Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TEORI KONSTRUKSI SOSIAL REALITAS PETER L. BERGER

Oleh :

Moh. Syihabuddin

Direktur Kitasama Stiftung

Teori konstruksi sosial realitas Peter L. Berger dibangun atas dasar sosiologi pengetahuan, yaitu “realitas” dan “pengetahuan”. Maksudnya, “realitas” merupakan fakta sosial yang bersifat eksternal, umum, dan mempunyai kekuatan memaksa kesadaran masing-masing individu. Terlepas dari individu itu suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, “realitas” tetap ada. Sedangkan “pengetahuan” diartikan sebagai keyakinan bahwa suatu fenomena riil dan mereka mempunyai karakteristik. Artinya, pengetahuan merupakan realitas yang hadir dalam kesadaran individu. Sebuah realitas yang bersifar subjektif.[1]

Untuk memahami “realitas” dan “pengetahuan” itu Berger memerlukan kesadaran sosiologis agar tujuan pembacaan sosiologis bisa sampai. Yaitu kedasaran debunking, kesadaran unrespectability, kesadaran relativitas, dan cosmopolitan motif.

Pertama kesadaran debunking, secara harfiyah debunking diartikan dengan penolakan terhadap berbagai kepalsuan. Maksudnya, perspektif sosiologis mesti menyandang kesadaran untuk tidak memercayai dan menerima begitu saja definisi situasi yang diberikan oleh pihak lain tentang kehidupan sosial, tentang hubungan di antara individu dan masyarakat. Hal ini dilakukan untuk menelanjangi berbagai topeng kepalsuan yang ada di masyarakat. Dengan kata lain, kesadraan ini menuntut untuk memiliki pandangan lain yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya. Ibarat Superman, yang memiliki ilmu penerawangan untuk menembus pandangan yang tertutupi.[2]

Kedua kesadaran unrespectability, yaitu perspektif sosiologis yang mengharuskan mempunyai kemampuan untuk menembus dan memasuki sektor-sektor kehidupan sosial yang oleh orang lain dianggap tidak terhormat dan lazim dihindari. Dengan kata lain mengharuskan diri untuk memasuki wilayah-wilayah yang absurd dan siap untuk berperilaku yang tidak lazim. Jika hal itu tidak dilakukan, maka perspektif sosiologis akan mati. Pada intinya, bukan peristiwa formal yang menjadi obyek amatan, tapi peristiwa informal.[3]

Ketiga kesadaran relativitas, yakni suatu kesadaran bahwa dalam kehidupan sosial tidak ada hal yang absolut atau mutlak; baik itu definisi situasi dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan nilai-nilai dasar masyarakat. Masing-masing peristiwa yang kita jumpai berangkat dari konteks dan situasi sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itulah terdapat dua konsekuensi yang muncul, pertama, dalam meninjau masyarakat lain perspektif sosiologis tidak menggunakan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat sebagai tolok ukur. Kedua, dalam melakukan tinjaunya terhadap masyarakatnya sendiri, perspektif sosiologis tidak hanyut dalam nilai-nilai yang berlaku. Dengan kata lain, di masyarakat lain menjadi “penduduk setempat”, dan di masyarakatnya sendiri menjadi “orang lain”.[4]

Keempat cosmopolitan motif, yakni perspektif sosiologis yang memandang kehidupan sosial yang mensyaratkan kebebasan dan keterbukaan. Ini berarti, dalam memahami sesuatu tidak diperkenankan berangkat dari gejala sosial yang terjadi di masyarakatnya sendiri, atau membatasi penerawangannya pada bidang-bidang tertentu (misalnya bidang ekonomi saja, keluarga, psikologi atau perkotaan saja). Lebih dari itu, perspektif sosiologis harus menaruh minat pada berbagai ragam sosial, baik yang ada di masyarakatnya sendiri maupun yang ada diluar masyarakatnya.[5]

Dengan keempat kesadaran itulah Berger kemudian menegaskan bahwa perspektif sosioligis sejatinya dilakukan untuk usaha pencarian akar realitas sosial dan pengetahuan. Yakni mencari kaitan antara sosial dengan realitas dan pengetahuan. Sehingga memunculkan pertanyaan dasar, bagaimana mungkin makna yang subyektif menjadi sesuatu yang obyektif? dan bagaimana mungkin aktivitas manusia dapat membentuk dunia?. Menurutnya, memahami “realita unik” dari masyarakat secara memadai perlu diketahui proses bagaimana realitas ini terbentuk oleh perspektif sosiologis.

Berangkat dari kesadaran Sosiologis itulah konsep dasar pemikiran Berger dilandaskan pada tiga konsep:

  1. Realitas kehidupan sehari-hari
  2. Interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari
  3. Bahasa dan Pengetahuan dalam Kehidupan Sehari-hari

[1] Hanneman Samuel. Peter L. Berger; Sebuah Pengantar Ringkas. (Depok: Kepik. 2012) 12.

[2] Ibid, 6.

[3] Ibid, 8.

[4] Ibid, 9.

[5] Ibid, 9.