Efek Gunungkendil, Membentuk Santri Kerajingan Baca Kitab dan Malas Pulang Rumah

M. Falahuddin, Kiri Bawah bersama finalis ujian baca kitab kifayatul akhyar lainnya, didampingi Yahya Nur Kholis selaku kepala MA Mazra'atul Ulum, Kiai Salim Asyhar Sendang, Kiai Abdul Ghoni Manan Gunung Pendhil, Ustadz Hamam al-Firdausi dan Ustadz Mulyakin Legundi. Efek gunung pendhil memberikan dampak yang cukup penting bagi keunikan ujian baca kitab ini dan menjadi kaderisasi yang efektif untuk melahirkan intelektual muslim Indonesia.

kitasama.or.id Banyak wilayah yang ingin meniru keberhasilan Silicon Valey (California), mencangkokkan beberapa perangkat pembangunan daerah itu pada daerah yang lain, agar bisa mendapatkan keberhasilan yang sama sebagai pusat inovasi dan pengembangan tehnologi. Anggaran trilyunan diglontorkan untuk mengawalinya, dengan beberapa pembangunan fasilitas lengkap dan orang-orang yang siap digaji dengan gaji yang tinggi. Inggris, Perancis, Singapura, India, Jerman, dan bahkan Indonesia berusaha meniru apa yang telah dibangun di Silicon Valey, tapi hasilnya semuanya gagal dan tidak bisa mencangkokkan satu hal yang dimiliki oleh Silicon Valey, tradisi.

Banyak para (alumni) santri yang pulang dari pondok pesantrennya—yang besar, memiliki banyak santri dan kajian kitabnya melimpah—berberkeinginan untuk mendirikan pondok pesantren dengan sedikit mencangkokkan apa yang dimiliki oleh pondoknya dulu ke pondoknya yang (akan) didirikannya. Beberapa hal yang dipelajarinya di pesantren dahulu diterapkan, diaplikasikan, dan didaur ulang di pondok yang akan dirintisnya. Beberapa santri ada yang berhasil, namun yang lainnya ada yang gagal. Penyebabnya adalah menerapan tradisi yang tidak semua santri di pesantren bisa mendaur ulang.

Bacaan Lainnya

Ada tiga tradisi pesantren yang menjadikannya unik dan menjadi ciri khas kehebatannya—sehingga bisa bertahan hingga kini, yakni (1) gairah belajar sepanjang hari, (2) penyatuan kehidupan santri-kiai dalam interaksi belajar secara langsung, dan (3) konsistensi menjaga disiplin waktu sholat lima waktu.  

Gunungkendil Mencangkok Pesisir Sarang   

Tiga tradisi di dalam pesantren itulah yang menyebabkan suatu pesantren mampu dan bisa mendaur ulang apa yang didapatkannya dari pesantren asalnya, atau pesantren tempat belajar kiainya. Dan Syawariqul Anwar, yang berdiri di bagian utara gunungkendil-Paciran adalah bentuk pendaur-ulangan terhadap pondok pesantren Al-Anwar di pesisir Sarang Rembang.

Sebagai sebuah pesantren yang berdiri awal, baru merintis dan memulainya dari nol Syawariqul Anwar berupaya menegaskan tiga tradisi pesantren di Al-Anwar Sarang melekat dalam dirinya.

Pertama, Menekankan kebiasaan santri belajar sepanjang hari—tanpa ada paksaan dan tanpa ada hukuman, yang mengandalkan kekuatan hati santri untuk tergerak belajar “sebagai kebutuhannya”, bukan membiarkan waktu menguap tanpa makna.

Para santri di gunung pendhil sudah terbiasa menikmati kehidupan di tempat itu, selain sejuk dan nyaman suasana di pondok pesantren memberikan ketenangan dan keasyikan dalam menekuni suatu hafalan, mengkaji suatu pembahasan dan mengupas suatu teka-teki ilmu pengetahuan. Hampir dipastikan tiap malam, hingga tengah malam menjelang tidur para santri di Syawariqul Anwar menghabiskan waktunya untuk memegang kitab lalu membacanya, membuka kumpulan puisi (nadzoman) berisi kajian gramatika Arab (nahwu), dan tidak lupa pula “nderes” teks-teks al-Qur’an yang menjadi target hafalannya.

Dengan kerja keras dan kedisiplinan Syawariqul Anwar berusaha mencangkokkan tradisi keilmuan yang sudah lama berjalan di Al-Anwar Sarang Rembang ke dalam dirinya, terutama pada membangun ketulusan santri dan keikhlasan santri dalam mengkaji ilmu dan menguatkan seluruh bagian dirinya menjadi bermanfaat untuk membaca buku, menyimak bacaan kiai, menghafalkan makna kitab dan pastinya memastikan tiap harinya mereka bisa mendapatkan hal-hal baru dari dalam kitab kuning.

“Hafalan yang dimulai dari keterpaksaan dan tekanan hati tidak akan bisa bertahan lama, hanya menjadi sensasi sesaat. Sebuah keikhlasan dan kerelaan untuk menghafalkan dan belajar menekuni sebuah naskah kitab justru lebih lama bertahan dan melekat di dalam hati.” Tegas Kiai Abdul Ghoni Manan, sang pengasuh Syawariqul Anwar—jauh sebelum mendirikan pondok dan ketika masih rutin mengaji di Pesisir Legundi.

Walaupun masih berusia tidak lebih dari sepuluh tahun, Syawariqul Anwar berhasil menanamkan dalam dirinya tiga tradisi pesantren tersebut, sehingga mengantarkan para santri (secara otomatis) datang mengaji tepat waktu, berjamaah sholat lima waktu, bersemangat membuka kitab kajiannya, dan suka-suka nderes Qur’an untuk menambah hafalannya.

Efek Gunungkendil

 Tidak sia-sia apa yang ditanamkan oleh Syawariqul Anwar di lingkungan pondoknya di Gunung Pendhil, telah memberikan efek yang cukup besar bagi penduduknya, para santri yang belajar. Mereka secara otomatis sudah terbiasa dengan ragam kitab kuning yang ditekuninya, membaca isinya dan mengingat seluruh makna yang tersurat di dalamnya.

Efek gunungkendil itu berdampak terhadap prestasi seorang santrinya yang kebetulan belajar di MA Mazra’atul Ulum, yakni menyabet gelar juara (pertama) mengalahkan lima finalis lainnya.

Adalah Muhammad Falahuddin santri kelas XII MA Mazra’atul Ulum yang tampil memuaskan dalam ajang ujian baca kitab Kifayatul Akhyar di tempatnya belajar, yang diselenggarakan pada hari Rabo Pon, 1 Mei 2024, bertepatan pada 22 Syawal 1445 H.

Sebagaimana santri Syawariqul Anwar yang lainnya, Falahuddin adalah santri yang terdampak oleh efek Gunung Pendhil yang merupakan produk pencangkokkan tradisi pesantren di Al-Anwar Sarang Rembang. Anak-anak di Syawariqul Anwar menjadi anak-anak yang kerajingan baca kitab—kemana-mana dan kapan saja baca kitab, sekaligus malas pulang ke rumah—karena di rumahnya pasti menganggur dan tidak asyik dengan kitab.

Jika di pondok mereka (para santri) bergairah untuk membuka kitab yang didukung oleh banyaknya santri melakukan hal yang sama, maka akan menjadi bencana bagi mereka jika pulang ke rumah dan menyaksikan kondisi rumahnya yang tidak ada “kebiasaan”, tidak ada “suasana” dan bahkan mungkin tidak ada “keriuhan santri” membaca kitab. Akan jauh lebih baik mereka ke Syawariqul Anwar saja, karena di pondok itu lebih asyik, lebih nyaman, lebih bergairah hatinya dan pastinya lebih dimudahkan hatinya untuk tergerak membuka buku—membacanya atau menulis apa saja yang dianggapnya berguna bagi dirinya.

Bukan yang Pertama dan Terakhir

Muhammad Falahuddin bisa jadi bukan orang yang pertama dan terakhir dari Syawariqul Anwar yang berhasil menyabet gelar juara membaca kitab Kifayatul Akhyar. Akan bermunculan santri-santri lainnya pada periode yang berbeda di masa depan yang akan mengikuti jejak prestasinya. Hal itu dikarenakan Syawariqul Anwar sudah membangun tradisi intelektualnya lebih cepat—dengan kecepatan yang cukup besar—yang dialami oleh para penduduknya sebagai bagian yang melekat dalam kehidupan sehari-harinya.

Di Syawariqul Anwar Learning Habits sudah terbentuk, dengan pribadi pengasuhnya sendiri yang mendisiplinkan para santri untuk giat belajar sekaligus gairah belajar diantara para penghuninya yang saling memberikan kekuatan untuk terus menerus belajar sepanjang hari. Dengan kata lain, kehidupan santri di Syawariqul Anwar adalah kehidupan “tiada hari tanpa kitab”, sehingga sudah menjadi sebuah “kewajaran” bagi para santri untuk membuka kitab disaat menganggur.

Justru menjadi aneh di gunungkendil jika ada santri yang bermalas-malasan dan tidak tahu apa-apa tentang pentingnya belajar. Dengan demikian, efek gunungkendil kemungkinan besar akan tetap berlanjut dan akan memberikan dampak yang signifikan terhadap perubahan perilaku dan berfikir santri sekaligus memberikan kontribusi pembangunan peradaban Islam.

Pos terkait