Syawalan Santri Berox (I); Ngomong “Pesantren Gagal” karena Disebabkan oleh Lima Faktor

Mengalami forum syawalan, diskusi dimulai dengan tema "pesantren gagal" yang disebabkan oleh lima faktor. Santri Berox telah mendalami kajian ini secara intensif dengan melihat realita yang berkembang dan fenomena yang terjadi di lapangan. Selain syawalan, forum "ziarah makam abah" ini menjadi ajang pertemuan rutin yang diupayakan menjadi sesuatu yang produktif.

kitasama.or.id – Banyak pondok pesantren yang gagal berkembang dan gagal berproses menghadapi perubahan sehingga terpaksa harus tutup dan tidak diminati oleh generasi muda dan calon wali santri. Membangun pondok pesantren dan memulainya memang mudah, tapi melanjutkannya dan merawatnya adalah perkara yang berbeda—bisa jadi lebih berat dan banyak tantangan.

Pondok pesantren merupakan buah dari hasil infaq yang dikumpulkan oleh masyarakat kepada seorang kiai yang dipercaya karena “pengabdian masyarakat”-nya dan “keilmuan agama”-nya. Tidak heran jika infaq bisa mengalir lancar dan memiliki kepercayaan kuat di hati masyarakat desa untuk mengembangkan pembangunan (musholla, asrama, kamar mandi dan sebagainya) di pondok pesantren.

Bacaan Lainnya

Seperti halnya gerak putar sejarah peradaban manusia, pondok pesantren juga mengalami putaran fase yang berbeda-beda, tergantung setiap ruang perubahan dan waktu yang menyertainya. Pesantren yang berhasil merespon perubahan tentunya akan tetap bertahan dan bisa menjadi institusi penting yang berkelanjutan, namun jika pesantren gagal merespon perubahan maka pesantren akan tinggal kenangan—masih lebih baik menjadi monument atau cagar budaya.

Dalam merespon perubahan memang banyak pesantren yang mampu bertahan dari terjangan peradaban yang dilewatinya, tapi banyak pula yang gagal mempertahankannya hingga menghasilkan krisis kepemimpinan (pengasuh) dan keilmuan (keislaman).

Setidaknya, ada lima hal yang mempengaruhi kegagalan sebuah pesantren dalam merespon perubahan zaman dan menyikapi segala kemajuan yang dihadapinya, diantaranya yaitu :

Pertama, Kepemimpinan generasi penerus dari generasi pendiri yang kurang memahami dinamika santri-santri ayahnya dahulu, sehingga hubungan dengan alumni menjadi renggang dan kurang harmonis. Alumni pesantren (idealnya) mempunyai ikatan untuk menyerahkan pendidikan putra-putrinya kepada pesantrennya dahulu, Alih-alih meninggalkannya dan enggan untuk ke pesantrennya itu.

Banyak hal yang mempengaruhi faktor ini, namun yang paling menonjol adalah tidak terciptanya hubungan yang “saling pengertian” diantara generasi penerus pesantren dan alumni santri. Tidak ada ikatan untuk saling “ngopi” bersama, ndolan ke rumahnya santri lama atau mungkin menciptakan wadah yang “menyenangkan” bagi para alumni.

Kedua, orientasi keilmuan generasi penerus yang tidak mengikuti perkembangan zaman dan cenderung merasa memiliki “kekuatan barokah”—kendati usianya masih relatif muda. Zaman sudah berubah, zaman sudah banyak berkembang, dan zaman sudah semakin terkoneksi secara global tapi pesantren masih mempertahankan keilmuan lamanya tanpa disertai dengan disiplin keilmuan lain yang sudah berkembang pesat di dunia Barat.

Banyak pesantren yang masih menganggap komik (misalnya) bukan sebagai sarana belajar, tapi sarana yang merusak hafalan. Padahal—dalam pengalaman saya selama di pesantren—komik merupakan media yang efektif untuk mempermudah proses transmisi keilmuan sekaligus memberikan banyak pengalaman dalam membangun imajinasi.

Ketiga, pesantren sudah ditinggalkan oleh para penyandang dana infaq yang dulu menjadi menyokong generasi pendirinya. Generasi penerus tidak bisa melanjutkan hubungan baik dengan orang-orang lama yang dulu menjadi pendukung generasi pendiri selama merintis pesantren. Alih-alih generasi penerus menjalin komunikasi dengan para pejabat publik maupun militer untuk menciptakan citra baru yang tidak dibangun oleh generasi pendiri.

Keempat, adanya kecelakaan berat yang menimpah pesantren yang dianggap sebagai aib besar di dalam peradaban Islam, seperti perselingkuhan ataupun perzinahan diantara warga pesantren. Warga pesantren akan menghadapi kenyataan yang berat di masyarakat jika sedang mengalami kecelakaan jenis ini, walaupun terkadang “atas nama kebaikan bersama” biasanya kecelakaan ini akan dibiarkan menguap dan tertutupi oleh “tembok tinggi” feodalisme pesantren.

Memang ada beberapa pesantren yang berhasil menutupi dirinya jika sedang mempunyai kasus kecelakaan berat ini, akan tetapi mereka tetap bisa bertahan dengan keras setelah menutupinya dengan rapat dan membungkam semua pihak yang mengetahuinya dengan berbagai cara dan metode.

Kelima, perubahan fokus pesantren dari mendidik santri ke memberdayakan santri untuk finansial pesantren an sich. Santri ditempatkan di pesantren oleh orang tuanya untuk belajar dan melakukan ubudiyah fisik (membangun pesantren dan menjaga kebersihannya) agar mempunyai ilmu yang bermanfaat dan barokah sehingga layak dilepaskan di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan peranan santri.

Tentu saja menjadi sebuah bencana bagi setiap wali santri yang melihat dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri jika anaknya yang sedang “di-pondok-kan” diketahui telah berjualan dan menjajakan barang dagangan. Padahal sang wali santri di rumah bersusah payah mencari uang untuk biaya Pendidikan anaknya untuk “belajar-baca buku-menulis kitab” bukan malah mencari uang.

Hal ini tentu berbeda bagi alumni santri yang kebetulan masih mau mondok tapi tetap ingin di pondok, menjadi wirausaha dari pondok adalah sebuah keniscayaan dan sangat bagus bagi perkembangan kemandirian santri.   

***

Tema itulah salah satunya yang menjadi diskusi menarik, sekaligus panas yang dilakukan oleh anggota santri Berox di makam Gurunya, KH. Abdullah Sabbihin Muthohar di kawasan tegalan Legundi-Jetak-Paciran pada Ahad, 28 April 2024. Diantara mereka yang menampakkan wajahnya adalah Fahruddin (Brondong), Imam Wahyono (Paciran), Syihabuddin (Palang), Iqbal (Surabaya), Edi Tsalis Fuadi (Gresik), Sifyani (Tuban) dan Agus Hartono (Solokuro).

Forum pada sore hari itu diawali dengan makan-makan menu kare rajungan, pelas palang, legen paciran, dan aneka buah serta snack. Terjadi Tarik ulur pendapat diantara para anggota forum diskusi, antara yang sepakat dengan faktor “pesantren gagal” dan yang menerimanya dengan berbagai bukti yang telah terjadi di masyarakat. Diskusi berjalan sangat nyaman, dilanjutkan dengan jamaah maghrib dan tahlil untuk almarhum guru mereka. Dan karena ada suatu sebab yang tidak terduga forum dibubarkan pada pukul 20.00, karena dirasa tidak lagi efektif untuk dilanjutkan. Lagian, satu anggota aktif lainnya tidak hadir karena ada udzur hajatan dalam haul asmoro kondi di Gesikharjo.

Pos terkait