ALBERT EINSTEIN, SEMAKIN HIDUP DAN NYATA DI TANGAN WALTER ISAACSON

Buku Einstein; Kehidupan dan Pengaruhnya bagi Dunia karya Walter Isaacson milik penulis yang sedang dibaca di warung kopi Glodog Palang sambil menghabiskan kopi dan teh

Fotonya sebagai ikon kejeniusan dan kreativitas berfikir, namanya diingat sebagai tokoh besar yang memberikan pengaruh nyata pada kemajuan sains—khususnya fisika dan matematika, dan karyanya senantiasa dijadikan pijakan awal untuk menyingkap rahasia alam semesta yang tersembunyi. Itulah Albert Einstein, ilmuwan Jerman berdarah Yahudi berkebangsaan Amerika Serikat yang sukses membantu sekutu dalam memenangi Perang Pasifik.

Selain meraih hadiah nobel, Eisntein adalah sosok yang cukup unik dalam perjalanan hidupnya. Dicap sebagai anak yang gagal dan mahasiswa nakal di masa mudanya, kesulitan mendapatkan pekerjaan di masa awal dewasanya, dan mengalami kebangkrutan ekonomi keluarganya disaat dirinya membutuhkan dukungan finansial. Jika bukan karena ketekunannya dalam menulis artikel yang menyampaikan gagasan-gagasan cerdasnya, kemungkinan besar dia tidak akan dilihat oleh komunitas ilmiah yang saat itu sangat ketat sekali rekrutmennya dan tentunya prestisius.

Perjalanan hidupnya adalah sebuah petualangan yang sangat berat, namun menghasilkan kemanfaatan bagi dunia. Semua yang dilakukannya adalah perihal yang ganjil dan cenderung imajiner, namun logis dan empiris. Albert Einstein tidak sekedar pria “melarat” yang harus berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya, tapi juga pejuang Tangguh yang tidak pernah menyerah dengan keterbatasannya dan kecilnya peluang bekerja bagi dirinya.

Walter Isaacson, penulis biografi terkenal, yang sudah menulis buku biografi bestseller internasional berhasil menghidupkan kisah perjalanan hidup dan pemikiran Albert Einstein dalam Einstein; Kehidupan dan Pengaruhnya pada Dunia (diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Bentang), lebih kaya dan lebih nyata dalam pikiran pembaca. Keistimewaan buku ini ditegaskan oleh Amir D. Aczel, The Boston Globe.

“Buku istimewa … Biografi karya Isaacson adalah hasil riset yang baik dan berisi banyak informasi baru yang mengejutkan tentang tokohnya yang membingungkan ini … Einstein muncul sebagai figure manusia biasa—manusia dengan kebaikan dan kesalahan. Para ahli tentang Einstein pun kemungkinan besar akan menemukan fakta-fakta yang belum pernah mereka ketahui … Sebuah karya besar dan otoritatif tentang salah satu tokoh paling menarik dalam sejarah ilmu pengetahuan.”

Joseph J. Ellis, pengarang Founding Brother: The Revolutionary Generation memuji buku Walter Isaacson ini dengan penuh antusias, “isaacson menghadirkan kehidupan, bukan sekedar pikiran, yang mungkin terbesar pada abad ke-20, melainkan juga kepribadian, yang tak sempurna dan bisa salah seperti kita. kombinasi unik antara kecerdasan tinggi dan ketidakpastian manusia membuat buku ini menjadi salah satu biografi terbesar pada masa kita.”

Seperti halnya manusia pada umumnya, Albert juga bisa mengalami banyak kesalahan dan kecerobohan ketika dihadapkan pada keputusan hidup yang sulit. Melakukan hal ceroboh yang seharusnya bisa diantisipasi untuk dihindari, justru menjadikan dirinya pria bodoh yang kehilangan kesempatan.

Disaat dirinya sedang membutuhkan pekerjaan dan uang untuk menghidupi dirinya, Albert malah terjebak pada keasyikan belajar dan membaca buku, melalui komunitas yang terdiri atas tiga orang anggota saja. Albert Einstein, Maurice Solovine, dan Conrad Habicht. Mereka menamakan dirinya sebagai “Akademi Olympia”.

Dalam komunitas tiga orang tersebut ragam bacaan berkualitas menjadi bacaan wajibnya—sebagai semacam mata kuliah bagi anggota—diantaranya terdiri atas drama Antigone (Sophocles), Don Quixote (Cervantes), A Trea of Human Nature (David Hume), Analysis of the Sensation dan Mechanics and Its Development (Ernst Mach), Ethics (Baruch Spinoza) dan Science and Hypothesis (Henri Poincare). Dan karena komunitas akademi Olympia ini ketiga orang ini menjadi sahabat hingga akhir hayatnya.

Penemuan teori relativitas khusus dan relativitas umum yang terkenal itu, oleh Albert tidak ditemukan tanpa ada “perlawanan” dan kejanggalannya. Dia harus membuktikan dihadapan komunitas ilmiah dengan beragam percobaan imajiner untuk membuktikan bahwa gerak suatu benda itu relatif terhadap titik tumpulnya. Logikanya sulit dibuktikan dan sulit pula disaksikan dengan mata kepala, akan tetapi argumennya sungguh mengenah dan rasional untuk diakui sebagai terobosan dalam ilmu pengetahuan.

Gravitasi sebagai gelombang yang merambat dan merupakan efek dari ruang waktu yang melengkung, pada awalnya tidak serta merta diterima secara terbuka oleh para ilmuwan, tentunya ada banyak pertanyaan dan kejanggalan yang menyelimutinya. Akan tetapi Albert tetap berjuang “menulis makalahnya” untuk memberikan penjelasan yang rasional tentang apa yang sedang dipikirkannya, dan dia tetap mengirimkannya kepada jurnal yang berpengaruh agar diterbitkan.

Di tangan Walter Isaacson, Albert benar-benar hidup dalam bayangan pembaca. Sosoknya semakin nyata dan alami, yang tumbuh dan berkembang layaknya manusia normal yang gagal sebelum mencapai puncak kesuksesan. “Buku ini berhasil menjalankan tugasnya yang mengagumkan, menjelaskan sains dengan benar, dan mengungkapkan seorang manusia.” Puji Sylvester James Gates, Jr, professor fisika John S. Toll di Universitas Maryland.

***

Di Gramedia Tunjungan Plaza 1, siang itu tepat pada selasa legi, 5 Maret 2024 saya menemukan apa yang sudah saya damba-dambakan empat tahun lalu, karya Walter Isaacson yang cukup mempesona dunia pembaca dan petualang intelektual. Sebelumnya saya sudah mempunyai versi dalam bahasa Inggrisnya yang saya dapatkan di bazar buku BBW di JX 2020—sehingga tidak heran jika saya mendambakan versi Bahasa Indonesianya.

Saya tidak punya uang untuk membeli buku ini, karena saya memang benar-benar tidak bekerja dan tidak mempunyai uang. Tapi bos saya yang baik hati telah mengetahui isi hati saya dan menawari saya untuk membeli buku di Gramedia. “Apa yang kamu inginkan di Gramedia?” tanyanya.

“Ada satu buku, Einstein, saya yakin itu ada disini”. Jawab saya.

Beliau lalu menyuruh saya untuk ke Gramedia agar menemukan dan segera mencari buku tersebut. Benar saja, buku tersebut hanya ada satu saja di rak bagian biografi, tentunya saya langsung mengambilnya dan membawanya ke kasir—bos saya membayarnya dengan Q-ris BNI.  

Hari itu, saya sangat bergairah sekali dengan buku tersebut. Sepanjang hari saya membacanya, terlarut dalam keindahan penyampaian Walter yang mengalir halus nan tegas mengenah pikiran saya. Dalam dua hari kemudian, ditengah kesibukan saya menyelesaikan banyak hal saya sudah bisa membaca enam bab (150 halaman).

Membaca “Einstein” saya lakukan dimana saja, di rumah puncak Gua Beruang, di kantor Lubang Kelinci TNP, di ruang sempit sarang Tawon, dan tentunya di setiap kondisi nyatai di warung kopi. Tidak ada bosan-bosannya saya menyelami perjalanan Einstein, dia selalu saya masukan ke dalam tas saya untuk saya bawa kemana-mana. Ibarat menu makanan, setiap halamannya adalah masakan yang rasanya berbeda-beda kelezatannya.

Dari semua kondisi membaca, tentunya yang paling nyaman adalah saat selesai melakukan dzikir harian personal, minum teh panas dan mungkin juga setelah menyelesaikan urusan dari kamar mandi. Dan saya juga memperlakukan “Einstein” dengan cara tersebut, agar penelusuran yang mengasyikkan ini benar-benar bergairah.

Episode yang menarik dalam “Eisntein” bagi saya adalah Akademi Olympia, saya teropsesi dengan ketekunan ketiga anggotanya yang konsisten belajar dan membuat forum diskusi yang mengasyikkan untuk terus dihidupkan. Tanpa ada donator, tanpa ada sponsor dan tanpa pula beasiswa, akademi Olympia-nya Einstein-Solovine-Habich tetap berjalan dan rutin bertemu untuk berdebat, mengkaji dan membedah setiap temuan yang ditemukan disetiap bacaannya. Sungguh keren dan manis sekali.

Saya berharap hari ini dan di masa depan Kitasama Institute bisa mengikuti jejaknya ketiga orang “konyol” yang sukses mempengaruhi dunia ini. Hanya menunggu waktu dan konsistensi saja, karena embrionya sudah ada dan manusianya tetap bergairah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *