Syawalan Santri Berox (II); Alumni Santri adalah Santri, bukan Orang Lain

Membaca tahlil setelah sholat mahgrib adalah rangkaian pertemuan pada acara syawalan santri berox. Tema kedua dalam forum kajian malam itu menjadi tema yang cukup membuka hati bagi para santri Berox untuk menyadari dirinya bahwa dirinya buka apa-apa dihadapan Allah, karena ternyata gelar kehormatan di masyarakat hanya sebatas amanah yang pasti dimintai LPJ di akhirat.

Seorang santri yang sudah pulang dari mengaji di pesantren dan memutuskan untuk pulang ke kampungnya dan sekaligus juga mengembangkan keilmuan-pengalamannya tentu akan memiliki banyak gelar dan sebutan “kehormatan” yang masing-masing akan disandangnya. Adanya mendapatkan sebutan Pak Guru atau Bu Guru, ada yang mendapatkan sebutan Mbah (karena sosoknya yang patut dituahkan), ada yang mendapatkan sebutan kiai atau nyai, dan pastinya ada yang sudah menyandang Wak Kaji karena sudah berhasil berangkat ke tanah suci.

Aneka gelar yang ditelah diraih oleh para santri karena peran-perannya yang positif tentunya bisa mengangkat kebaikan bagi tempat pesantrennya belajar dahulu. Orang akan melihat bahwa sosok alumni yang baik dan dianggap berkualitas bisa memberikan kemanfaatan dan kebaikan baik masyarakatnya juga syiar agama islam pasti akan menyakini jika pondok tempatnya pelajar dahulu merupakan pesantren yang baik dan mempunyai metode pembelajaran yang canggih.

Bacaan Lainnya

Kendati demikian, sebuah gelar kemasyarakatan yang telah diraih dengan kerja keras tidak serta merta menjadikan alumni santri “besar kepala” lalu mendongakkan kepala dan menganggap dirinya lebih baik dari teman-temannya dahulu di pesantren. Sebagai belum alumni dan mendapatkan gelar, “para alumni santri adalah santri” yang makan (enak, tidak enak) bersama, bermain bersama, bergurau bersama, tumbuh bersama, dan tentunya saling mengejek satu sama lain dengan dasar bergurau membangun kedekatan emosional.

Berangkat dari hal itulah maka sangat tidak layak seorang alumni santri yang mempunyai gelar yang tinggi dikalangan masyarakatnya, baik kiai, pak modin maupun wak kaji, merasa lebih tinggi dan lebih baik dari pada temannya yang di masyarakat tidak mempunyai gelar apa-apa. Karena pada dasarnya gelar di masyarakat tidak akan berpengaruh apa-apa dihadapan Allah.

Memang gelar di masyarakat sangat menggoda dan sangat berpengaruh terhadap kondisi emosional setiap orang. Semakin banyak orang yang menghormatinya, semakin banyak orang yang mengikuti ucapannya dan semakin banyak orang yang menaruh simpati padanya tentu akan menjadikan diri orang itu berbangga hati, merasa mendapatkan banyak nikmat—dicintai Allah, merasa jalannya benar dan merasa aman dengan semua amalan-amalannya. Namun perasaan senang itu pada dasarnya hanyalah c

obaan bagi pemiliknya dan bukan capaian yang perlu dibanggakan dan dipamerkan.

Dengan demikian, seorang alumni santri yang memiliki beragam gelar “keren” di masyarakatnya, atau mempunyai “subscribe” dan “likes” yang banyak dari penggemarnya tidak berarti dia menjadi santri yang “paling bermanfaat ilmunya” dibandingkan santri yang lainnya. Dia bukan berarti menjadi manusia yang “paling benar jalannya” dibandingkan temannya yang lain yang tidak sama derajad kemasyarakatannya. Artinya, kondisi keceriaan menjadi santri selama di pesantren harus tetap dibina dan dibangun oleh alumni santri untuk tetap terikat secara emosional dan tetap menjadi teman “guyon” saat berkumpul dalam forum silaturrahim apa saja.

Sebuah perkumpulan alumni santri akan lebih mudah terbangun dan terbentuk dengan kokoh jikalau ikatan emosional dan kenangan semangat belajar keilmuan di masa santri tetap terbina dengan baik dan melekat.

Para alumni santri dengan sendirinya akan berkumpul dan merapatkan kehadirannya kembali dalam keceriaan sebagai santri disaat mereka merasa nyaman dan merasa mendapatkan keindahan (bergurau, bercerita, dan ngopi hal-hal menarik selama tidak menjadi santri atau cerita masa lalu selama di pesantren).

Seorang alumni santri saat bergumul lagi dengan semua teman-temannya dahulu di pesantren perlulah sedikit menurunkan ego-nya, menurunkan derajad kemasyarakatannya, meletakkan gelar kesarjanaannya (S1, S2 ataupun S3 dan profesor) dan pastinya meleburkan dirinya sebagai manusia yang sama dengan satu sama lainnya untuk menjadi lebih akrab dan lebih membangun pengalaman yang mendalam.

***

Sambil menikmati hidangan yang ditunjang oleh ikatan persaudaraan para santri berox mendiskusikan tema yang kedua ini dengan banyak pertanyaan dan ragam pendapat. Semua anggota dipastikan sepakat dan mengamini apa yang menjadi bahan kajian tema kedua ini.

“Sebagai alumni santri nilai-nilai kepesantrenan dengan akhlak yang mulia tentu saja menjadi modal dasar dan tidak boleh ditinggalkan. Akan tetapi segala gelar kehormatan di masyarakat, jikalau sedang berkumpul Bersama teman-teman lama dari pesantren dahulu haruslah ditanggalkan, dan mengembalikan kondisi ‘asyik dan seru’ seperti halnya mondok dahulu.” Tegas Imam Wahyono yang kini menjadi guru ngaji di pondok pesantren al-Firdausi Paciran.

“Teman lama tetaplah teman, harus terus disambung dengan silaturrahim dan dikuatkan dengan persahabatan yang tanpa batas. Perbedaan usia dan pengalaman membaca buku atau kerja tidak menjadi penyebab yang memisahkan para santri antar generasi di pesantren yang sama. Asalkan pernah mondok di pesantren yang sama itu sudah cukup untuk menjadi modal menjadi komunitas yang saling terikat.” Kata Fakhruddin menambahkan untuk memberikan penguatan pendapat teman-temannya.

Dengan tema diskusi yang kedua inilah maka ksempatan yang sama untuk menggelar forum yang lebih seru pada bulan depan yang berbeda tentunya siap direncanakan dan diagendakan secara matang.

Pos terkait