BERSYAHADAD SECARA NYATA, BUKAN ANGAN-ANGAN

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Beragama diawali dengan mengucapkan, atau berikrak “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah”. penyaksian ini bukanlah omong kosong, bukan angan-angan, bukan bayangan yang hanya dipikirkan dan diimajinasikan. Penyaksian dari ikrar ini harus nyata dan harus diketahui dengan mata kepala sendiri, baru bisa masuk kedalam dimensi beragama.

Syahad, atau pengakuan manusia untuk mendapatkan agama (Islam dan sebelum-belumnya) ditentukan dengan penyaksiannya atas eksistensi Allah sebagai Tuhannya. Untuk menjadi manusia yang “ber-Agama” tentunya harus mengetahui Allah dan menyaksikan keberadaannya secara utuh, yakni secara nyata mengetahuinya, baik jasmani (indrawi) maupun ruhani. Alih-alih keberadaan dzat-Nya Allah ini sangat susah untuk diketahui oleh manusia (biasa) secara umum, karena dzat-Nya yang bersih, suci, dan begitu tingginya dimensi yang didudukinya, sedangkan dzatnya manusia itu kotor, terbatas dan sangat rendah.

Seorang manusia biasa tidak akan mampu melihat Tuhan atau berusaha untuk mengetahui dzat-Nya, sekalipun hanya sekecil biji atom dan sekilas kilatan petir, atau hanya kedipan mata. Karena jasad manusia ini merupakan hal yang sangat kotor, tercemar, dan penuh dengan kesalahan. Hal yang kotor dan yang bersih, hal yang kedudukannya tinggi dan yang kedudukannya rendah tentu tidak akan bisa bersatu dan dikumpulkan. Sebagaimana halnya eksistensi Tuhan dengan eksistensi manusia, tidak akan bisa dipertemukan.

Oleh sebab itulah, Allah melantarkan eksistensi dzat-Ketuhanannya melalui sosok manusia pilihan yang dipilihnya, yakni seorang nabi atau rasul. Melalui seorang rasul manusia pilihan inilah Allah mewujudkan dirinya, menyatu kedalam dirinya, serta melebur kedalam bentuk (manusia)-nya pada sosok Nabi.

Melalui sosok seorang nabi atau rasul-Nya Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia sebagai hamba-Nya—yang diharuskan untuk mengabdi kepada-Nya. Melalui “lantaran” atau mediasi sosok nabi dan rasul inilah manusia mempunyai kunci untuk masuk ke dimensi Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Suci itu. Dengan kata lain, melalui seorang Rasul manusia baru memungkinkan dan “dimungkinkan” untuk bisa menyaksikan keberadaan Allah sebagai Tuhan-nya.

Seorang nabi menjadi kunci yang akan membimbing manusia “bisa” memasuki alam ketuhanan dan menjadi orang yang masuk dalam golongannya Tuhan, baik di dunia atau di akhirat. Identitas sebagai golongan Tuhan ini akan menjadikan manusia bagian dari golongan yang dipilih oleh Allah. Menjadi golongan Allah bisa menjadikan manusia terselamatkan dari jalan yang bukan milik Allah, yakni neraka. Artinya, menjadi golongan Allah tentunya akan masuk ke dalam dimensi Tuhan yang penuh dengan sifat suci dan bersih, yakni surga.

Dengan mengakui eksistensi seorang nabi, yang dipilih maka manusia telah berikrar masuk dalam kelompok barisan Allah. Pada barisan Allah inilah seorang manusia bisa berada di dalam lindungan-Nya, berada dalam gerakan-Nya, berada dalam pengawasan-Nya, berada dalam naungan rahmat-Nya, dan berada dalam curahan nikmat-Nya serata berada dalam undangan untuk kembali kepada-Nya.

Untuk bisa memahami Allah sebagai Tuhan dan untuk mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan (Illah) maka seorang manusia harus berguru kepada sosok nabi atau rasul, karena hanya melalui seorang rasul inilah segala “rahasia tentang Tuhan” dan ilmu-Nya bisa diketahui dan bisa diperolehnya.

Manusia harus mengenal wajah-nya secara nyata, harus merasakan kehadirannya secara nyata, harus merasakan dalam hatinya secara nyata, baik jasmani maupun ruhani. Manusia harus tahu wajah seorang Rasul untuk bisa melihat wajah Allah, manusia harus bertemu jasad rasul untuk bisa menghadap Allah, dan manusia harus berhadapan mendapatkan pengajarannya dari rasul untuk memperoleh ilmu-Nya Allah. Dengan kata lain mengetahui, bertemu secara langsung, bertatap muka langsung dengan Rasulullah untuk bisa bertemu dengan Allah atau kembali kepada Allah. karena pada diri Rasulullah inilah dzat-Nya Allah telah menyatu dan bersemayam di dalam diri-Nya.

Syahadad-penyaksian, bersaksinya seorang muslim, atau kaum berimana harus dilakukan dengan cara menyaksikan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan Muhammad sebagai Utusan-Nya, karena (ibarat) keduanya merupakan dua sisi matang uang yang saling melengkapi, satu diantaranya tidak bisa dipisahkan dan tidak bisa ditinggalkan. Mengakui Allah sebagai Tuhan dengan meninggalkan Muhammad sebagai utusan Allah sama halnya tidak mengakui Allah sebagai Tuhannya. Karena untuk bisa sampai bermunajad kepada-Nya, memanggil nama-Nya, dan menghamba kepada-Nya harus dibarengi dengan kehadiran “Muhammad” yang diangkatnya sebagai sosok utusan di muka bumi.

Rasulullah Muhammad adalah Guru ruhani bagi manusia dalam ber-Tuhan, dalam menyebut Dzat-Nya Tuhan, dan dalam menyebut Nama Tuhan agar manusia bisa kembali kepada-Nya dan bisa terbimbing untuk beribadah kepada-Nya. Beliau adalah utusan yang mendapatkan mandat “keilmuan” Allah melalui malaikat Jibril (yang pernah diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya) untuk menjadi “wakil Tuhan” di muka bumi dan membimbing manusia agar fokus pada tujuan penciptaannya (beribadah atau pengabdi kepada Allah).

Kepemimpinan Rasulullah sebagai Guru ruhani ini kemudian diteruskan oleh ahli warisnya, para Guru yang terpilih dan terbimbing yang memiliki kekhususan keilmuan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para Guru inilah yang menggantikan kedudukan Rasulullah (bagi manusia) untuk mengenal Allah dan sekaligus membimbingnya untuk bisa melaksanakan ibadah serta melakukan penghambaan.

Menyaksikan Allah bukanlah angan-angan, menyaksikan Rasulullah tentunya juga bukan angan-angan atau hanya dibayangkan dalam imajinasi saja, begitu juga menyaksikan Guru (ulama’) penerusnya juga bukan angan-angan dan bayangan semata. Mata kepala harus mengetahuinya dan harus bertemu dengan wajahnya. Wajah Rasulullah dan Guru inilah yang bisa membawa diri manusia mengenal Allah.

Dengan demikian, menyaksikan adanya seorang Rasul dan hadirnya seorang Guru ruhaninya pada diri manusia “baru bisa memungkinkan” dikatakan ber-Agama, yakni mendapatkan seorang sosok Guru untuk bisa mengenal Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Dzat Yang Maha Terpuji. Tanpa pernah mengenal Rasul atau sosok Guru-nya maka tidak bisa manusia itu dikatakan ber-agama, karena “mengenal” Allah hanya ada dalam angan-angan atau bayangannya saja, tidak secara nyata.

Inilah awal beriman, besyahadad, awal dari manusia mendapatkan Agama, awal dari manusia mengenal Tuhan-nya yang Maha Tinggi kedudukannya. Jika manusia gagal (tidak bisa bertemu Rasulullah atau penerusnya) maka gagal pula dia dalam memeluk agama, gagal pula dia dalam menjadi hambanya Allah dan tidak layak untuk disebut (bahkan mengaku) sebagai kaum beriman.

Leave a Comment