RAHASIA BINTANG; Rajutan Cinta Kirana (Part 4)

Tidak masalah menjadi bagian dari mencintai orang istimewa yang bisa mengantarkan kita kepada kebaikan dan kemaslahatan bersama. Perempuan boleh menjadi bagian dari kehidupan perempuan lain untuk mengukir kisah bersama satu pria ahli ibadah dan pekerja keras

Malam ini ada acara pernikahan di desa sebelah dan Nenek Kiran di undang untuk menghadiri acara tersebut, sang Nenek terlihat begitu anggun dengan balutan kebaya ala ala gadis era enam puluhan.

 Biasanya di desa jika ada acara semacam itu pasti di selingi dengan adanya pameran pasar malam, banyak aneka ragam makanan dijual di sana dan beberapa wahana permainan anak anak juga ada.

Bacaan Lainnya

 “Kiran, Nenek sama Paman mau keluar ada undangan nikah di desa sebelah, Kamu tidak keberatan jika di rumah sendirian?”

“Iya nek Kiran tidak keberatan.”

“Kalau mau tidur jangan lupa pintunya dikunci, nenek sudah bawa kunci cadangan.”

“Iya nek.”

Kiran mencium tangan nenek dan pamannya sebelum mereka akhirnya berangkat.

Ketika motor paman sudah melaju Kiran segera menutup pintu dan menguncinya ia pun melangkah menuju kamar. Kiran mengambil salah satu buku yang ada di meja kamarnya saat hendak membaca Kiran mendengar ada yang mengetuk jendela kamarnya, Kiran pun melangkah dan membuka tirai jendela kamar terlihatlah sosok Bintang ada di luar sana, terpaksa Kiran pun membuka jendelanya.

“Kamu mau apa malam malam kemari?”

“Keluar yuk, ada pasar malam di desa sebelah.”

Kiran berpikir sejenak, jangan jangan yang di maksud desa sebelah adalah di mana Nenek dan Pamanya ada untuk menghadiri undangan pernikahan.

“Tidak!”

“Kenapa? Dari pada Kamu ngelamun di kamar?”

“Masalahnya di rumah tidak ada orang, nenek dan paman sedang keluar, apa katanya nanti kalau mereka datang dan Aku tidak ada di rumah?”

“Kita akan kembali sebelum mereka pulang.”

Lagi lagi Kiran tak mampu menolak ajakan Bintang seakan dia punya jurus tersembunyi untuk menaklukkan hati Kiran.

 Kiran hanya mengambil jaket untuk menutupi badannya dari dinginnya angin malam, Kiran mengunci pintu rumah dan segera membonceng motor Bintang.

 Kiran dan Bintang hanya berjalan jalan melihat lihat beragam makanan, sauvenir dan mainan yang di jual.

“Kamu tidak mau beli sesuatu?”

“Tidak!”

“Kenapa? Beli aja buat oleh oleh keluarga Kamu.”

“Di sana sudah banyak yang jual, bahkan yang lebih bagus dari itu juga ada.”

“Baiklah, kalau makanan gimana?”

“Buat oleh oleh?”

“Ya tidaklah..keburu basi.”

“Aku lagi males, pulang yuk!”

“Tunggu sebentar.”

Bintang meninggalkan Kiran melangkah menuju ke arah yang entah kemana, mata Kiran kehilangan jejaknya tak mungkin kalau Bintang akan meninggalkan dia sendiri di sini.

 Lama Kiran menunggu dengan resah jangan sampai keberadaannya di tempat ini di ketahui oleh paman dan neneknya, kurang lebih sepuluh menit kemudian Bintang pun datang.

“Kamu dari mana saja?”

“Ada deh.. ayo pulang.” Ajak Bintang sembari menarik tangan Kiran.

 Sampai di depan rumah hati Kiran mulai lega karena neneknya belum juga pulang.

“Terimakasih ya.” Ucap Kiran, Bintang tersenyum dan menganggukkan kepala.

 Kiran melangkahkan kakinya belum juga sampai pintu langkah Kiran terhenti karena panggilan Bintang.

“Kiran!”

 Kiran membalikkan badannya Bintang menghampirinya, Bintang memegang tangan Kiran dan meletakkan sesuatu ke telapak tangan Kiran lalu menutupnya. Karena penasaran Kiran pun membuka telapak tangannya, sebuah cincin warna silver polos yang terbuat dari sejenis besi putih dan sebuah nama terukir di sana.

Kirana

“Buat Kamu.”

Kiran menatap wajah Bintang heran untuk apa dia memberikan cincin itu padanya.

“Jadi tadi Kamu beli ini.”

“Iya, maaf sudah menunggu lama.”

“Tapi buat apa?”

“Anggap aja kenang kenangan dariku, besok Kamu kan mau balik ke tempat asal Kamu.”

Kiran memejamkan mata sejenak  menyadari kalau malam ini adalah malam terakhir dia ada di sini dan besok sudah pulang.

“Nanti kalau liburan Aku pasti main ke sini lagi.”

“Belum tentu nanti kita bisa ketemu lagi.”

“Apa maksud Kamu?”

“Sudahlah tidak usah di bahas, sudah larut masuk Lah nanti keburu paman dan nenek Kamu pulang.”

 Kiran mengangguk masih tidak mengerti apa maksud perkataan Bintang, sampai di depan pintu Kiran masih melihat Bintang berdiri di sana, Bintang melambaikan tangannya Kiran membalas lambaian itu. Saat Kiran mulai menutup pintu Bintang pun segera pergi.

 Kiran memandangi cincin pemberian Bintang Ia pun senyum senyum sendiri tanpa di sadari pintu Kamar ada yang membuka dan sang nenek berdiri di sana.

“Kamu belum tidur Kiran?”

Kiran terkejut mendengar ucapan neneknya, cincin itu digenggamnya dengan perasaan gugup Ia menjawab pertanyaan neneknya yang memang baru pulang dari undangan karena terlihat sekali balutan kebaya masih menempel di tubuhnya.

“Kiran belum ngantuk nek!”

“Besok pagi Kamu sudah harus balik biar tidak terlalu panas, jadi sekarang Kamu istirahat ya.”

“Iya nek!”

Sang Nenek menutup pintu kamar, Kiran kembali menatap cincin pemberian Bintang sudah lama sekali Ia ingin memiliki cincin seperti itu dengan ukiran namanya di sana dan baru kecapaian meski harus dari seseorang.

***

Kiran duduk di teras siap dengan tas ranselnya menunggu sang paman yang masih berkemas di dalam. Mata Kiran terus mengawasi rumah megah di seberang sana berharap seseorang keluar dari sana, setidaknya Bintang harus ada di sisinya saat dia mau pulang tapi nyatanya tidak entah kemana makhluk itu.

“Ayo Kiran kita berangkat.” Kata sang paman dengan berbalut celana jins dan jaket hitamnya sambil memberikan satu helm pada Kiran lalu di sambut dengan anggukan kepala.

 Saat mulai naik motor hingga keluar dari halaman rumah tatapan Kiran tak berhenti melihat rumah Bintang, di sepanjang jalan desa pun Kiran berharap bertemu dengannya agar dia bisa berpamitan karena semalam belum sempat pamit.

“Bintang.. Kamu kemana sih.” Kata Kiran dalam hatinya.

Sepanjang perjalan pikiran Kiran hanya tertuju pada Bintang, entah perasaan apa yang ada pada diri Kiran. Kehadiran Bintang membuatnya nyaman dan betah ada di desa neneknya. Liburan kali ini terasa beda dari liburan liburan sebelumnya karena sekarang dia punya teman di sana dan untuk liburan selanjutnya akan lebih menyenangkan lagi.

***

Di bibir pantai Kiran duduk memandangi cincin yang melingkar di jari tengahnya senyum terpancar dari bibirnya.

“Tunggu Aku Bintang, liburan nanti kita akan ketemu lagi kan!”

“Woi!!” kompak tiga seorang gadis seumuran Kiran mengagetkannya, mereka adalah  teman teman Kiran di sekolah.

“Kalian ngangetin aja.”

“Kamu kenapa sih  ngelamun aja?” Tanya temannya yang memakai kaca mata

“Siapa juga yang ngelamun!”

“Lha tadi ngapain?”

“Kepo!”

“Kiran, tadi kita kesini bareng bareng masa Kamu misah sendiri sih tidak ikut kumpul sama Kita kita.” Kata teman Kiran lain yang badannya lebih tinggi dari lainnya.

Dari rumah mereka memang jalan bareng ke pantai, namun Kiran hanya melamun saja tanpa di sadari ia misah dari teman temannya berjalan sendiri duduk sendiri dan wajar jika hal itu membuat teman temannya heran.

“Sudah lah malas Aku, Aku pulang dulu.” Kata Kiran sembari berdiri dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan teman temannya.

“Kenapa sih dia?”

“Entahlah, tak biasanya dia seperti itu.”

“Jangan jangan dia lagi ada masalah?”

“Kalaupun iya dia pasti sudah cerita sama kita.”

“Apa dia marah sama kita gara gara kita kagetin tadi?”

“Entah lah.” “Sudahlah biar nanti Aku coba bicara sendiri sama Kiran.” Kata teman Kiran yang dari tadi hanya diam dan paling dekat dengan Kiran di banding yang lainnya, rumah mereka pun berdekatan.

Pos terkait