Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

PANGGILAN GUS, ANTARA DI PESANTREN DAN DI KAMPUNG PESISIR

Oleh: Ahmad ShifYani

Budayawan-Santri, Pendidik di kampung pesisir Tuban

Kira-kira pertengahan tahun dua ribu delapan belas lalu, Abah (Kiai Mondok saya) dan Ibu Nyai beserta dua putranya dengan satu putri anak menantunya datang ke desa saya, karena ada undangan pernikahan dari salah satu alumni pondok. Kebetulan Abah diminta oleh orang tua mempelai perempuan untuk Mauidloh Khasanah dan memberikan nasihat-nasihat untuk kedua mempelai saat besok mengarungi samudra kehidupan berrumah tangga.

Saat jam menunjukan pukul sepuluh tepat, dengan memakai pakaian ala santri aku datang ke acara pernikahan itu, kebetulan letaknya cuma Sembilan puluh lima meter arah timur dari rumah saya. Dari jauh suara khas Abah terdengar dengan membaca beberapa fasahal yang ada di kitab fatkhul qorib, kalau tidak salah itu masuk kedalam bab nikah.

Sampai di depan terop tempat acara, saya mengisi daftar tamu yang sudah disiapkan mbak-mbak Pagar Ayu penerima tamu yang bedaknya setebal satu senti meter. Beberapa teman dan alumni menyapa dengan melambaikan kearah saya.

Saya mencoba mencari kursi yang kosong agar bisa duduk dengan enak, karena memang cuaca saat itu sangat panas sekali, maklum wilayah pesisir padat penduduk yang lahan ruang publiknya sudah sangat kurang mencukupi.

Tiba-tiba perhatian saya tertuju pada orang berkopyah khas Afganistan, model kopyah yang kurang begitu familier di desa saya. Bisa dikatakan mirip dengan pasukan Taliban.

Dugaan saya benar, itu adalah Anak tertua dari Abah, saya mengenal sekali perawakannya, karena dulu pernah satu sekolah saat SMA. Dia baru tiga tahun pulang dari studinya di Yaman, sebelum Syiah Khouthi dan kelompok Abdul Hadi plus koalisi pimpinan Arab Saudi  saling lempar peluru dan pemuntahkan roket hingga kini (2019).

Gus…, apakabar?” Sapa saya sambil menyalaminya.

Loh…, Shif.., og tambah ganteng saja,” jawabnya sambil basa basi menyanjung.

Kemudian saya duduk di sampingnya dan ngobrol ngalor ngidul tak tentu arah. dan saat Abah mau mengakhiri nasihatnya, banyak tamu undangan mulai pulang meninggalkan tempat acara.

Beberapa tamu yang kebetulan berpas-pasan saling menyapa diantara mereka, dengan menggunakan sapaan dan loghat sehari-hari desa, “Gus…, pie miyangmu gek ingi oleh?” (Gus, Bagaimana melautnya, dapat banyak?)

Ada juga menyapa dengan kalimat, “Gus…, mampir omahku parek kene?” (Gus mampir sini, rumahku dekat).

“Gus…, nok ndi ae suwe gak ketemu, anakmu piro?” (Gus, dimana aja, lama tidak bertemu, anaknya sudah berapa?).

Di saat bersamaan Gus yang saya dampingi berdiskusi, putra tertua Abah yang mendengar langsung perbincangan tersebut menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari sumber suara. Setelah tahu sumber suara tersebut, dan sadar bahwa itu bukan orang yang dikenal ternyata bukan dia yang dipanggil. Dia pun mulai mulai membuka android-nya tanpa bertanya pada ku yang dari tadi duduk disampingnya.

Mungkin dibenaknya bertanya-tanya, kenapa di desa ini banyak Gus ya.

Dan saat aku melihat wajahnya, tersenyum-senyum yang hanya bisa saya lakukan. Antara lucu dan ingin tertawa.

Ternyata berbeda persepsi (panggilan) Gus di Pesantren dan Gus di desa saya, kampung pesisir di desa Karangagung dan sekitarnya.

Jika panggilan Gus di pesantren adalah sosok yang berwibawa, putra mahkota seorang kiai yang kemungkinan besar memiliki keahlian di bidang keilmuan agama, lain lagi dengan panggilan Gus di desa. Gus di desa saya adalah panggilan untuk golongan yang paling rendah, paling umum dan sangat identik sekali dengan orang-orang yang bekerja dengan tenaga kasar. Misalnya, tukang becak, buruh nelayan-juragan nelayan, atau bahkan panggilan umum untuk kakak yang dianggap tua.

Kemungkinan persepsi yang berbeda inilah yang membingungkan Gus saya, anak tertua Abah kiai saya dari Lasem, Rembang.