Nasionalisme Pancasila Tidak Sama dengan Nasionalisme Eropa, Arab, India, Cina, Rusia dan Amerika

Pancasila yang dibuat oleh bangsa Indonesia tidak sama dengan nasionalisme yang dibuat oleh bangsa Eropa, Cina, Amerika, India, Arab dan bahkan negara-negara lainnya. Pancasila adalah renungan mendalam atas fakta keragaman beragama dan bersuku bangsa serta imajinasi membangun negara yang mandiri.

Sebagai ideologi baru (yang dibuat dengan racikan dan renungan orang Indonesia sendiri) tentu saja Pancasila berbeda dengan ideologi-ideologi nasionalisme yang telah dianut oleh bangsa-bangsa lainnya di belahan dunia. Pancasila tidak sama dengan nasionalisme yang ada di Eropa, Arab, anak Benua India Cina, Rusia dan bahkan Amerika.

Pancasila dan Nasionalisme bangsa Eropa

Bacaan Lainnya

Ide-ide nasionalisme lahir di negeri Eropa, ia menjadi semangat untuk menghancurkan kekuasaan Gereja dan kerajaan yang disongkongnya. Nasionalisme yang dilahirkan oleh bangsa Eropa melahirkan berbagai bentuk negara-bangsa yang memisahkan secara total urusan agama dan tata kehidupan ber-negara.

Hingga kini benua Eropa merupakan benua dengan wilayah yang sempit namun terdiri atas berbagai bentuk negara-negara yang kecil. Di Iberia saja ada Spanyol dan Portugal, di Britania ada Inggris, Wales, Skotlandia, lalu di Skandinavia ada Denmark, Swedia, Norwegia dan Finlandia. Di kawasan laut Baltik yang kecil ada Estonia, Lituania dan Latvia. Dan di bahkan pecahan Yugoslavia menjadi banyak negara.  

Dengan kata lain, Nasionalisme di Eropa telah memecah bangsa Eropa menjadi bagian-bagian kecil yang didorong oleh semangat negara-bangsa. Sedangkan nasionalisme-Pancasila di Indonesia menyatukan berbagai bangsa yang beranekaragam jenisnya.

Nasionalisme di Eropa juga menghasilkan benturan kepentingan dalam kehidupan masyarakat dengan ajaran-ajaran gereja yang sebetulnya sudah lama membentuk masyarakat Eropa. Gereja, atau agama Kristen sebagai kenyakinan bangsa Eropa—telah dirusak dengan lahirnya Nasionalisme. Dewasa ini pun masyarakat Eropa sudah tidak percaya lagi dengan kehadiran gereja atau agama Kristen di dalam kehidupannya, sehingga kehidupan mereka benar-benar tercerabut dari akar keagamaannya.

Pancasila dan Nasionalisme bangsa Arab

Jika Pancasila menyatukan berbagai keragaman dan perbedaan, maka nasionalisme yang dikembangkan oleh bangsa Arab justru memecah belah persatuan kesukuan bangsa Arab. Nasionalisme Arab melahirkan bentuk negara bangsa yang karut-marut peradaban modernnya dan masih banyak diselimuti dengan totalitarianisme yang berkembang, baik di negeri yang tetap menganut system monarchi atau negara yang menerapkan system republic.

Sebelum 1918, di zaman Usmani orang Arab menyatakan dirinya sebagai bangsa Usmani yang muslim dan sekaligus beragam serta tidak terikat dengan identitas tertentu. Namun pasca kekalahan Usmani dalam perang dunia I gagasan “Bangsa Arab” muncul dan merusak segala (persatuan)-nya.

Saat ini di Jazirah saja ada Arab Saudi, Qatar, Yaman, UEA, Bahrain dan Kuwait. Lalu di Afrika Utara juga, ada Tunisia, Libya, Maroko, Aljazair, Mesir. Di Levant ada Suriah, Iraq, Yordania, Palestina, Lebanon dan Israel (yang bergejolak).

Ironisnya, nasionalisme Arab juga membeda dirinya dengan orang Iran dan Turki yang sebetulnya juga berbahasa Arab. Bahkan orang Arab jazirah membedakan dirinya (sebagai Arab asli) dengan Arab lainnya (Arab asing). Bisa dikatakan, jika nasionalisme di Arab sampai hari ini masih menghasilkan perdebatan dan diskusi yang rumit tentang bentuk ideal negara.

Pancasila dan Nasionalisme bangsa anak benua Hindia

Pancasila juga tidak sama dengan Nasionalisme yang dikembangkan oleh bangsa Hindustan atau anak benua India, dimana nasionalisme Hindustan telah membelah antara komunitas Muslim dan Hindu, sehingga memecah komunitas yang sudah lama bersatu sejak kesultanan Mughal menjadi beberapa negara, yang meliputi India, Pakistan, Banglades dan Srilangka. Dalam perjalanannya negara-negara ini terus terjadi ketegangan di kawasan dan menimbul tarik menarik kekuatan global saat ini (Cina-Rusia dan Amerika).

Orang India membangun India dengan Nasionalisme-Hindu yang berbenturan dengan nasionalisme-Islam yang dianut oleh orang Pakistan dan Banglades. Kawasan Kashmir adalah wilayah yang terus bergejolak akibat diperebutkan oleh Pakistan dan India. Hal itu telah menunjukkan bahwa nasionalisme orang di anak benua tidak bisa menyatukan antara pemeluk Hindu dan muslim. Hal itu sangat berbeda dengan nasionalisme yang dibangun oleh Pancasila yang mampu menyatukan muslim dengan agama-agama lainnya.   

Pancasila dan Nasionalisme bangsa Tiongkok-Korea

Pancasila dan nasionalisme di Indonesia bisa menyatukan berbagai kepentingan dan perbedaan dengan terbentuknya system multipartai, yang menghasilkan banyak partai di negeri Indonesia. Pasca runtuhnya orde-baru (1997) saja ada 43 partai, dan hingga saat ini banyak partai yang tumbuh di Indonesia.

Hal itu berbeda dengan nasionalisme yang ada di Tiongkok dan Korea (Utara) yang menekan rakyatnya dan warganya yang beranekaragam hanya menjadi satu “pemikiran-paradigma”. Bangsa Tiongkok dan Korea memaksakan warganya untuk tunduk pada nasionalisme kasar satu partai yang ditekankan oleh negara. Perkawalanan atau perbedaan pendapat dengan pemerintah berakibat fatal dan hukuman yang sangat mengerihkan.   

Dengan kata lain, nasionalisme Tiongkok-Korea menghasilkan penindasan dan kekerasan yang berujung pada negara totalitarianism atau negara Partai dengan pemerintahan tangan besi.

Pancasila dan Nasionalisme bangsa Amerika

Pancasila menjadikan nasionalisme bangsa Indonesia yang beranekaragam menjadi satu bentuk negara kesatuan yang utuh dan tidak terpecah-belah, ada banyak partai yang menaungi banyak kepentingan masyarakatnya sehingga semuanya bisa diakomodasi dan dipersatukan. Hal ini berbeda dengan nasionalisme Amerika—sebagai teladan demokrasi—yang hanya membatasi warganya hanya pada dua partai (Republik dan Demokrat).

Nasionalisme Amerika yang dibangun atas dasar menyatukan dan menghargai beragam perbedaan yang dimiliki tidak bisa menyatukan bangsa itu menjadi negara yang bersatu—negara kesatuan, tapi negara-negara bagian yang dipersatukan dalam bentuk Federasi—yang diiikuti oleh Uni Eropa untuk menyatukan bangsa Eropa. Amerika terdiri atas 52 negara yang berbeda dengan mempunyai kebijakan yang berbeda-beda.

Isu-isu rasisme dan keunggulan ras juga masih menghantui masyarakat Amerika—kulit putih atas kulit hitam—yang membuktikan jika nasionalisme-nya gagal meredam egoism bangsanya.   

Pancasila sebagai pilihan ideologi bangsa Indonesia untuk menyatukan berbagai keragaman dan dialektika sekulerisme dan agama memang sangat ideal bagi bangsa Indonesia—hal itu sudah final dan tidak perlu diganggu gugat lagi. Apalagi jika dibandingkan dengan ideologi nasionalisme yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa lainnya, termasuk jika dibandingkan dengan nasionalisme bangsa Eropa, Pancasila mungkin saja jauh lebih baik dan lebih relevan diterapkan.

Kendati “bukan yang terbaik” Pancasila saat ini memang sangat layak diperjuangkan untuk menjadi bagian penting dari bangunan “Nasionalisme Indonesia”, yang tidak sama—jangan sampai sama—dengan nasionalisme bangsa Eropa, Arab, India, Tiongkok, dan Amerika. Dan seandainya diprediksi, maka di masa depan Nasionalisme bangsa Indonesia dan Pancasila sebagai ideologinya sangat memungkinkan bisa menyatukan negara-negara kecil lainnya—jika saja terjadi depresi besar di negara-negara tersebut atau kerusuhan besar yang memecah bentuk pemerintahan negara-negara disekitarnya.

Pos terkait