanya.

Kereta yang ditumpangi Pipit dengan tujuan pasar senin jakarta segera melintas, Pipit pun berpamitan dengan Danang.

“Aku pergi dulu Nang, jaga Ibu dan Bapak.”

Danang hanya mengangguk tak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya saat juragan tahu kalau dia sudah membawa lari anaknya dari rumah.

***

Untuk pertama kalinya Danang menginjakkan kakinya di kota Tuban, tapi tujuannya bukan kota melainkan desa di salah satu kota Tuban yang terkenal dengan mata pencaharian nelayan. Desa di kota Tuban ujung timur disitulah tujuannya. Saat turun dari Bus di alun alun segera Danang  mencari colt yang mengarah ke desa tujuannya.

“Blimbing…blimbing…” teriak salah satu kernet , Danang pun segera menghampirinya.

“Blimbing pak?”

Danang mengangguk, Ia pun menaiki mobil colt di depannya, karena tujuan itu juga yang akan mengantarkannya ke desa yang di tuju.

 Ternyata di dalam mobil sudah banyak penumpang, di sampingnya dua gadis berseragam putih abu abu sedang duduk di sana mungkin mau pulang.

Colt yang di tumpangi Danang pun berhenti di desa yang di tujunya, Danang segera turun bersamaan dengan itu kedua gadis berseragam SMA tadi juga ikut turun.

Meski baru pertama kali tapi Danang yakin di desa inilah yang sering di bicarakan orang orang perantauan untuk mengadu nasibnya. Dengan bantuan warga sekitar Danang pun di kenalkan dengan seorang juragan yang kapalnya sudah terkenal dengan penghasilannya.

 Sang Juragan menerima Danang bahkan Beliau pun memberikan tempat tinggal untuk Danang dan untuk anak perantauan lain yang ikut nelayan Kapalnya.

“Semoga Kamu betah di sini.” Kata sang Juragan memberi semangat.

“Iya pak!” Jawab Danang singkat penuh dengan keyakinan.

 Suatu hari saat sedang membagi uang hasil tangkapan ikan di rumah sang Juragan Danang di kagetkan dengan kedatangan seorang gadis dari dalam rumah dengan membawa teh, gadis itu tidak asing gadis SMA yang beberapa waktu pernah satu mobil dengannya. Gadis itu tak begitu menanggapi tatapan Danang, mungkin Dia lupa.

“Pipit, tolong suruh Ibu buatin kopi juga ya.”

“Iya pak.”

Semenjak hari itu Danang sering melihat Pipit diSemenjak hari itu Danang sering melihat Pipit di suruh Ibunya mengantarkan gorengan atau makanan ke rumah yang di tempati Danang, tanpa di sadari mereka pun akrab, karena ke akrab an itulah diam diam Danang menyimpan perasaan terhadap Pipit jauh sebelum Arjun yang akhirnya memenangkan hati Pipit.

***

Plak!!

 Sebuah tamparan mendarat di pipi Danang keras, Danang menunduk sekejap Ia tatap wajah laki laki yang menamparnya, wajahnya beda dengan hari hari sebelumnya yang halus dan pengertian, tapi hari ini wajahnya berubah penuh dengan kebencian.

“Kamu lancang Danang.”

“Maaf Juragan, Saya hanya…”

“Berhenti.. Andai Saya tahu mungkin Saya akan melarangmu Danang, tapi semua sudah terlanjur.”

“Maaf Juragan.”

“Mulai sekarang Kamu pergi dari sini.”

“Maksud Juragan?”

“Kamu Saya pecat, kemasi barang barang kamu.”

Sang Juragan berlalu dengan menahan amarahnya, meski sakit karena kepergian anaknya masih terasa.

 Danang masih berdiri di depan kontrakannya, memegang pipi bekas tamparan Juragannya, dari awal dia sudah siap mengambil resiko atas kesalahannya mengantar Pipit di Stasiun meski Ia harus kehilangan pekerjaannya. Untuk berganti Juragan tak mungkin Ia lakukan akhirnya kembali ke kampung halamannya adalah keputusan terbaik baginya.

  Rizky anak pertama sang Juragan menduduki posisinya sebagai kapten kapal menggantikan Danang, namun posisi tersebut justru membuat Rizky bersikap tak wajar sok berkuasa bukan hanya karena Dia kapten kapal tapi karena Dia juga anak seorang Juragan Dia sering mengatur ngatur anak buahnya. Hal inilah yang di inginkan Rizky dari dulu menjadi kapten kapal di samping gajinya yang sepuluh kali lipat di banding ABK biasa dia juga lebih layak menduduki posisi itu, namun Bapaknya justru lebih memilih anak perantauan itu daripada dirinya anaknya sendiri.

***

 Semenjak Kapal sang Juragan di pegang Rizky, pendapatan menjadi  turun, karena sikap Rizky juga banyak ABK yang turun dan berganti Juragan, hingga kapal pun tak memiliki anak buah yang akhirnya berujung nganggur tak berjalan.

 Sang Juragan menjadi sakit sakitan keluar masuk Rumah Sakit, karena tak ada pendapatan yang masuk terpaksa kapalpu di jual untuk biaya pengobatan sang Juragan, sementara Pipit Dia masih berada di penampungan para TKW dan menunggu panggilan kerja.

selasai

Pos terkait