Keris Mustika Nagasosro dan Pria Pemanggil Hujan Emas (Part 4) Juru Kunci Musholla dan Rumah Gubuk di Tengah Hutan

Kelima orang pesisir berpakaian santri, memasuki sebuah hutan untuk mencari gubuk tempat tinggal sosok kiai yang bisa mendatangkan hujan emas. Upaya mereka membuahkan hasil setelah berjalan beberapa kilo meter, akhirnya menemukan gubuk yang dicarinya.

kitasama.or.id – Hutan yang memisahkan dua desa di kecamatan Kerek, beberapa pohonnya berupa gerumbulan tanaman yang tidak pernah dibakar dan dibersihkan, sebagian lagi wilayah itu dimanfaatkan oleh masyarakat desa di hutan sekitar untuk menanam jagung. Perjalanan malam di jalan ini merupakan sebuah pertaruhan yang sangat besar, sempit, tanpa penerang dan selalu sepi dari orang yang berjalan.

Jalan utamanya merupakan jalan yang sempit, tidak bisa leluasa digunakan untuk simpangan dua mobil, salah satunya harus berhenti dan mencari tempat menyamping. Di kiri dan kanannya merupakan pegunungan yang menjulang membentuk sebuah sabuk bumi yang sangat besar, menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat di desa hutan setempat.

Bacaan Lainnya

Itulah kondisi wilayah yang disaksikan oleh Ipung, tentang sosok kiai yang bisa menurunkan hujan berupa kerikil-kerikil emas. Entah itu emas sungguhan atau hanya air yang terlihat kuning, masih belum jelas bagi Ipung. Tapi cerita yang disampaikan Ipung cukup menyakinkan bagi orang-orang yang berharap kaya lebih cepat, segera saja menjadi target untuk mendapatkan uang yang lebih banyak dalam waktu sekejap.

Ipung berdiri diantara teman-temannya di sebuah tanah perkebunan jagung yang sudah dipanen, melihat sekitarnya yang penuh dengan hutan dan dikelilingi sebuah pegunungan. “Disinilah tepatnya, aku melihat kiai hebat itu menengadakan tangannya untuk menurunkan hujan emas.”

Hasyim menginjak-injak tanah di bawah kakinya, seolah tahu kondisi tanah yang sudah pernah kejatuhan batu mulia seperti emas. “Sepertinya penglihatan kang Ipung tidak salah. Ini memang bekas tanah yang pernah ada emasnya.”

Cengkong dan Benjhol masih belum yakin, bahwa tanah itu pernah ada emasnya. Mereka berdua meragukan injakan kakinya Hasyim. “Kau yakin bahwa tanah itu memang benar seperti yang kamu katakana, mas?” Cengkong bertanya dengan nada agak meninggi karena merasa sepi, sehingga bebas berteriak.

“Iya, aku yakin, inilah tanah yang benar-benar pernah dijatuhi emas.” Jawab Hasyim.

“Lalu apa yang akan kita lakukan disini, tidak ada sisa-sisa emas yang bisa kita ambil?” Benjhol belum sepenuhnya yakin.

“Maka dari itu mas, kita cari sekarang, sebelum ada adzan asyhar berkumandang.” Ajak Hasyim.

“Oh kita belum sholat dzuhur ya ini. Apa tidak sebaiknya kita sholat dulu di kampung terdekat, pasti ada musholla.” Ipung menyadarkan teman-temannya jika perjalanan mereka sudah memasuki waktu dzuhur.

Benjhol dan Hasyim menarik nafas panjang, tanda kekesalan dengan ajakan Ipung. “Kang Ipung, bagaimana kalua kita gabungkan saja nanti sholat dzuhurnya dengan asyar, kan ini termasuk perjalanan, bolehkan dijama’.” Benjhol menjelaskan kemalasannya.

Ipung pun semakin kesal mendengar kata-kata temannya yang paling dedel dan begok itu. “Aku tahu kalian setengah-setengah menjadi santri, tapi setidaknya jika sholat kita terjaga apapun kegiatan kita bisa disertai oleh Allah sang pencipta segala alam semesta dan isinya.”

“Mas, sebaiknya ceramahmu sampaikan di masjid saja, jangan di forum ini, karena sekarang waktunya fokus mencari emas.” Cengkong tertawa menggoda Ipung.

Ipung menendang bokongnya Cengkong, sambil tersenyum. “Begini lho, dengan tetap sholat lima waktu, kata kiai saya dulu, sejelek-jeleknya anak akan tetap menjadi baik, semiskin-miskinnya orang tetap akan tertolong untuk bisa melanjutkan hidup, dan seberat-beratnya hidup akan mendapatkan keringanan untuk menjalaninya.”

“Iya mas, saya tahu itu, tapi itukan Cuma ada di dalam kitab, dan faktanya-kan tidak bisa dibuktikan secara nyata. Buktinya, negara-negara muslim yang rajin sholat tepat waktu belum ada yang menjadi negara kaya atau negara maju, ha..ha…” Hasyim tertawa keras, diikuti dengan Cengkong dan Benjhol.

“Lagian, sampeyan yang sholat sejak kecil hingga sekarang saja masih miskin dan belum punya apa-apa.” Cengkong menguatkan pendapatnya Hasyim, tentunya dengan bergurau. “Bahkan sampeyan kehilangan segalanya, termasuk berpisah dengan istri dan anak-anakmu.” Gurauan itu diikuti dengan gelak tawa yang semakin keras.

“Jika benar-benar sholat itu menjadikan kita kaya, maka kita tidak perlu bersusah payah menjalankan misi untuk mencari emas, gara-gara kita kekurangan makan dan kekurangan harta. Seandainya saja sholat kita didengar dan dilihat oleh Allah pasti rahmatnya Allah turun pada kita sehingga hidup kita bisa menjadi sejahtera.” Sambung Hasyim.

“Hai, babi-babi pesisir, bukan karena sholat atau ibadah kalian yang bisa menjadikan kalian tetap miskin dan melarat seperti, itu karena perilaku kalian yang justru memiskinkan diri sendiri. Ada yang ahli judi online, suka ke dunia malam dan karaoke, dan ada pula yang selalu salah memperhitungkan usahanya yang padat modal.” Bantah Ipung yang tidak mau kalah dengan teman-temannya. “Berapapun uang yang akan kalian terima, sekalipun gunung ini menjadi emas, kalian tidak akan bisa kaya dan tidak akan bisa menjadi orang yang memajukan negara.”

Hasyim balas tertawa, merasa dirinya disinggung dengan kegemarannya bermain purel di karaoke, “Hay, lalu kamu, santri pondok yang miskin dan tidak bisa kaya, apa kabar dengan sholatmu?”

Ipung menarik nafas panjangnya, melepas kopyahnya dan berusaha membalas ucapannya Hasyim. “Aku sadar, memang aku lama di pesantren dan rajin mengaji. Tapi semua bekal keilmuan di pesantren itu memang tidak dipersiapkan untuk menjadi kaya atau mengumpulkan uang. Justru dimanfaatkan untuk membangun mental dan menyiapkan manusia yang rajin beribadah kepada Allah, jadi tidak ada hubungannya dengan sholat. Tahukan.”

Ipung menendang-nendang kayu yang ada disekelilingnya, berharap menemukan sesuatu yang dicarinya. “Dan aku juga sadar, bahwa ilmu dari pesantren belum mampu menjawab tantangan zaman, karena bidangnya hanya berfokus pada nahwu-shorof dan fiqih ibadah—fiqih muamalah pun enggan dan tabu untuk dikaji.”

“Lalu apa maksudmu, kamu mengajak kita-kita kesini untuk menemukan orang yang mendatangkan emas?” tanya Cengkong.

“Aku tahu kita butuh uang untuk segala kebutuhan kita, dan kalian pastinya tertarik, walaupun aku sendiri juga belum sepenuhnya yakin.”

Jawaban jujur Ipung membuat teman-temannya bagaikan menelan es batu, kerongkongannya sakit dan dadanya mendadak berhenti.

“Iya, kan. Kalian lebih tertarik mencari emasnya-kan, dari pada aku sendiri.” Ipung semakin memperkuat prediksinya.

Hasyim menelan ludahnya, merasa terpukul dengan ucapan Ipung. “Kau benar, kami lebih tertarik emas yang kamu ceritakan dari pada dirimu sendiri. Dan kami berharap, apa yang kamu lihat itu benar.”

Ipung tertawa, merasa menang dan bisa mengalahkan teman-temannya. Argumennya ternyata benar tentang keinginan untuk menemukan emas, teman-temannya lebih membutuhkannya dari pada dirinya.

“Mas, aku tanya?” Benjhol merasa terpukul, dengan apa yang dijelaskan oleh Ipung.

Ipung tersenyum, dan mengedipkan matanya, memberikan tanda silahkan.

“Lalu apa tujuanmu mengantarkan kami menuju ke tempat adanya turunnya hujan emas? Padahal kamu sendiri kurang tertarik dengan emasnya.”

“Aku hanya penasaran saja, ingin tahu metode dan caranya mendatangkan emas itu, jadi bukan pada emasnya yang akan aku cari.”

“Yang kau maksud kiainya yang memanggil hujan?”

“Iya, aku penasaran dengan orang itu, bagaimana dia melakukannya.”

“Kau tidak tertarik dengan emasnya?” Hasyim mulai meninggikan nada bicaranya karena merasa ternodai hatinya oleh Ipung.

“Iya, jika benar ada emas, maka setidaknya aku bisa membuat usaha baru yang lebih baik, yang bisa membiayaiku untuk membeli kitab, membangun rumah untuk buku-bukuku, dan kalau diizinkan sama Allah, ya menikah lagi dengan wanita yang cocok.”  Ipung menjawab dengan tertawa.”

“Woww, dasar anak jogor, bilang kalua kau juga butuh emas.” Cengkong kesal dengan jawaban Ipung.

“Tapi aku kan tidak segairah kalian untuk mendapatkan emas itu.” Ipung membantahnya.

“Sudah, sudah. Jangan banyak bergurau. Sekarang apa sebaiknya yang bisa kita lakukan disini, sholat dulu atau tetap mencari sisa-sisa emasnya.” Hasyim menegaskan tujuan awal mereka mendatangi tempat itu.

“Kita sholat dulu.” Dan ketegasan Ipung itu diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka pun mencari musholla di kampung terdekat untuk mengerjakan kewajiban dirinya sebagai seorang hamba itu.

***

Tidak jauh dari tempat mereka melihat kiai pemanggil hujan emas, ada sebuah musholla yang sedikit terpencil dari perkampungan masyarakat. Mushollanya bersih, dan terlihat lebih terawat, melihat kondisinya yang terpencil. Disampingnya ada sebuah gubuk kecil yang lusuh, terbangun dari gelam dan papan kayu. Di musholla itulah mereka sholat dzuhur dan akhirnya dipertemukan dengan orang laki-laki paruh baya yang kelihatan sangat mengetahui tujuannya kelima orang-orang itu.

Setelah diskusi panjang lebar, menanyakan perihal tujuan dan maksud kedatangan orang-orang pesisir ke tengah hutan pedalaman di Tuban itu, akhirnya kata kunci yang ditunggu-tunggu telah dikeluarkan oleh juru kunci musholla tersebut.

“Kalian masuklah ke dalam hutan itu, berpakaianlah yang rapi layaknya santri, jika perlu memakailah jubah Arab yang bersih. Tepat dibalik gunung itu ada sebuah gubuk kecil yang berdiri diantara pepohonan jati yang mengelilinginya.”

“Itu rumah kiai Sardono?” Hasyim bertanya pada juru kunci musholla, setelah tahu nama kiai sang pemanggil hujan emas dari sang juru kunci.

“Benar, dan kalian harus datang pada sore hari menjelang maghrib. Karena hanya pada waktu itulah beliau bisa ditemui oleh tamu-tamunya.” Tegas sang juru kunci. “Sore ini bisa, dan kalian bisa sholat asyar disini.”

Baik sekali juru kunci musholla ini, memberikan tumpangan untuk sholat sekaligus menunjukkan tempat tinggal kiai Sardono. Kebaikan itu yang mendorong Hasyim bertindak cepat untuk meminta bantuan yang lebih besar.

“Apakah kami boleh menitipkan motor kami disini, selama kami menuju ke tengah hutan?”

Sang juru kunci tersenyum, wajahnya sangat penuh kemurahan dan keramatahan. “Monggo, dengan sekuat tenaga dan penuh amanah motor kendaraan bapak-bapak akan kami jaga.”   

Dan benar saja, setelah sholat asyar, tepat pukul 15.30 kelima orang pesisir dari desa Karangrejo yang ingin cepat kaya itu berjalan memasuki hutan untuk mencari kediaman kiai pemanggil hujan emas. Kelima motornya pun dititipkan ke rumah juru kunci musholla itu, dengan cukup yakin menjadi tempat yang aman untuk melindungi salah satu kekayaannya.

Tentang pakaian, mereka semua telah meminjam dari juru kunci musholla—terutama jubah, karena ternyata sang juru kunci sudah mempersiapkan segala kebutuhan orang yang akan bertemu dengan kiai Sardono. Hasyim, Cengkong dan Benjhol bersegera memakai jubah gaya Arab dan Pakistan, sedangkan Ipung memilih memakai baju putihnya sendiri dan Karmulin malah memakai baju merah. Mereka semua berkopyah putih.

Mereka berjalan kurang lebih dua jam, menyusuri hutan yang membentang di pegunungan kecamatan Kerek, Singgahan, dan Bangilan. Kelelahan, kehausan, lupa menyiapkan air untuk perjalanan yang tak terduga, membuat mereka semakin tidak kuat meneruskan jalan kaki dan ingin segera sampai. Konsentrasinya mulai pecah dan tidak fokus pada dirinya sendiri, hanya pada emas, emas dan emas.

Akhirnya, setelah merasa kelelahan sampai mencekik lehernya, mereka berlima melihat sebuah rumah gubuk, ciri-cirinya persis seperti yang ditunjukkan oleh sang juru kunci musholla.

Tidak sabar, ingin segera mendekat, tidak lagi memikirkan apa yang akan terjadi, dan terdorong oleh perasaan kaget “karena benar adanya gubuk itu”, mereka berlima segera mempercepat langkahnya, sambil hatinya berteriak, hore..ketemu. kami akan kaya.

Hanya Ipung yang menyadari ada sesuatu yang janggal dengan apa yang baru saja dialaminya.

Pos terkait