Keris Mustika Nagasosro dan Pria Pemanggil Hujan Emas (Part 6) Gedabrus Malam Jumat Kliwon

Dengan mengesampingkan Ipung untuk menerima emas yang kelak akan diperoleh, keempat orang itu sedang membayangkan dirinya memegang banyak emas ditangannya penuh keceriaan dan bersemangat untuk menjadi cepat kaya.

kitasama.or.id – Secara keseluruhan ada tiga puluh lima orang yang berkumpul di gubuk, padepokan Sardono, dengan misi jelas untuk mendapatkan emas dari langit, langsung diturunkan oleh Allah dari singgahsananya di Arsy. Kira-kira begitulah imajinasi yang ada dalam pikiran ketiga puluh orang itu, dan tentu saja kecuali Ipung, yang memilih diam dan hanya mengamatinya saja.

Mereka saling berkenalan, memberikan keterangan tempat asal tinggalnya dan beberapa profesinya yang dilebih-lebihkan agar terlihat lebih keren dibandingkan dengan kenalannya.

Bacaan Lainnya

“Saya mantan vokalis rebana yang sering diundang ke desa-desa sebelah dan mendapatkan amplop uang yang lumayan. Tiap hari saya tampil tiga kali dan bisa mengumpulkan uang sebanyak satu juta lebih dalam semalam.” Kata Karmulin saat berkenalan dengan orang dari Gresik dan Bojonegoro, menonjolkan dirinya yang terobsesi untuk tampil layaknya vokalis-vokalis rebana yang ada youtube, karena modal suaranya yang bagus dan bisa kuat melengking.

Tapi faktanya Karmulin hanya vokalis dziba’an di musholla tempatnya berjamaah, yang sesekali dihadiri ibu-ibu dari jamaah Fatayat NU dan Muslimat NU pimpinan ranting setempat. Dan Karmulin terlihat paling tampan jika dziba’an di musholla tepat dengan jadwal rutinannya ibu-ibu itu, karena hanya dia satu-satunya pria yang hadir dalam dziba’an itu—benar-benar pria yang tidak tahu malu.

Tentunya sepeserpun Karmulin tidak mendapatkan uang dan tidak menerima amplop, hanya berkat yang dipaksakan untuk pantas saja, snack dan nasi dengan lauk tempek, ikan sarden serta potongan kecil daging ayam—sisa dari pembagian ibu-ibu.

“Bahkan di kampung, saya selalu mendapatkan undangan tetangga setempat untuk mendoakan acara kenduren dan atau slametan. Saya benar-benar viral di desa saya, sehingga secara tidak sadar beberapa orang memanggil saya dengan awal Gus, untuk menghormati saya. Gua Lin, Gus Karmulin.” Kata Karmulin dengan penuh kebanggan dihadapan para kenalannya.

Faktanya, Karmulin hanya sesekali dimintai untuk mendoakan acara kenduren, karena masyarakat lebih percaya pada Ipung untuk membacakan doa tiap acara slameten apa saja, mulai dari orang yang sedang mituni, megengang, berangkat haji, sunatan, dan bisa juga wafatnya seseorang. Berhubung Ipung selalu dianggap menggeser peran santri yang lebih tua di desanya, menggeser peran modin desa, dan terlihat sok paling santri maka Ipung lebih banyak keluar dari desanya dan menghabiskan waktunya kluntang-kluntung di membaca buku dari satu warkop ke warkop yang lain.

Sedangkan sebutan “Gus”, di kampung pesisir Karangrejo dan sekitarnya di hampir semua desa di kecamatan Palang, bukanlah orang yang istimewa. Sebutan itu merupakan sebutan yang familiar bagi semua orang yang lebih tua dan dianggap pantas saja, bisa orang tukang becak, buruh nelayan, juragan nelayan, petani, penjual bakso, penjual rosokan dan bahkan orang yang tidak punya keahlian apa-apa. Anehnya, banyak orang di Karangrejo yang enggan untuk dipanggil ‘Gus’ karena menunjukkan identitas ras rendah dan kurang berderajad. 

“Saya banyak menuai kemajuan dan prestasi yang membanggakan pemerintahan desa. Banyak prestasi yang saya capai selama menjabat sebagai kepala desa. Diantaranya yang terkenal adalah pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) desa, membangunan Pasar desa lebih tertata, pembangunan gapura desa yang megah yang dipenuhi dengan patung tokoh-tokoh pewayangan Mahabharata.” Kata Hasyim ketika bercerita dan ngobrol dengan kenalannya dari Lasem dan Lamongan. 

“Satu lagi yang spektakuler, saya terkenal sebagai orang yang baik hati kepada masyarakat dan bersih dari segala perilaku buruk yang dilakukan oleh banyak kepala desa di kabupaten ini.” Tambah Hasyim dengan penuh percaya diri, sama sekali tidak melihat lehernya. “Saya terkenal tidak pernah pergi ke dunia malam, ke glamor, menyanyi berkaraoke dengan gadis cantik bukan istri, dan menyewakan kamar untuk memadu kasih dengan mereka. Kalian tahu, saya benar-benar bersih dari semua penyakit itu. Saking bersihnya kehidupan saya, hingga saya sering diminta menjadi imam sholat di musholla jika kebetulan sedang lewat dan duduk di suatu musholla di desa. Tapi saya menolak, karena saya memberikan tempat kepada para santri yang tidak punya tempat kerja dan pengabdian kecuali jadi imam musholla di desa.”

Saat menyampaikan kata-kata ini, Hasyim menunjuk kearah Ipung yang memutuskan menyendiri dan cuek dengan obrolan orang-orang aneh yang berdatangan malam itu. Sehingga kenalannya pun tahu jika ada kalimat ‘santri gagal’ hanya tertuju pada Ipung yang terlihat lesu dan kurang bersemangat menikmati hidup.

“Saya juga sukses menjalankan bisnis jaringan yang besar, sampai saya punya jaringan lebih dari seribu orang, yang tersebar di seluruh Tuban-Bojonegoro-Lamongan-Gresik.” Tegas Hasyim memperkenalkan dirinya, yang melepaskan bicaranya tanpa adanya rem penghenti. “Dari bisnis jaringan itu saya sudah mendapatkan tiga mobil, satu sawah, dan punya tiga istri yang sangat mempesona wajahnya. Tentunya ada dua rumah mewah seharga satu milyard setengah yang ada di kota Tuban dan Surabaya—tapi tidak saya tempati karena saya lebih nyaman hidup menyatu dan membaur dengan warga saya di desa.”

Hasyim terus-terusan bicara, nerocos tanpa terkendali dan tanpa ada keinginan untuk menyudahinya.

“Anda tahu anak-anak saya, mereka adalah orang-orang yang hebat. Anak-anak saya masuk perguruan tinggi ternama, lolos dengan nilai yang memuaskan di UTBK. Bahkan saya kampir mau dinobatkan sebagai kepala desa teladan dengan prestasi luar dalam. Tapi saya menolak karena saya lebih memilih untuk merendah dan menyimpan prestasi saya dihadapan public, lebih baik saya diberi penghargaan langsung oleh Allah, dimana tidak ada orang yang tahu. Dan itulah ciri-ciri seorang wali, dimana sebagaian ciri-ciri itu telah saya miliki—yakni tidak suka pamer prestasi dihadapan pejabat yang lebih tinggi.

Sungguh gatal dan panas, Ipung mendengarkan cerita-ceritanya Hasyim, karena semuanya itu hanya omong kosong yang tidak ada buktinya sama sekali.

Faktnya, Hasyim adalah kepala desa yang gagal dan paling bodoh di seluruh kabupaten Tuban. Tidak bisa mengoperasikan program computer apa saja, kendati hanya word, excel atau powerpoint. Boro-boro mengoperasikan computer, handphonenya saja, Hasyim hanya bisa menonton tiktok, youtube dan membuka google untuk melihat gambar-gambar wanita seksi—bahkan yang telanjang bulat, tanpa pakaian. Itulah kegemarannya selama berada sendirian di warkop atau di kamarnya.

Selama menjabat sebagai kepala desa, tidak ada prestasi yang patut dibanggakan dari kinerja Hasyim, karena semua pembangunan menggunakan anggaran kabupaten, mulai dari TPI sampai Pasar—alias dikelolah oleh pihak pemerintah kabupaten (Pemda).

Bangunan gapuro desa yang dibangunnya yang berdiri kokoh di perbatasan desa Karangrejo merupakan citra buruk bagi dirinya Hasyim, karena menghabiskan anggaran desa tiga tahun—tiap tahun ada 1, 5 milyard anggaran desa yang dikelolahnya. Masyarakat banyak yang marah kepada Hasyim dan melampiaskan kekesalannya dengan tidak memilihnya kembali pada pemilihan yang selanjutnya, karena sama sekali tidak ada program yang langsung menyentuh kepada masyarakat.

“Buat apa bangunan gapuro itu jika jalan desa rusak dan selokan kampung banyak yang tersumbat, mengakibatkan banjir saat hujan.” Kata salah satu perangkat desa Karangrejo kepada Ipung di warung kopi satu tahun lalu, menjelang Hasyim lengser. “Lagian gapuro itu hanya menampilkan sisi kebodohan pemimpinan dan pastinya menjadi monument kebodohan desa kita. Karena bentuknya yang tidak bermanfaat dan tidak layak dijadikan sebagai simbol kemakmuran desa.”

Prestasi buruk yang terkenal di masyarakat desa Karangrejo, Hasyim adalah kepala desa yang mempunyai daftar lengkap para janda muda beranak satu atau dua yang tidak lagi punya suami, atau perempuan yang sendirian yang ditinggal kerja menjadi TKI oleh suaminya, atau perempuan istri nelayan yang ditinggal suaminya pergi nelayan ke daerah luar.

Tiap malam, sekitar pukul 00.30, saat istrinya sudah terlelap tidur, Hasyim sendirian keliling desa atas dasar ingin memberikan santunan uang kepada orang yang tidak mampu di desanya. Tapi sejatinya hanya menggilir para perempuan yang janda itu dan juga yang ditinggal kerja suaminya. Bahkan konon Hasyim pernah meniduri iparnya sendiri, istri dari adik sepupunya yang kebetulan ditinggal suaminya melaut lama.

Tidak puas dengan apa yang di-garong-nya dari warganya sendiri, bahkan keluarganya sendiri, Hasyim masih membiasakan diri pergi ke karaoke dan glamor dengan alasan “membagi rizki dengan para LC atau purel” di dunia gelap itu. Jika ke karaoke glamor di Tuban, dia akan izin istrinya mengikuti pengajian kiai terkenal di Jenu. Dan jika ke Surabaya dia akan bilang ke istrinya jika sedang ada pelatihan kepala desa di Surabaya tiga hari.

Apakah cukup dengan menyanyi dengan para perempuan berpenampilan menarik dan pakaian yang sangat minim? Tentu saja tidak. Hasyim tetap menginap dengan cara menyewa sebuah hotel dan menyewa satu gadis yang dianggapnya cocok. “Cukup dengan modal tiga juta, aku bisa menikmati gadis muda yang wangi dan mempesona. Lebih enak dibandingkan istriku sendiri. Dan kamu, santri gagal hidup enak—pastinya iri dan ingin menjalaninya.” Kata Hasyim tanpa malu dihadapan Ipung, saat Ipung pertama kali menerima surat cerai dari istrinya, di depan musholla desa.

Pukul 05.00 Hasyim baru pulang ke rumahnya dengan pakaian lengkap layaknya sosok santri, sarung, ber-kopyah putih dan baju koko. Melihat penampilan tersebut istrinya pun bangga dan bertanya, “Dari masjid, mas?”

“Sayang, kau lihat penampilan suamimu ini. Tidak kalah dengan santri pesantren yang tidak bisa kaya itu, dan gagal merawat istrinya hingga berpisah.” Jawab Hasyim. Istrinya pastinya bangga dan percaya, serta faham jika yang dimaksud dengan santri gagal adalah mas Ipung, yang diusianya yang matang telah berpisah dengan istrinya karena tidak bisa menjadi rumah tangga yang kaya.

Padahal dengan berpakaian seperti itu Hasyim menutupi dirinya yang belum mandi jinabat dan masih membawa junub saat masuk ke masjid untuk tampil berjamaah Bersama warganya. Beberapa orang sudah tahu kebiasaan buruk Hasyim itu, tapi lebih memilih diam dan tidak komentar.

Dan terkait bisnis jaringan yang dikembangkannya, adalah sebuah bisnis gagal yang tidak perlu diulang lagi. Dia menjual dua mobil, dua hektar sawah milik istrinya, dua rumah milik orang tuanya di surabaya dan milik mertuanya di Tuban, serta menipu dua perempuan janda kaya raya berusia 60-an tahun di Tuban agar membiayai bisnisnya yang konyol tersebut. Rayuan Hasyim adalah siap menikahi para janda tua itu sehingga para janda itu dengan rela melepas semua uang yang diminta oleh Hasyim. Harta istrinya, harta mertuanya, harta orang tuanya dan harta janda simpanannya habis tak tersisa hanya gara-gara impian Hasyim yang ingin kaya dengan metode bisnis jaringan

Dan ketika dia sudah berinvestasi sangat besar, kurang lebih lima milyard pada bisnis jaringan itu, tiba-tiba pemiliknya hilang dan tidak bisa diketahui batang hidungnya. Semua investasinya pun lenyap tanpa menghasilkan keuntungan sedikit pun bagi Hasyim. Dan sekarang Hasyim adalah orang yang menyakiti banyak orang, orang tua, mertua dan sitrinya. Kini dia realitanya menjadi gelandangan mantan kepala desa yang tanpa gairah hidup—kecuali ingin mendapatkan banyak uang secara cepat.    

***

Dibagian lain tempat ngobrol malam itu di gubuk yang semakin ramai di tengah hutan, tepatnya disisi samping kanan, Cengkong tidak mau kalah dengan teman-temannya untuk mengangkat dirinya dengan cerita-cerita yang mustahil terjadi.

“Mungkin di dunia ini salah satu orang yang mendapatkan karunia dan cintanya Allah adalah saya, karena apa yang saya alami ini layaknya seorang wali. Saya adalah orang yang paling dicintai Allah di desa saya. Bayangkan saja, saya tidak bekerja tapi uang berdatangan dengan sendirinya, seolah langit telah memberkati semua tindakan kehidupan saya. Secara tidak sengaja, istri saya mendapatkan pekerjaan yang layak di sebuah pabrik rokok terkenal dengan gaji perbulan tujuh puluh juta. Lalu malamnya istri saya bisa menghabiskan kue buatan hingga mendapatkan uang tujuh juta, plus warung makannya yang ada di pinggir alun-alun desa.” Tegas Cengkong dengan gairah kata-kata yang meluap-luap.

“Kalian tahu, teman-teman,” Cengkong menyakinkan para  kenalannya dari Gresik dan Lasem. “Secara mengejutkan saya memenangkan undian di Tuban hingga mendapatkan satu motor honda PCX. Dan lima hari kemudian saya memenangkan perlombaan kuliner dengan hadiah yang cukup besar, dua puluh juta. Semua hadiah itu kini telah membahagiakan istri dan anak-anak saya.”

“Selain itu semua,” Cengkong mulai sombong. “Istri saya telah terpilih sebagai ketua Fatayat NU di desa saya, dan dia menjadi orang yang paling banyak memberikan santunan kepada program-program Fatayat NU, seperti memberikan santunan anak yatim, kurban jamaah, dan yang paling terkenal sumbangsih istrinya dengan hadirnya koperasi yang dikelolah oleh Fatayat NU dan LAZISNU desa saya.”

Faktanya, istrinya Cengkong memang benar pernah menjadi ketua Fatayat NU, namun mundur sebelum masa bhaktinya selesai dikarenakan telah menghabiskan uang milik koperasi Fatayat NU untuk kepentingan keluarganya, termasuk membiayai kehidupan Cengkong yang tidak suka dengan berkerja, lebih suka malas-malasan.

Lalu para anggotanya memutuskan untuk memaksa istri Cengkong mengundurkan diri, jika tidak mau mundur akan dilaporkan ke polisi. Akhirnya istri Cengkong mundur dari ketua Fatayat NU dan kini hanya sebatas karyawan di perusahaan rokok milik Philips Morris di Brondong yang bergaji hanya 3,5 juta perbulan. Dan gaji itu tidak cukup untuk membiayai kehidupan keluarga itu.

Malamnya sepulang dari pabrik roko, istri Cengkong jualan nasi dan snack-snack yang digemari anak-anak. Penghasilannya hanya tiga ratus ribu permalam dan tidak cukup untuk membiayai kehidupannya pula, hanya habis itu membayar arisannya yang masih meragukan  bisa menguntungkan. Bisa-bisa arisan itu akan berakhir bodong, karena pengelolahnya adalah orang yang gemar dengan kehidupan yang mewah dan mahal.

Malas bekerja, malas menggerakkan hatinya dan tubuhnya untuk mencari uang, Cengkong menghabiskan waktunya di warung kopi dan bermain slot seharian penuh—pulang-pulang makan dan bermain-main dengan istrinya (jika kebetulan istrinya dilihatnya menyenangkan atau pulang dari bekerja malam). Kegemarannya bermain slot ini sama sekali tidak menguntungkan dirinya—apalagi menguntungkan istrinya, justru merugikan semua tabungan dan harta yang dimilikinya, alias raib semua.

Motor Honda PCX yang dibelikan istrinya terjual dengan harga yang tidak wajar, hanya dua puluh lima juta, lalu uang tabungan sekolah anaknya dua puluh juta pun ikut tertelan habis. Semua itu hanya untuk membeli slot, dan menutupi pinjaman onlinenya yang tiap hari menumpuk bagaikan gunung yang terus mengalami penambahan.

    Lebih tragisnya lagi si Benjhol, dia semakin gedabrus dengan semua omong kosongnya yang disampaikan kepada para kenalannya. Mungkin di dunia ini tidak ada orang yang paling konyol menandingi Benjhol, kecuali orang-orang yang benar-benar mirip dengan semua tindakan dan pikirannya. “Saya adalah orang yang terlahir beruntung dan selalu disertai dengan banyak nikmat yang melimpah.” Kata Benjhol mengawali obrolannya dengan kenalannya dari Jombang dan Bojonegoro.

Pos terkait