BADAI CINTA; Kisah Perjuangan Gadis Pesisir Membangun Mental (Part 1)

Kesendirian bukanlah kelemahan, kesendirian bisa menciptakan kecerdasan dan kepekaan berfikir. Kondisi yang tenang cenderung membuka hati dan meluaskan pandangan untuk melihat dunia semakin bijaksana dan semakin sadar akan kelemahan diri sebagai manusia dihadapan Tuhan pencipta alam.

Pagi yang masih begitu buta, baru saja orang orang turun dari Masjid untuk melaksanakan shalat subuh sebagian juga masih ada yang mendengkur, menarik selimut untuk melanjutkan tidur, namun tidak untuk sebagian masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai desa bagian timur Kota Tuban.

 Ya, di desa itulah sebagian masyarakat diberbagai kalangan dari ibu ibu nyentrik sampai bapak bapak berdasi, mereka memadati pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan para tukang becak berjejer menunggu langganannya.

Bacaan Lainnya

 Jauh di seberang sana satu persatu  kapal mini nelayan memasuki pelabuhan, nampak seorang bapak bapak di tepi pantai  yang hanya menggunakan kaos singlet putih dan bercelana pendek sementara sarungnya Ia kalungkan di lehernya begitu saja tengah melambaikan tangannya ke arah salah satu kapal yang baru saja masuk.

 Bapak yang berkumis tebal, bermata tajam berwajah menakutkan yang memakai kaos singlet itu adalah juragan sang pemilik kapal yang baru saja memasuki pelabuhan. Bapak itu menangkap uluran tali yang diarahkan padanya ketika kapal mulai mendekati bibir pantai, Ia tarik kuat kuat tali tersebut hingga kapal bener benar mendarat dengan pas, setelah itu Ia mulai mengikat tali tersebut ke batu besar yang mampu menahan kapalnya.

 Beberapa armada turun dari kapal beberapa yang lain mengulurkan wadah yang berisi ikan hasil tangkapan yang, sementara yang lain ada yang masih memilih milih ikan di dalam kapal, ada yang sibuk dengan mesin dan ada juga beberapa yang disibukkan dengan jaring ikan.

 Ikan hasil tangkapan itu mereka bawa ke tengah kerumunan orang dengan berbagai jenis ikan berjejer menunggu giliran untuk ditimbang, di sinilah awal mula transaksi jual beli ikan dilakukan, mulut para ibu ibu pembeli ikan mengoceh tidak jelas saling menawar harga ikan.

 Dari arah berlawanan seorang gadis mudah berjalan dengan berjinjit jinjit meski Ia telah memakai sandal mendekati para kerumunan. Sesekali Ia mencoba menghindar saat tubuhnya hendak bersentuhan dengan para nelayan yang menyeret nyeret wadah ikan ataupun menggotongnya tangannya pun tak mau lepas menutupi hidung dan mulutnya.

“Ibu!” serunya, namun wanita yang dipanggilnya Ibu itu tak menghiraukannya entah tak mendengar atau Dia tengah fokus dengan priya yang bertugas mencatat hasil timbangan ikan.

 Gadis itupun menepuk bahu wanita yang ada didepannya, spontan wanita itupun segera memalingkan muka.

“Pipit?”

“Ibu ngapain suruh Pipit datang ke sini?” Tanyanya

“Tunggu sebentar, duduk aja dulu.” Pinta sang Ibu, Gadis yang bernama Pipit itupun melihat sekeliling tak ada tempat duduk yang ada hanya bangku panjang yang terbuat dari semen tempat si penimbang berada itupun kotor dan ada beberapa ikan besar disampingnya, mulutnya cengar cengir seakan jijik melihat tempat itu alangkah lebih baik Ia berdiri saja dari pada harus duduk ditempat seprti itu.

“Pipit mau pulang.” Kali ini suaranya menggema tepat digendang telinga sang Ibu. Si Ibu pun menatapnya

“Iya, bawa ini sebentar.” Kata Ibu sambil memberikan beberapa kertas kecil warna warni ukuran 5X5cm atau seukuran kertas undian kearah Anaknya, Pipit memegang kertas itu hanya dengan kedua jarinya.

“Ini apa bu?” Tanyanya, sang Ibu tak menggubris, dilihatnya  Ibu melangkah meninggalkannya mendekati ibu ibu lain yang tak Ia kenal, entah apa yang mereka perbincangkan.

Dilihatnya kertas di jarinya itu ada coretan coretan huruf yang tak Ia pahami hanya angkanya saja yang tertulis dengan jelas ada yang lima puluh, tujuh lima, dan lain lain.

 Lima menit kemudian Sang Ibu kembali dengan kresek hitam ukuran tanggung.

“Ini berikan sama mbah Surti.” Kata Ibu sambil menyerahkan kresek yang dibawanya tadi.

“Apa ini?” Tanya Pipit tanpa harus menunggu jawaban dari Ibunya, Ia buka kresek hitam itu ada beberapa Ikan di dalamnya.

“Sudah berikan saja, biar dimasak sama mbah Surti.”

Pipit hanya mengangguk, Mbah Surti si janda tua yang tinggal disamping rumahnya itu. Sampai di rumah Pipit segera mandi walaupun tadi dia sudah mandi tapi seluruh badanya terasa bau ikan dan gatal gatal.

Pos terkait