Bertahan dari Keterbatasan dan Tetap Perkasa dalam Keterpurukan

Tetap bahagian dalam kondisi terbatas akan fasilitas dan kondisi lainnya, serta tetap fokus pada tujuan yang ingin dicapai disaat terpuruk adalah cara terbaik untuk bertahan dari kehancuran dari dan dari segala kegagalan.

Setiap orang pasti akan menghadapi hidupnya yang kadang-kadang berjalan mulus dan terkadang pula berjalan penuh rintangan. Jalan yang mulus senantiasa diharapkan oleh setiap orang, sedangkan untuk jalan yang penuh rintangan sering kali tidak diharapkan dan dihindari. Alam tidak bisa berjalan sesuai dengan keinginan manusia, selalu ada kejutan-kejutan yang bisa merusak mental manusia sekaligus sebaliknya, mampu membentuknya menjadi manusia yang bermental kuat.

Kelemahan manusia biasanya ketika dihadapkan pada keterbatasannya dan kejatuhannya dalam kondisi terpuruk. Keadaan itu menyebabkan setiap orang kesulitan meneruskan hidupnya, lalu memilih pasrah dan menyerah, atau mungkin bahkan sampai putus asa sehingga dampaknya memunculkan banyak pikiran-pikiran kotor dengan cara menyalahkan pihak-pihak tertentu. Seperti menyalahkan kondisi orang tuanya atau bahkan menyalahkan takdir Tuhan yang telah diterimanya.

Bacaan Lainnya

Menyalahkan pihak lain dengan keadaannya yang terbatas dan terpuruk bukanlah cara bijak untuk menyikapi kondisi itu sendiri, karena tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan menemukan cara yang baik untuk mengubahnya. Cara terbaik menyikapi keterbatasan dan keterpurukan adalah dengan menghadapi keterpurukan itu sendiri dan mengubah kelemahannya sebagai sebuah kekuatan untuk bangkit.

Tidak ada seseorang yang akan peduli dengan keterpurukan kita, mereka tidak akan bertanya dan ingin tahu “cara kita bangkit”, tapi lebih suka membicarakan keterpurukan kita dan segala penyebabnya, yang bahkan dihubung-hubungkan dengan adzab dan hukum karma yang telah menimpah kita.

Lalu bagaimana caranya mengubah kelemahan kita dan menghadapi keterpurukan yang telah menimpah kita, karena di dunia nyata menjawab hal itu bukanlah perkara yang mudah?

Jawaban sederhananya—walaupun pelaksanaannya membutuhkan banyak energi yang harus dikeluarkan di kehidupan yang kita jalani adalah tetap bahagia dan fokus pada tujuan terbaik di masa depan.  

Bahagia adalah sesuatu yang diharapkan oleh banyak orang, diimpikan oleh banyak orang dan selalu menjadi harapan setiap orang dalam menjalani kehidupannya. Namun untuk menjadi tetap bahagia dan tetap fokus pada tujuan di masa depan tidaklah semudah mengucapkannya. Karena untuk menjadikan hati senang dan riang gembira dalam kondisi yang terbatas dan berkukurangan, atau dalam kondisi terpuruk bukanlah perkara mudah.

Kendati demikian, untuk menjadi tetap bahagia dan fokus pada tujuan disaat terpuruk dan disertai dengan keterbatasan tetap ad acara yang bisa dilakukan, dan siapapun tentunya bisa melakukannya dengan alasan bahwa setiap kegagalan akan memberikan pelajaran yang berharga untuk bangkit menjadi lebih kuat.

Untuk menjadi “bahagia” di saat kita dihadapkan pada keterbatasan dan kondisi keterpurukan, sekaligus tetap focus pada tujuan hidup yang akan kita capai diantaranya adalah :

a. Jangan pernah melupakan Allah, tetap berdzikir.

    Kita semua adalah milik Allah, hanya Allah yang paling mengetahui segala urusan kita. Maka disaat kita terbatas dan terpuruk yang paling peduli dan bisa menyelesaikannya adalah petunjuk dari Allah. Tetaplah berdzikir dengan ketekunan dan konsistensi yang disertai dengan ketenangan hati serta ketenangan pikiran.

    b. Menjaga konsistensi sholat lima waktu.

    Menjaga diri untuk tetap bisa sholat lima waktu berjamaah adalah cara yang paling mudah untuk membuat diri kita tenang dan nyaman. Sholat merupakan system yang sudah dibangun dan diberikan kepada manusia untuk menciptakan transmisi energi yang positif di alam semesta agar bisa menyelumbungi tubuh manusia.

    Sholat adalah sebuah harta karun yang cukup berharga bagi kekuatan tubuh pikiran dan hati manusia. Dia bukan sekedar sebuah kewajiban bagi manusia, tapi menjadi kebutuhan bagi setiap hembusan nafas manusia. Seburuk apa pun kehidupan kita, tetap menjaga sholat lima waktu merupakan cara terbaik untuk tetap Bahagia dan tenang.

    c. Jangan menampilkan kondisi terpuruk di media virtual seperti facebook.

    Ingat, hanya orang bodoh dan yang berharap mati saja yang dengan sembrono menceritakan kondisi terpuruknya di media sosial yang dikonsumsi secara publik. Ingatlah, bahwa keterpurukan kita bukan tanggungjawab public atau netizen, mereka adalah orang yang akan menjadi “tertawa” saat mengetahui kita terpuruk.

    Hindarilah menceritakan kondisi buruk kita kepada orang lain melalui media sosial, karena hal itu justru akan menjadi penyebab kehancuran karir kita sendiri dan menjadikan institusi tempat kerja kita melihat sisi buruk yang kita tampilkan—menjadi penyebab mereka mempertimbangkan untuk menerima kita sebagai bagian dari perusahaannya.

    d. Jauhkanlah diri kita pada orang-orang (teman) yang merasa bangga dengan keterpurukan dan keterbatasan kita.

    Bertemanlah hanya pada orang-orang yang produktif dan mendukung seluruh kegiatan kita, jangan teman-teman yang hanya menghasilkan kerusakan hati dan kebencian terhadap kita. Teman-teman kita pastinya sangat banyak, dari teman sekolah hingga teman kerja, dan tidak semua teman itu menghasilkan hubungan yang membangun dan positif.

    Mendekatlah hanya pada teman yang ahli sholat, ahli membaca buku, raji berdzikir dan tidak suka membicarakan kejelekan orang lain. Sekaligus jauhilah orang-orang yang bisa merusak hati kita, seperti orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain, membenci orang lain dan membicarakan keuntungan uang tanpa disertai dengan kerja keras dalam tindakannya.

    e. Cari orang yang paling dekat untuk mendukung seluruh kegiatan kita dan aktivitas kita.

    Orang-orang terbaik yang pastinya akan mendampingi kita adalah orang tua, saudara, pasangan dan bisa pula teman dekat. Carilah satu diantara mereka yang paling mendorong kita untuk tetap kuat dan menjadi manusia yang selalu “bahagia”. Kuatkanlah diri kita dengan orang-orang yang senantiasa memberikan energi positif kepada kita, niscaya kita akan mendapatkan efek dari kebahagian

    f. Ciptakan keceriaan kita sendiri, tanpa melibatkan orang lain.

    Datanglah ke mall sendirian, ke toko buku sendirian, ngopi baca buku sendirian, dan mendatangi tempat-tempat yang kita anggap bisa menyenangkan sendirian—jangan melibatkan orang lain karena bisa jadi hanya akan berujung rasa sakit dan kekesalan. Rajinlah membaca buku, asyiklah dengan isinya dan bahagialah dengan ceritanya jangan mengajak orang lain. Datanglah ke mall sendirian disaat pikiran penak kerja atau dalam kondisi terdesak, nikmatilah apa yang kita inginkan.

    Di warung kopi atau di café, lebih baik sendirian. Di masjid, lebih baik itikaf sendiri tidak perlu mengajak orang lain.

    g. Diam, jangan berkoar-koar, pikirkan hal-hal yang terbaik yang perlu kita lakukan.

    Jangan suka pamer dengan prestasi kita, jangan suka menjadikan status-status di media virtual kesenangan kita—karena bisa jadi hal itu hanya akan menjadi senjata orang membenci kita untuk menghancurkan kita.

    Jangan pula menjadikan pamer keceriaan kita dengan keluarga kita atau hal-hal lain yang cenderung membuat orang lain membenci kita. cukuplah nikmati sendiri kesenangan itu dan jalani dengan penuh semangat.

    Daripada menghabiskan waktu dan energi untuk pamer lebih baik tetap menfokuskan diri pada tujuan kita dan apa yang ingin kita capai dalam waktu dekat atau di masa yang lebih panjang. Fokuslah pada detail rencana yang kita jalani dan bersiaplah untuk menjalaninya dengan penuh rintangan.

    Pos terkait