Cinta Diujung Senja; Derita Cinta Insan Nelayan (Part 1)

Ada moment-moment penting yang sangat berkesan bagi seorang perempuan saat menyaksikan pria yang dikasihinya tampil secara alami, yaitu bermain bola di tepi pantai sambil meneriakkan keriangan dan kesenangan. Cinta tidak selalu muncul karena kekayaan dan kemewahan.

kitasama.or.id – Sore yang ceria desauan angin sepoi menambah sejuk suasana pantai, meski bukan tempat wisata namun pantai ini sangat ramai, banyak anak-anak bermain dengan riangnya, ada yang main pasir, sepak bola, atau kejar-kejaran dengan temannya, bukan cuma anak-anak. Remaja orang dewasa juga datang sekedar jalan-jalan atau mengabadikan momen dengan berfoto.

Di tepi pantai nampak seorang gadis duduk dengan wajah yang murung, tatapannya jauh ke seberang, pikirannya melamun entah ke mana.

Bacaan Lainnya

“Makanya di rumah Aku cari tak ada, di sini rupanya.” Suara seorang gadis yang tiba-tiba membangunkan lamunannya.

“Apa lagi sih…may? masih mikirin Alex ya…”. Sambungnya lagi. Maya gadis yang diajak ngobrol hanya menatap wajah sahabatnya sebentar lalu kembali menatap laut.

“Bulan depan ulang tahun Aku.” Kata maya tanpa menatap wajah sahabatnya.

“Terus?”

“Dia pasti datang”

“Kamu yakin?”

Maya mengangguk pasti.

“Selama dua bulan kepergiannya, apa dia pernah kasih  kabar ke Kamu?” Tanya sahabatnya, maya hanya menggelengkan kepalanya sudah pasti jawabannya tidak.

“Lalu kenapa Kamu yakin banget kalau dia bakalan datang.”

“Dia…sudah janji Wid!” Jawab Maya meyakinkan Widya sahabatnya.

“Kita lihat aja apa dia bisa menepati janjinya toh… dia sering kan.. bohongi Kamu.”

“Entahlah Wid.”

“Udah mau maghrib nih…pulang yuk!”

Ajak Widya sekaligus mengingatkan kalau hari udah hampir gelap, Mayapun segera bangun dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya diikuti Widya.

Sebuah bola menggelinding tepat dibawah kaki Maya,

“Maaf… mbk.. bola saya.”

Maya mencari sumber suara itu, tepat di hadapanya seorang cowok  seumuran Alex meminta bolanya, Maya mengambil bola itu dan memberikannya tanpa mengatakan sepatah katapun dan melanjutkan perjalanannya. Cowok itu melihat dua gadis pergi melangkah jauh dari  pandangannya.

***

“Permisi…”

Suara seorang cowok yang mencoba membangunkan lamunan Maya. Maya menatap wajah itu.

“Masih…ingat dengan saya.”

Maya mengangguk ,wajah yang beberapa hari lalu meminta bolanya. Entah apa yang membuatnya tertarik untuk mendekati Maya.

“Aku Bara”.

cowok itu memperkenalkan diri.

“Maya.”

“Boleh aku duduk di sini?.”

Lagi-lagi maya hanya mengangguk.

“Koq sendirian aja teman kamu yang kemarin…”

“Widya…dia lagi keluar kota.”

“Aku sering banget lihat kamu duduk di sini sendirian, melamun terus emang kamu lagi ada masalah ya..”

Maya menatap wajah Bara penuh heran sok perhatian banget.

“Memang kenapa? Apa Kamu merasa terganggu dengan keberadaanku?” Tanya Maya cuek dengan tatapan sadis pada cowok di sampingnya.

“Haa..haa.. tidak juga.”

“Lalu Sebenernya mau kamu apa?, mau menambah masalah?” Maya marah-marah g jelas. Ia segera berdiri dan meninggalkan Bara, merasa tidak enak Bara mengejar Maya.

“Tunggu…Maaf Aku tidak bermaksud mau menambah masalah, ya..siapa tahu aja Aku bisa membantu Kamu.”

Maya menghentikan langkahnya, kembali menatap wajah Bara dengan tatapan aneh Sepertinya Bara paham sekali dengan tatapan itu.

“Eeemmm… begini kamu lihat itu.”

Bara menunjuk ke arah seberang, Maya mengikuti ke mana telunjuk Bara menuju, ada sebuah gubuk seperti warung.

“Itu warung ibuku, kalau tidak keberatan sekali-kali mampirlah dari pada ngelamun di sini dingin.”

Maya tak mengerti apa maksud Bara menunjukkan warung Ibunya, apakah itu sebuah tawaran supaya dia makan di sana atau bagaimana. Maya tak menggubris perkataan Bara Ia pun segera pergi meninggalkan Bara sendiri.

***

Bara melihat Maya berjalan ke pantai saat Ia tengah membantu ibunya membuka warung, Bara melihat jam dinding. Pukul 05:30 ini masih pagi sekali tapi gadis itu sudah ada di sana.

“Hai!” Sapa Bara, tapi Maya hanya menatapnya sesaat sambil duduk di bibir pantai memandang cakrawala menunggu fajar tiba. Bara pun duduk di samping Maya.

“Makanlah, ini terlalu pagi Kamu di sini. Aku yakin Kamu pasti belum makan kan?”

Maya menatap Bara lalu beralih ke bungkusan yang di bawa Bara.

“Ini buatan Ibuku, makanlah gratis kok.”

Bara tersenyum dan menyerahkan satu gorengan di hadapan Maya, Mayapun menerimanya.

“Terimakasih.”

“Sepertinya Kamu senang sekali melihat matahari, bukankah senja lebih indah daripada fajar?”

“Fajar juga indah jika Kita melihatnya lebih pagi, dan pulang sebelum ia benar benar membakar tubuh Kita.”

Bara hanya menganggukkan kepala sepertinya ia paham betul dengan maksud perkataan Maya.

“Kalau boleh tahu, Kamu lagi nunggu siapa?” Tanya Bara penasaran, Maya menatap Bara sambil memakan gorengan yang di bawa Bara tadi.

“Seseorang.”

“Apa orang itu begitu berarti dalam hidupmu?”

“Iya.” Jawab Maya singkat sambil menganggukkan kepala.

“Apa hanya dengan memandang matahari terbit dan tenggelam bisa membuat dia datang?”

“Tidak juga, tapi Aku akan terus menunggunya.”

“Lalu.. bagaimana jika dia datang?”

“Mungkin Aku akan mulai berhenti melihat fajar dan senja.”

Bara hanya mengangguk angguk tanpa terass gorengan yang di bawanyapun ludes habis termakan dan matahari mulai Menampakkan auranya.

“Bukankah itu indah.” Puji Maya sambil melihat matahari terbit di ufuk timur, Bara melihat senyum Maya begitu mempesona.

“Apa Kamu senang?”

“Aku tidak hanya senang, tapi Aku juga merasa tenang tiap kali memandangnya.”

Bara tak henti hentinya memandang wajah Maya yang terlihat berseri seri, namun hal itu tak membuat dia luput dari kegalauan, sepertinya Bara tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengobati kegalauan itu.

“Kamu tahu gak ada hal menyenangkan lagi yang bisa kamu lakukan daripada melihat matahari.”

“Apa?” Kata Maya memandang Bara tak mengerti.

Bara menghela nafas ia pun mulai berdiri dan mengulurkan tangannya.

“Ayo.”

“Ke mana?”

“Ayolah.”

Karena penasaran Mayapun meraih uluran tangan itu dan mengikuti kemana langkah Bara pergi. Bara menuruni tanjakan dan menuju ke pasir pantai. Bara melepas sandal jepitnya.

“Ayo lepas sandalmu!” Pinta Bara supaya Maya melepas sandalnya juga.

“Hahh?”

“Sudah lepaslah.”

Maya pun menurut, Bara segera menarik tangan Maya menuju gelombang air laut.

“Ahhh… Bara.. ini dingin banget.” Jerit Maya saat kakinya tersentuh air dan berlari ke tepi pasir pantai.

Bara menghampiri Maya dan menariknya lagi ke laut bahkan lebih dalam hingga air menutupi sebagian kakinya. Bara tersenyum dan mencipratkan air ke muka Maya tanpa terasa Maya menelan air laut.

“Iiihh… Asin…” Jerit Maya sambil meludahkan air laut yang masuk ke dalam mulutnya.

“Namanya juga air laut ya pasti asin.”

Karena tidak terima dengan perilaku Bara, Maya pun balas mencipratkan air ke muka Bara hingga terjadilah adegan saling melempar air, sebuah tawa lepas keluar dari mulut Maya saat gelombang air laut menjatuhkan mereka hingga membuat mereka pun basah kuyup, Bara tersenyum melihat tawa Maya, Ia segera mendekati Maya dan membisikkan kata di telinganya.

“Bukankah ini menyenangkan Maya.”

Maya memandang Bara dan melemparkan senyum terindahnya lalu mendorong tubuh Bara hingga membuatnya tercebur, Maya tertawa girang.

Pos terkait