Ayo Berkerja; Uang Bukan Segalanya, Tapi Segalanya Membutuhkan Uang

Uang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang. Uang tidak menjamin kebahagian seseorang, namun setidaknya dengan mempunyai uang hidup tidak meminta-minta dan bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa tergantung dengan belas kasihan dan pemberian orang. Dengan banyak uang kita bisa lebih banyak waktu untuk membaca buku dan meningkatkan pengetahuan. Buku dan uang adalah satu kesatuan.

Uang hanya sekedar alat tukar untuk melakukan sebuah transaksi jual beli. Uang menjadi sebuah sarana yang paling efektif untuk menjalankan beragam kerjasama jual beli sampai pada bentuk pemberian hadiah. Dalam perjalanannya uang menjadi “senjata” yang paling ampuh untuk menciptakan segala kenikmatan hidup, membangun kota dan menghasilkan beragam pekerjaan.

Memang memiliki uang bukan segalanya dan bukan pula kebutuhan utama dalam hidup ini, uang juga tidak bisa menjamin nyawa kita selamat, hidup kita bisa berjalan baik-baik saja, dan juga tidak mampu memberikan kebahagian yang sejati. Kebahagiaan yang diciptakan oleh uang sering kali menghasilkan kekecewaan dan penyesalan, lalu berakhir dengan “sejarah” tragis hidupnya yang bisa jadi sengsara dan ditinggalkan oleh keluarganya dan orang-orang terdekatnya.

Bacaan Lainnya

Uang Bukan segalanya, Tapi …

Uang bukan segalanya, merupakan pernyataan yang benar adanya. Uang tidak bisa menciptakan sebuah hubungan suami-istri menjadi harmonis—bukan jaminan. Uang tidak bisa membuat pikiran jernih dan cerdas—benar sekali. Uang tidak bisa membuat kebahagiaan hati kita menjadi tentram dan tercipta dengan nyama—sangat tidak mungkin. Namun demikian kita harus ingat bahwa segalanya memang sangat membutuhkan uang.

Sekolah dan kuliah, membutuhkan uang untuk membayar SPP-nya, membeli pakaian yang layak, mengerjakan tugas, dan tentunya melanjutkan kehidupan selama kuliah. Kenyamanan, sangat membutuhkan uang untuk membeli rumah atau membangunnya, merapikannya agar layak ditempati dan nyaman ditinggali, sekalian membuatnya lebih menjadi tempat singgah yang cocok dengan suasana yang kita harapkan—semuanya membutuhkan uang. Membesarkan anak dan membantu saudara-saudara yang berkekurangan, jelas membutuhkan uang. Menafkashi istri atau orang tua, jelas membutuhkan uang. Dan membangun negara atau membangun komunitas tertentu, pasti membutuhkan uang untuk memulainya dan mengawali sebuah usaha yang berkelanjutan.

Dewasa ini uang memang segalanya, uang bisa merubah pembicaraan, bisa mengatur jalannya pikiran dan menunjang kecerdasan. Dengan uang, sebuah komunitas (Pendidikan) bisa memberikan beasiswa kepada orang-orang cerdas untuk datang ke kampusnya dan pengembangkan penelitian, dosen-dosen yang kompeten juga bisa didatangkan dengan gaji yang tinggi agar mau datang dan siap berkontribusi. Uang juga mendorong semangat karyawan untuk bekerja, memaksimalkan kerja untuk menghasilkan karya terbaik dan menjadikan suasana hubungan menjadi lebih terbina baik.

Semua profesi membutuhkan uang

Seorang kiai pasti membutuhkan uang, untuk mengembangkan pondok pesantrennya, menghidupi keluarganya, dan memberikan gaji yang layak kepada para santrinya yang sudah lama mengabdi kepada lembaganya.

Seorang guru, yang gajinya pas-pasan jelas membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya, melanjutkan hidupnya, dan mewujudkan gagasan-gagasan cerdasnya.

Seorang pedagang, jelas membutuhkan uang untuk mengembangkan usahanya agar bisa berkembang lebih baik dan berkelanjutan. Bisa menjadi pendorong lahirnya kreativitas berwirausaha dan menciptakan kelancaran kebutuhan hadirnya barang-barang yang dibutuhkan masyarakatnya.  

Seorang buruh, tukang becak, pedagang asongan, penulis, petani, siapa lagi? Semuanya “pasti”, bahkan “wajib” mempunyai dan sangat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhannya dan membangun rumah tangganya agar lebih berkecukupan.

Apapun profesi kita, apapun kegemaran kita dan apapun bentuk kehidupan kita, uang pasti dibutuhkan untuk menjalankan profesi kita tersebut, mendukung hobi-hobi kita dan menunjang segala hal yang menjadi bagian dari hidup kita. artinya, dengan mempunyai uang yang cukup kita bisa melakukan banyak hal dan menutup segala kekurangan yang ada dalam diri kita dan keluarga kita.

Lebih-lebih yang sudah hidup berkeluarga, mempunyai anak, istri-suami, atau orang tua yang sudah rentah, sangat membutuhkan uang untuk membiayai kehidupan mereka agar bisa menjadi manusia yang mulia dan berharga di dalam kehidupan masyarakat.

Masjid dan musholla, sangat membutuhkan uang untuk dirawat dan dibangun lebih baik. Madrasah dan pondok pesantren, sangat membutuhkan uang—lebih-lebih infaq dari para dermawan dan alumninya yang dianggap sudah mapan. Sebuah negara, malah sangat membutuhkan uang untuk membiayai pembangunannya, mendorong pertumbuhan ekonominya dan menciptakan kemakmuran bagi warganya, serta membayar gaji-gaji pegawainya.

Maka, berkerjalah

Dengan demikian, jika segalanya sangat membutuhkan uang maka setiap orang yang bernafas, setiap orang yang berakal sehat, dan setiap orang yang masih sehat untuk bergerak “wajib ain” hukumnya untuk bekerja mencari uang. Minimal dengan berkerja dan mempunyai uang hidupnya bisa tercukupi kebutuhan pribadinya dan tidak meminta-minta kepada orang lain.

Dengan berkerja manusia bisa terhindar dari beberapa sifat buruk yang dibenci oleh islam, seperti malas, tidak bergairah, meminta-minta, terindikasi tidak bertanggungjawab merawat keluarga, jatuh miskin, mengandalkan nafkah dari orang lain, dan terlihat konyol jika berkumpul dengan banyak orang di sebuah perkumpulan.  

Paling tidak dengan berkerja keras untuk mendapatkan uang, ada hal-hal positif yang kita bangun dan berkontribusi penting bagi komunitas kehidupan di sekitar kita. dengan banyak uang, setidaknya tiga hal penting bisa dijalankan dengan maksimal.

Pertama, mendorong perekonomian negara.

Banyaknya orang yang berkerja yang bisa menghasilkan uang bisa mendorong perekonomian negara menjadi stabil, barang-barang tersedia murah, banyak kehidupan yang berjalan normal, dan semua kegiatan bisa terdorong untuk berkembang, sehingga negara tertolong untuk meningkatkan PDB masyarakatnya.

Kedua, menciptakan kemandirian pribadi dan keluarga.

Memiliki uang yang cukup bisa menciptakan hubungan yang baik bagi diri sendiri—membeli segala kebutuhan yang menjadi kebutuhannya. Sekaligus bisa mendorong kenyamanan hidup yang dibangun bersama pasangan.

Ketiga, membiayai kesenian, ilmu pengetahuan dan kampanye kebaikan universal.

Dengan uang yang melimpah, maka segala hal-hal yang mengandung keindahan bisa diciptakan dan dirawat dengan baik. Bisa untuk membiayai kesenian berkembang, melahirkan banyak penelitian ilmu pengetahuan, dan kampanye-kampanye kebaikan yang disampaikan oleh para da’i atau kiai bisa dijalankan—karena kiai juga membutuhkan uang untuk menghargai ceramah dan mauidlohnya.  

Dampak  Buruk Malas

Jika tidak bekerja, alias malas dan tidak bisa menghasilkan uang yang banyak, yang terjadi adalah kemiskinan dan ketidakpunyaan barang yang dibutuhkan.

Orang yang malas berkerja jelas sangat terhina, kemana-mana membutuhkan “hutangan” uang hanya untuk jajan dan bertahan hidup. Setiap orang yang dianggap baik, yang ditemuinya dengan cepat dibilangi, “saya bisa hutang uangnya?” dan setelah gilirannya membayar, pasti mengadakan “perang” dan berbelit-belit prosesnya.

Sungguh terhina orang yang malas berkerja, tidak punya harga diri, tidak berkontribusi pada perekonomian negara, dan hanya menjadikan pekerjaan negara semakin berat dan sulit, karena menambah jumlah kemiskinan di negara tempatnya hidup. Negaranya menjadi terhina di dunia internasional, dan dirinya juga menjadi hina dihadapan kawan dan keluarganya.

Ayo berkerja, mencari uang, karena segalanya membutuhkan uang.

Pos terkait