Syawalan ke Ngarengan, Orang-Orang Hasan Ma’shum Palang Mengkaji Dua Kisah Inspirasi Tasawuf dari Kitab Usfuriyah

Jamaah Hasan Ma'shum Tuban-Lamongan-Gresik (sebagian) telah bersiap untuk melaksanakan sholat jamaah isya yang akan dilanjutkan dengan tawajuh, tahlil-yasin dan sharing tasawuf. Bagi orang Hasan Ma'shum Palang kedatangan pada acara Syawalan ini merupakan yang ke-II ke Surau Ngarengan

kitasama.or.id – Kelak di zaman kiamat nanti malaikat Jibril melakukan perjalanan keliling-keliling semesta arsy. Saat di neraka beliau mendengar orang berdzikir di neraka dengan menyebut “Ya Hanan, Ya Manan”. Jibril heran, kenapa di neraka ada orang yang bisa berdzikir dan memuji-muji Allah? apakah dia tidak merasakan rasanya panas api neraka, atau tidak mendapatkan siksa yang pedih, atau bahkan mendapatkan tempat yang nyaman di neraka? Semuanya itu menjadi teka-teki bagi Jibril.

Jibril menghadap ke Allah, bersujud memohon kepada Allah untuk memberikan syafaat kepada ahli neraka yang berdzikir itu, atas nama Muhammad Rasulullah. Allah mengabulkan permintaan itu dan mengizinkan Jibril untuk menjemput orang itu di neraka untuk dipindah ke surga.

Bacaan Lainnya

Kepada Malik pun Jibril berkoordinasi agar mencari orang yang dimaksud untuk dikeluarkan dari neraka. Malik melaksanakan permintaan Jibril dengan mengelilingi seluruh bagian wilayah neraka. Alih-alih mudah menemukan orang yang dimaksud, Malik berkeliling selama 40.000 tahun gagal menemukan orang tersebut. Malik pun menyampaikan kesulitannya menemukan orang yang dicarinya kepada Jibril, bahwa di seluruh neraka dengan waktu 40.000 tahun kesulitan untuk menemukan orang yang berdzikir itu. Padahal suara dzikirnya di dengar oleh para malaikat.

Jibril kembali singgasana arsy untuk bersujud dihadapan Allah yang kedua kalinya. Kali ini dia bersujud untuk memohon petunjuk agar Allah berkenan menunjukkan keberadaan orang berdzikir yang ada di neraka itu. Dan Allah pun mengabulkannya dengan memberikan titik koordinat yang tepat, lokasi yang sesuai dengan keberadaan orang tersebut.

Lagi, Jibril kembali ke neraka untuk menyampaikan informasi penting tentang keberadaan orang tersebut kepada Malik. Dan Malik langsung menuju ke titik koordinat yang telah diberikan oleh Jibril untuk segera menjemput orang tersebut. Benar saja, di sebuah tempat di neraka yang sangat dalam dan terpencil Malik menemukan orang yang dicari oleh Jibril.

Jibril kemudian membawa orang tersebut menuju ke surga. Sepanjang perjalanan dari neraka itu para malaikat yang ada di sekitar neraka mengenali orang tersebut dan saling berkata, “inikan orang yang 40.000 tahun berada di neraka jahanam! Benarkan?” kemungkinan heran, kenapa berjalan didampingi oleh Jibril.

Setelah sampai di pintu surga, Jibril pun memanggil Ridlwan agar menerima orang tersebut di surga dan menjadi bagian dari penghuninya.

***

Itulah kisah pertama dari kitab usfuriyah yang dikaji dalam acara halal bi halal di surau Ngarengan, yang dihadiri oleh 31 jamaah putra dan 15 jamaah putri dari Tuban-Lamongan-Gresik pada Sabtu, 20 April 2024. Pelajaran penting dari kisah tersebut adalah bahwa :

Pertama, Seorang ahli dzikir tidak merasakan panasnya api neraka, tidak menerima siksaan di neraka, bertempat di tempat yang nyaman di neraka dan bisa leluasa berdzikir.

Kedua, Malaikat Malik, sebagai pengelolah seluruh neraka hanya bisa mendengarkan dzikirnya sang ahli dzikir yang ada di neraka, namun tidak tahu keberadaan pastinya dimana. Hanya dzikirnya yang didengarkan.  40.000 tahun bukanlah waktu yang sedikit untuk mencari keberadaan orang ditempat yang dikelolahnya sendiri.

Ketiga, Dua sujudnya Jibril, bisa menolong orang di neraka untuk berpindah ke surga, yakni a) sujud meminta syafaat atas nama Muhammad Rasulullah dan b) sujud memohon petunjuk. Artinya ada beberapa sujud yang sangat khusus dilakukan oleh makhluknya Allah selain rukun sholat, sahwi, tilawah dan syukur.

***

Untuk memperkuat pemahaman tentang berdzikir, ada tambahan satu lagi kisah dari kitab usfuriyah yang dibahas dalam forum halal bi halal tersebut.

Ada seorang pria yang sedang melaksanakan haji. Pada saat wukuf di Arofah orang itu telah mengambil tujuh batu untuk digenggam di tangannya. Saat menggenggam batu itu orang itu berkata untuk bersaksi, “wahai batu, saksikanlah bahwa aku telah bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya”.

Beberapa tahun kemudian pria itu wafat dalam usia yang telah ditentukan dalam takdirnya.

Malaikat Malik melihat bahwa orang ini layak masuk ke dalam neraka, maka dia pun memasukkan orang tersebut ke dalam neraka. Akan tetapi hal aneh telah terjadi setiap orang itu sudah berada di gerbang neraka.

Ketika berada di pintu neraka pertama, orang itu telah melihat bahwa pintu neraka telah tertutup dengan salah satu dari tujuh batu yang dulu dipeganggnya di Arofah. Malik heran bukan main menyaksikan keajaiban tersebut.

Malik pun menuju ke pintu neraka yang kedua. Tapi pintu neraka yang kedua juga sudah tertutup dengan batu yang dipegangnya di Arofah. Malik membawa ke pintu neraka ketiga, dan pintu ketiga neraka juga sudah tertutup oleh salah satu batu yang dipegang oleh orang tiu di Arofah.

Sampai pada pintu yang terakhir neraka, pintu yang ke tujuh, Malik pun gagal memasukkan orang tersebut karena semua pintu neraka sudah tertutup oleh batu yang dipegang oleh orang itu saat wukuf di Arofah. Pada akhirnya Malik menyerah dan menyerahkan orang tersebut ke Ridlwan untuk dimasukkan ke dalam surga.

Di depan gerbang surga, orang ini masih kesulitan membuka pintunya. Tapi tidaklama kemudian bisa membukanya dengan mudah, dengan kunci yang sudah dimilikinya sejak hidup di dunia dahulu, yakni kalimat Laa ilaha illallah.

Dari kisah ini ada tiga pelajaran penting tentang dzikir yang bisa ditarik sebagai sebuah benag merah, yaitu :

Pertama, Laa ilaha illallah adalah kuncinya Surga. Orang tidak akan bisa memasuki surga jika di dalam qalbunya tidak mempunyai kalimat tauhid ini, yang menyatukan dirinya dengan pemilik kalimat tersebut, yakni Allah itu sendiri. Tentunya bukan sembarang kalimat ini yang diucapkan secara mudah, tapi Laa ilaha illallah yang benar-benar diwariskan dari para nabi hingga para ulama pewarisnya (mursyid).

Kedua, wukuf di Arofah adalah moment yang paling menentukan dalam rangkaian haji. Tanpa wukuf tidak ada artinya mengunjungi ka’bah (umroh misalnya), karena di dalam wukuf itulah komunikasi awal manusia dengan Allah telah terbangun sebelum memasuki baitullah (thawaf) dan berdzikir diantara showa dan marwah (sa’i). wukuf bukan sekedar waktu dan tempat, tapi sebuah kondisi seorang mukmin yang sukses menjalin penyatuan dirinya dengan Allah hingga tidak sadarkan diri dan lupa keberadaan dirinya sendiri.

Ketiga, pintu neraka berada dalam Latifah-Latifah yang melekat dalam diri manusia. Artinya hanya dengan berdzikir (dengan tujuh batu) ketujuh pintu neraka atau ke tujuh Latifah bisa tertutup dan dihancurkan segala jalan masuknya. Ketujuh Latifah dalam diri manusia merupakan pintu segala dosa, pintu neraka yang menjerumuskan manusia untuk melupakan Allah, dan hanya bisa ditutup dengan dzikrullah—dalam konteks ini tentunya hanya ahli dzikir yang lebih faham dan yang sudah mencapai kajian yang telah dimaksud (Lathaif).

***

Dengan menggunakan colt yang biasa disewa, orang-orang Hasma Palang yang datang syawalan ke Surau Ngarengan diantaranya adalah Syihab, Faizin, Sukardi, Darmawan, Wiyoto, Sholihin, Kawakib, Musyafa’, Hariyanto, Cantik, Ragil, Hindun, dan Harti.

Acara pada malam itu diawali dengan jamaah sholat isya’, dilanjutkan dengan tawajuh, lalu disertai dengan bacaan surat yasin dan tahlil untuk ahli kubur jamaah yang malam itu punya hajat—kiai Akhmad Maksum. Acara ditutup dengan ramah tamah yang diiringi dengan sharing atau kajian tasawuf yang dimoderatori oleh Syihabuddin. “Ini acara yang sangat inspiratif dalam belajar tasawuf, saya sangat bahagia bisa mengikutinya.” Tegas Darmawan. “Semoga lain waktu kami bisa mendapatkan kisah inspiratif yang sama.” Sahut Wiyoto.

Pos terkait