Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

NAWANG WULAN, FILOSOFI WANITA JAWA DAN KOMITMEN MENJADI SOSOK MANUSIA YANG BEBAS

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Dalam tradisi masyarakat Jawa keberadaan wanita merupakan sebuah poros utama dan sangat menentukan dalam jalannya kehidupan umat manusia. Dari asal usulnya saja, wanita merupakan konstruksi dari sebuah nilai-nilai yang sangat tinggi dalam konteks peradaban manusia.

Asal kata wanita (wanito) dari tembung wani (berani) dan toto (ditata), yang artinya berani untuk menjadi manusia yang ditata. Secara istilah bisa dijelaskan bahwa sosok wanita merupakan manusia yang harus berani, siap sedia, dan totalitas dalam semua konteks untuk ditata menjadi bagian dari pembangunan peradaban manusia. Menjadi seorang wanita berarti menjadi bagian yang sangat penting untuk membangun tata negara, tata agama, dan pranata-pranata yang lainnya.

Menjalani peranannya menjadi seorang wanita yang telah dipertemukan secara tidak sengaja, tentunya dengan takdir yang sudah digariskan, membuat dewi Nawang Wulan memposisikan dirinya menjadi manusia yang siap ditata, ditata oleh suaminya untuk bersama-sama berkomitmen membangun peradaban manusia.

Pertemuan dewi Nawang Wulan dengan Jaka Tarub membuat sebuah perubahan yang sangat drastis terhadap lingkungan, persepsi masyarakat, dan juga dirinya Jaka Tarub sendiri. Dalam sebuah misi yang tidak direncanakan dia telah dipertemukan dengan sosok yang sangat mempesona. Wajah cantiknya seolah sebuah perwujudan dari alam Indonesia, kulitnya bersih dan lembut bagaikan sutra, matanya bersinar bak rembulan di malam purnama, dan senyumnya seolah mampu menghetinkan terjadinya gempa.

Dari sebuah pertemuan itulah pada gilirannya mereka melangsungkan sebuah pernikahan yang menuntut keduanya untuk berkomitmen membangun sebuah kehidupan yang saling melengkapi.

Komitmen menikah mengharuskan seorang pria memiliki sebuah kekuatan total tanggungjawab, yakni tanggungjawab yang maksimal terhadap apa yang ada dalam dirinya sekaligus dalam diri istrinya. Apa yang ada pada istrinya, baik-buruknya merupakan tanggungjawab sepenuhnya seorang suami. Masa depan hidup matinya istri, kondisi kehidupan saat di dunia si istri, dan prediksi kehidupan masa depan di akhirat sang kekasih sepenuhnya berada pada tanggungjawab suaminya. Jika si istri gagal dalam semua konteks tersebut maka sepenuhnya yang paling bertanggungjawab adalah suaminya.

Oleh karena itu persoalan menikah (jejaka yang ingin menikah) bukan hanya persoalan terpesona pada kecantikan paras wanita, bukan keinginan untuk melampiaskan birahi dirinya, dan bukan pula menunjukkan keperkasaan sebagai lelaki, tapi lebih dari pada itu.

Menikah adalah persoalan kesiapan seorang pemuda untuk menjalani kehidupan yang berat, menyiapkan sebuah organisasi terkecil “keluarga” dari pembentuk peradaban manusia, dan menyiapkan jalan bersama agar bisa menemukan arah untuk kembali ke haribaan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, kesiapan menikah bagi pemuda tidak hanya terbatas pada kesiapan harta benda, kesiapan rumah, kesiapan uang belanja, dan apalagi kesiapan tanah sawah, tapi lebih pada kesiapan mental-spiritual untuk membimbing, menjalani, dan membentuk bagian-bagian terpenting bagi jalannya sejarah umat manusia dan peradaban yang membentuknya.

Itulah tujuan pernikahan yang sejati, tidak berorientasi pada kepemiliki harta benda namun lebih pada penguasaan terhadap energi spiritual untuk menundukkan alam semesta.

Pernikah model tertinggi inilah yang dijalani oleh dewi Nawang Wulan dengan Jaka Tarub. Tanpa memandang posisi Jaka Tarub, harta yang dimiliki oleh Jaka Tarub, dan keberadaan asal usul Jaka tarub, dewi Nawang Wulan menerima Jaka Tarub sebagai suaminya dan menyatakan kesiapsediaannya untuk menjadi manusia yang siap ditata.

Siapakah sebenarnya Jaka Tarub? bagi Dewi Nawang Wulan yang berilmu tinggi, sosok bidadari yang menguasai kesaktian dan memiliki paras kecantikan bukanlah sebuah masalah, dan bukan alasan untuk menghalangi jalannya cintanya. Dari sudut pandangnya sendiri dewi Nawang Wulan sudah tahu apa yang ada di dalam dirinya Jaka Tarub, sehingga tanpa berfikir panjang maka cintanya Jaka Tarub pun diterima olehnya.

Sadar akan kemampuan yang dimilikinya dan tahu secara ruhani sosok pemuda yang melamarnya, tanpa berfikir panjang dewi Nawang Wulan menerimanya sepenuh hati. Pernikahan mereka tidak didasarkan pada harta benda, karena pada kenyataannya semua kebutuhan Jaka Tingkir sudah diselesaikan oleh dewi Nawang wulan dengan menjaga priok nasi tetap penuh.

Dengan modal kemampuan menaklukkan alam semesta inilah dewi Nawang Wulan dan Jaka Tarub melangsungkan rumah tangga. Mereka tidak memandang ke kiri dan ke kanan atau ke belakang, tapi lebih memandang ke depan lurus secara vertikal.

Pernikahan seorang wanita yang memposisikan dirinya sebagai manusia yang siap ditata inilah yang semakin menguatkan identitas manusia bebas, bebas dalam ikatan palsu mendapatkan harta, bebas dari gangguan kebutuhan sehari-hari, bebas dari paksaan dan bebas pula dari unsur-unsur kepalsuan dunia lainnya.

Pernikahan dewi Nawang Wulan merupakan pernikahan yang mencerminkan manusia bebas. Mereka menikah bukan disibukkan dengan repotan ke Kantor Urusan Agama, disibukkan dengan jumlah mahar dan biaya resepsinya, sekaligus tidak disibukkan dengan jabatan dan idealisme realisme ala Barat (gelar sarjana, dll).

Pernikahan mereka berdua murni tanpa ada embel-embel lain yang menyertai niatnya. Mereka murni untuk menata dengan memposisikan wanita sebagai gravitasi pembentukan masyarakat. Wanita menjadi poros utama putaran awal hingga akhir terbentuknya sebuah peradaban, lingkungan yang kondunsif, dan penyatuan dua insan yang berbeda yang penuh bahagia. Pada saat pernikahan mereka dimulai maka pada saat itulah dewi Nawang Wulan menjadi medan gravitasi mulai muncul, menjadi poros mulai digerakkan, dan menjadi turbin penggerak kebudayaan serta keserasian alam mulai dijalankan. Tidak mengherankan dalam perjalanan hidupnya pasca menikah dengan Dewi Nawang Wulan nasib Jaka tarub berubah drastis, pun setelah dia ditinggal istrinya.

Ketika Jaka tarub dan dewi Nawang Wulan memustuskan untuk berpisah maka saat itulah gravitasi peradaban telah berhenti. Namun efeknya pada Jaka Tarub tetap membekas dan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap masyarakatnya.

Dengan demikian menjadi wanita bebas adalah menjadi wanita yang siap menikah dengan pemuda yang berkualitas ruhaninya, bukan kaya hartanya atau tinggi kedudukan pangkatnya. (Justru) menjadi manusia (wanita) yang bebas adalah dengan menjadi istri yang siap ditata dalam segala hal (oleh suaminya), karena pada hakekatnya pada diri wanitalah itulah seluruh keserasian alam semesta direpresentasi pada dirinya. Sehingga ketika wanita bisa ditata maka keserasian dan keharmonisan pun bisa terwujud dalam kehidupan manusia.

Sebuah buktinya nyata, kehidupan seorang lelaki terkadang hancur berantakan seketika, atau luluh lantah dalam sekejap tatkalah hubungannya dengan istri-istrinya telah berakhir pada kehancuran dan perpisahan. Tragisnya, keberhasilan seorang lelaki lebih banyak ditentukan oleh dukungan total dari istri-istrinya, jarang sekali sebaliknya kecuali si lelaki merupakan sosok yang “superhero”.

Dewi Nawang Wulan adalah salah satu bentuk kenyataan wanita yang total mendukung Jaka Tarub.