Keris Mustika Nagasosro dan Pria Pemanggil Hujan Emas (Part 2)

Lima pria berkumpul, mempunyai frekuwensi yang sama sebagai manusia yang gagal dalam menjalani hidupnya, ingin cepat kaya dan mendapatkan kunci untuk membuka harta kekayaan dari alam ghaib dan dari langit. Cara terbaiknya adalah mencari sosok pria pemanggil hujan emas dan keris mustika nagasosro untuk bisa membuka portal kekayaan dari kerajaan nusantara yang konon dijaga oleh para bangsa halus.

kitasama.or.id“Orang-Orang Gagal yang Ingin Cepat Kaya

Semua pria menginginkan keberhasilan secara materi, mendapatkan pujian banyak orang karena prestasi pekerjaannya dan dibanggakan oleh keluarganya karena mendapatkan pasangan yang cantik, keren secara jabatan dan berhasil dalam karir yang bisa mengangkat derajatnya. Apalagi mereka yang hidup di sebuah lingkungan yang menjadikan materi sebagai tolok ukur keberhasilan tidak mengherankan jika sebagaian besar pria dewasa menghadapi tekanan hidup yang menyesakkan dada dan menuntut kehadiran kekayaan dalam dirinya secara cepat.

Bacaan Lainnya

Jalan pintas selalu menjadi pilihan bagi orang yang sudah gelap mata dan hatinya, tidak menghiraukan baik dan buruknya hasil yang akan diperolehnya, dan setiap tindakan yang bisa mempercepat kehadiran uang dan emas bisa menjadi solusi yang tepat untuk menjadi orang yang dibanggakan masyarakat di sekitarnya. Setidaknya itulah yang dialami oleh lima pria dewasa di desa Karangrejo kecamatan Palran Kabupaten Tuban. Mereka berlima mengalami kesalahan dalam menjalani kehidupannya, lalu mengalami kejatuhan, dan ujung-ujungnya mencari jalan pintas untuk bisa bangkit secara cepat.

Hasyim, seorang mantan kepala desa dan pekerja MLM yang selalu gagal, tidak mempunyai harapan dan impian yang menyakinkan terhadap masa depannya. Disatu sisi dia sangat gemar untuk mengumpulkan uang dan membangun usahanya sendiri, tapi disisi lain dia gemar datang ke karaoke dengan menghabiskan jutaan rupiah.

Selama menjabat sebagai kepala desa satu periode kehidupannya dipenuhi dengan kemewahan dan menghambur-hamburkan uang hasil dari bengkok desanya, dan tentunya potongan anggaran desa dengan laporan fiktif tanpa ada bukti pekerjaan nyata di lapangan. Uang yang diperolehnya bisa melimpah jika waktunya panen dan pencairan anggaran desa, dan pada moment itulah dia pasti mendatangi tempat ritualnya mengumbar nafsu kesenangannya, karaoke dan dunia malam.

Hampir tiap dua minggu sekali Hasyim ke karaoke-glamor, menemui pacar-pacar mudanya yang sangat segar dan masih memiliki wajah yang imut. Uangnya telah memanjakan dirinya menjadi orang yang paling diinginkan oleh para gadis-gadis karaoke.

Istrinya, sudah mengetahui semua perbuatan Hasyim, namun lebih memilih diam dari pada harus melanjutkan perang mulut dengan suaminya. Menunggu saat yang tepat untuk meninggalkan Hasyim jika sudah berada dalam momentum yang menguntungkan.

Selama satu periode, Hasyim menjabat kepala desa di desa Karangrejo, sambil mengajak warganya untuk bergabung dengan bisnis multilevel marketing, atau bisnis jaringan dengan iming-iming keuntungan yang melimpah dengan cara cepat. Dalam benak Hasyim, berfikir dan bertindak cepat untuk mendapatkan uang adalah cara bijak untuk menjalani persaingan hidup.

Warga di desanya sudah melihat semua tindaklaku Hasyim yang kurang berpihak pada masyarakat, gemar ke karaoke dan suka berfoya-foya di glamor di kota-kota besar, seperti Surabaya. Bisnis jaringannya juga bukan sesuatu yang baik bagi masyarakat awam, karena ternyata bisnis tersebut hanya memberikan impian kosong dan cara sukses yang dipenuhi dengan kegagalan. Setiap bonus yang didapatkan ternyata adalah uang yang diperoleh dari anggota baru yang dipaksa untuk mencari orang baru, begitu seterusnya sampai anggota terbawa tercekik dan kehabisan tenaga untuk mengumpulkan manusia yang mau bergabung. Warga desanya banyak yang merasa dirugikan dan akhirnya memutuskan keputusan yang menentukan nasib Hasyim, turunkan dari kepala desa.

Gagal menjadi kepala desa untuk yang kedua kalinya Hasyim laksanakan samurai tanpa tuan, tidak mempunyai sandaran yang pasti dalam hidupnya. Masyarakat tidak lagi memperdulikannya sebagai tokoh yang disegani, tidak disertai lagi dengan pemasukan yang besar, tidak mempunyai pengaruh yang signifikan, mulai ditinggalkan oleh anak-anak muda, dan tidak mempunyai usaha yang bisa menunjang kebutuhan keluarganya. Tragisnya, istrinya menggugat cerai dengan tuntutan tidak diberi nafkah selama satu tahun yang langsung dikabulkan oleh pihak pengadilan agama di Tuban.   

Benjhol, hanya nama julukan saja, memiliki nama asli Hasan Rokhim. Lima tahun merantau ke Jakarta sebagai pekerja restoran dan berhasil mengumpulkan banyak uang. Karirnya itu mengantarkannya menikahi gadis Sunda yang cantik dan mempesona di mata banyak orang—kendati mantan pekerja karaoke di kehidupan malam.

Merasa mempunyai banyak uang dan memiliki pasangan hidup yang cantik, Benjhol pulang kampung ke Karangrejo untuk membangun bisnis baru dan berusaha untuk menjadi manusia yang mandiri secara finansial. Keahlian memasaknya membuat dirinya membuat restoran sendiri dengan konsep yang pernah dipelajarinya dari Jakarta.

Diawal kepulangannya dari Jakarta, Benjhol mendapatkan banyak pujian dari masyarakatnya, dianggap sebagai pria ideal yang sukses melakukan migrasi dan kaya di usia muda. Bisa merintis usahanya sendiri dengan uang tabungannya yang melimpah. Tapi itu tidak berjalan lama, dalam satu tahun kegagalan restorannya Benjhol jatuh miskin dan kehilangan semua tabungannya. Uangnya habis dan istrinya pulang ke kampungnya di Bekasi.  

Merasa putus asa dengan hidupnya yang selalu disertai dengan kegagalan—padahal hanya sekali gagal membuat restoran saja, dia pada akhirnya terjerumus pada hutang online dan hutang pada teman-temannya. Lembaga keuangan swasta bukan bank, BMT tidak luput dari pelampiasannya untuk mendapatkan hutang. Ujung-ujungnya dia sering menghilang, menghindar dari bertemu banyak orang agar tidak ditagih dan tidak mengembalikan hutangnya.

Cepat kaya dan cepat mendapatkan uang adalah solusinya untuk mengatasi seluruh hutang-hutangnya. Hanya itu yang ada di dalam pikirannya. Jalan cepat kaya dan cepat mendapatkan uang harus ditempuh. Cara yang masuk akal dan di kehidupan nyata sudah lagi mustahil ditempuh, maka jalan ghaib adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan uang lebih banyak. Tidak salah jika pada akhirnya Benjhol berkumpul dan bergabung dengan komunitas warung kopi di pojok desa yang mempertemukan dirinya—satu frekuwensi—dengan Hasyim untuk menjadi cepat kaya.

Ipung, nama aslinya Saiful Hadi Purnomo, seorang santri yang menduda di usianya yang sudah kepala tiga menjelang usia 40-an, pernah belajar di pesantren dan merasa putus asa jika apa yang diperolehnya dari pesantren gagal membuat dirinya kaya raya, karena semua ilmu dari pesantren tidak dibutuhkan di dunia kerja atau di perusahaan. Berkali-kali dirinya mendaftar ke perusahaan tapi gagal karena tidak bisa mengoperasikan aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan dalam dunia kerja, tahunya hanya kitab kuning dan “bidadari” yang dijanjikan oleh senior-seniornya di pesantren.   

Dunia nyata bagi dirinya adalah “dunia yang kejam”, maka dia mempunyai kegemaran mendatangi makam-makam yang dianggap keramat agar mendapatkan petunjuk untuk bisa membuka kekayaan emas permata di alam ghaib atau di dunia jin. Karena dia percaya sekali jika di Indonesia ini banyak harta kekayaan kerajaan di masa lampau di simpan di sebuah tempat yang dilindungi oleh Jin dan genderuwo. Maka dengan berkomunikasi dengan makhluk halus itulah dia berharap bisa mendapatkan petunjuk untuk mengetahui letak penyimpanan harta kerajaan nusantara.

Menduda, ditinggalkan anak dan istrinya Ipung hidup dalam kesepian dan penuh ejekan, dituduh sebagai ahli tempat-tempat pelacuran. Tidak disertai uang yang cukup dan pekerjaan yang mapan, dia meninggalkan dunia “santri dan pesantren” yang asyik dengan kajian kitab dan mengaji, alih-alih memasuki dunia baru “santri dan pesantren” yang cenderung mendekati makam-makam keramat dan mengakrabi habib-habib yang tidak jelas asal usulnya, agar bisa terlihat lebih mentereng.

Dan kondisi itulah yang pada akhirnya mendekatkan dirinya pada Hasyim dan Benjhol, yang mempunyai kesamaan visi untuk menemukan harta dari alam ghaib dan cepat kaya.

Cengkong, nama aslinya Khoirul Abdul Riyanto, seorang bapak beranak dua, mempunyai keluarga yang harus dinafkahinya. Namun terpaksa istrinya harus bekerja keras dengan menjadi pedagang ikan di pasar, untuk mencari uang karena dia suka menghabiskan waktunya di warung kopi untuk bermain slot dan melakukan pinjaman online.

Dia percaya jika dengan bermain slot maka keberuntungan akan berpihak padanya dan dia bisa mendapatkan banyak uang dari cara tersebut. Tapi itu hanya sekedar mimpi dan omong kosong, faktanya dia sudah terjerumus pada pinjaman online yang menembus angka 100 juta rupiah hanya untuk membiayai judi online atau bermain slot.

Dia penar belajar di pondok di sebuah pesantren tua di Lasem, tapi hanya tiga tahun setelah lulus dari madrasah aliyah, sehingga tidak menemukan apa-apa selama di pesantren—kecuali tidur siang, bergadang malam, menyaksikan gadis santri muda berangkat sekolah-mengaji, dan bermimpi menemukan bidadari dari anak orang kaya. Tentu saja itu sebuah omong kosong, karena dia hanya menikahi anak gadis nelayan yang harus diperjuanginya untuk hidup apa adanya.

Cengkong muak dengan hidupnya, ingin rasanya cepat menjadi kaya dan tidak bisa selamanya harus hidup sederhana. Dia bermimpi mempunyai seluruh fasilitas hidup yang lengkap, mulai motor honda terbaru, televisi smart, rumah yang megah dan bisa jalan-jalan tiap hari ke mall bersama istrinya. Maka jalan terbaik baginya untuk cepat kaya adalah menemukan cara yang efektif untuk membuka kekayaan dari langit atau kekayaan dari alam ghaib. Dan cara berfikir itulah yang menyatukannya dengan Hasyim, Benjhol dan Ipung.

Terakhir, Karmulin, pria yang aneh dan merusak dirinya sendiri dengan perilakunya yang miskin. Dia sebetulnya mempunyai bakat sebagai seorang qori karena suaranya merdu. Dalam acara dziba’an di musholla suara Karmulin selalu ada. Dalam sebuah group hadrah dia hadir dalam deretan vokalis yang dipuja-puja. Tapi apa daya, dunia kerja yang menguntungkan tidak berpihak padanya dan suara merdunya tidak berhasil mengantarkannya menjadi manusia tenar yang penuh dengan pujian dan uang. Pilihannya adalah bekerja sebagai buruh nelayan dengan penghasilan yang sangat terbatas.

Karena keterbatasan uang yang dimilikinya dia pada akhirnya menjadi manusia gagal membangun keluarga dan tidak bisa mendidik anaknya dengan baik. Istrinya pergi ke Malaysia menjadi TKI dan sudah tersebar desas-desus di desa Karangrejo jika istrinya sudah satu rumah dengan pria asal Bojonegoro.

Jika saja Karmulin mampu menahan nafsunya maka dia tidak akan terjerumus pada banyak masalah. Hanya gara-gara mengikuti trend dan berharap pujian-kekaguman dari tetangga-tetangganya dia menghutang dua sepeda motor seharga 41 juta rupiah untuk dua anaknya. Setali tiga uang, dua anaknya menjadi orang yang malas bekerja dan suka menghabiskan waktunya dengan bermain game online. Lengkap sudah kehancuran hidup yang dibangunnya sendiri.

Banyak hutang, banyak tagihan, dan merasa hidup ini “kejam” bagi dirinya Karmulin bergegas mendekati Ipung dan berharap temannya itu mengajaknya untuk menemukan jalan cepat menjadi kaya. Maka sudah sewajarnya jika Karmulin mempunyai visi yang sama dnegan Hasyim, Benjhol, Cengkong dan Ipung untuk mencari kunci yang bisa membuka harta kekayaan dari langit dan dari alam ghaib.

Pos terkait