Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

MEMBONGKAR PERSPEKTIF (BARU) CENDEKIAWAN MUSLIM MILLENIAL DI ERA 4.0

oleh: Aulina Umazah

 

Cendekiawan Muslim Millenial dalam arti kata, padanan dari cendekiawan adalah orang yang ber-intelektual atau terpelajar.  Millenial adalah generasi anak muda yang lahir di tahun 1980-2000-an yang juga disebut Gen Y. Secara harfiah cendekiawan muslim millenial adalah seorang muslim muda yang  memiliki intelektual dalam dirinya. Namun, lebih dalam dari itu menurut saya dia juga harus memiliki tindakan yang berdampak bagi masyarakat, serta diakui oleh orang lain sebagai seorang yang memiliki pengaruh untuk sekitar. Tentunya sebagai muslim semua harus sesuai dengan hukum syariat Islam.

Dengan kemudahan informasi dan dukungan masyarakat terhadap anak muda saat ini, sangatlah urgen bagi cendekiawan muslim milllenial untuk memberikan sumbangsihnya terhadap masyarakat. Anak muda sangatlah piawai dalam menggunakan gawai yang  mereka miliki. Didalamnya, kita bisa mengakses data dan informasi tanpa batas untuk kita pelajari, tentunya harus pintar memilih informasi yang berguna dan kredibel sehingga tidak menyesatkan. Pembelajaran ini bisa kita gunakan bagi bekal kita untuk memberikan dampak kepada masyarakat. Masyarakat saat ini memberikan ruang yang sangat luas untuk anak muda dapat berkarya di tengah masyarakat. Contohnya  dengan ditunjuknya beberapa anak millenial yang diberikan kursi staff khusus presiden bahkan menteri. Dengan adanya ini menjadi bukti bahwa sebagai pemuda kita tidak perlu lagi minder untuk menempati posisi-posisi yang dulunya identik diduduki oleh yang lebih tua.

Kriteria paling diperhitungkan untuk sesorang disebut sebagai cendikiawan muslim millenial adalah memiliki keilmuan di suatu bidang, memiliki inisiatif yang konkret di tengah masyarakat, dan memiliki impian besar bagi masyarakat. Dalam perjalanan menimba ilmu kita tidak bisa mengusai semua hal karena kapasitas manusia masing-masing dan terbatas. Sehingga untuk diakui seseorang harus memiliki konsentrasi keilmuanya.

Ilmu inilah yang  nanti bisa digunakan untuk memberikan dampak bagi masyarakat dalam bentuk inisiatif-inisiatif. Suatu inisiatif tidak harus memiliki skala yang sangat besar seperti: negara, benua, atau dunia, cukup dengan inisiatif sekelas kampung/desa asal itu berdampak baik bagi warga sekitar. Mungkin dua kriteria sebelumnya masih sangat banyak dimiliki muslim muda di Indonesia. Namun, kriteria terakhirlah yang akan menjadi penentunya menjadi cendekiawan muslim millenial yang sukses atau tidak. Semakin besar mimpimu bagi masyarakat akan menentukan seberapa jauh dan besar  dampak yang akan diciptakan. Karena apa yang kita dapatkan di masa depan berawal dari tujuan yang kita buat hari ini.

Banyak cedekiawan muslim millenial di dunia menjadi sesorang  yang sangat berpengaruh terhadap dunia. Dengan berawal dari inisiatif-inisiatif kecil mereka untuk dilihat dunia dan menggerakkan masa untuk mengikuti mereka. Tentunya ini tidak terlepas dari peran globalisasi dan modernisasi sehingga informasi bisa cepat tersebar di sosial media dan sebagainya. Sebagian mereka menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Dengan mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat lama dengan hal yang baru, seperti menemukan teknologi-teknologi baru. Tak hanya itu, cendikiawan muslim millenial juga banyak yang masuk di sistem pemerintahan untuk mengubah peraturan suatu negara atau pemerintahan melalui perubahan kebijakan dan lain sebagainya.

Sikap yang  paling tepat dan sudah dilakasanakan cendekiawan muslim millenial saat ini adalah berdaptasi dengan zaman. Memanfaatkan keadaaan saat ini dan tidak menolaknya untuk memberikan dampak baik bagi masyarakat adalah kunci untuk beradaptasi dengan zaman sekarang. Tidak hanya beradaptasi, cendekiawan muslim millenial harus proaktif dalam segala hal. Sehingga bisa memperlihatkan kapabilitasnya kepada masyarakat. Bukan untuk sombong dan ria, sebaliknya ini malah untuk memantik semangat pemuda muslim lain untuk berkarya.

Dalam mengarahkan posisi mereka untuk berperan, harus bisa membumi sesuai dengan lingkungan yang mereka hadapi. Berteori tinggi dengan orang yang memiliki pendidikan rendah, akan memperlambat langkah mereka. Sehingga, mereka harus  pintar dalam mengidentifikasi karakteristik masyarakat yang akan dituju dan kebutuhan mereka apa. Sehingga dalam perjalanannya mereka dapat memenuhi kebutuhan itu sesuai karakteristik mereka untuk diterima oleh masyarakat.

Cendekiwan muslim millenial harus tahu secara  mendalam kedua budaya dan apa batasan-batasanya. Sehingga pada akhirnya mereka tau bagaimana untuk melakukan kompromi keduanya dan tidak berbenturan. Jikalau ada, maka mereka bisa memilih mana yang harus dikedepankan dahulu.

Sebenarnya dalam hal ini banyak sekali tokoh yang  bisa diangakat untuk mewakili cendikiawan muslim millenial. Salah satunya adalah grup musik yang  bernama Sabyan Gambus yang pentolan vokalisnya bernama Nissa Sabyan. Dengan kepiawaiannya mereka dalam bermusik, mereka dapat menyebarkan islam melalui seni. Hal konkritnya dalam memberikan dampak, mereka kerjsama dengan Qupro membuat sebuah konser.

Qupro adalah promotor yang tujuan setiap konsernya adalah menggalang dana untuk perjuangan teman-teman kita di Palestina. Di pemerintahan kita juga punya Nadiem Makarim. Pria kelahiran tahun 1984 ini diangkat menjadi Mas Menteri Pendidikan dan meberikan dampak kepada masyarakat Indonesia melalui regulasi sistem pendidikan Indonesia.

Sebelumnya ia juga berdampak untuk mengangkat perekonomian tukang ojek sehingga menjadi modal transportasi yang diminati masyarakat dan mempermudah kehidupan masyarakat di berbagai bidang melalui fitur dari Gojek.  Atau mungkin Anda pernah mendengar kisah Malala Yousafzai. Seorang aktivis yang berasal dari kota Mingora, Pakistan. Ketika masih berusia sebelas, Malala menulis mengenai kerasnya kehidupan di bawah pemerintahan Taliban dan bagaimana sulitnya mendapatkan pendidikan untuk anak-anak dan perempuan di sana. Perjuangannya dalam membela hak pendidikan dan kebebasan bagi anak-anak dan perempuan pun menjadikan dirinya sebagai penerima Nobel Perdamaian 2014. Salah satu kutipannya yang terkenal adalah “Seharusnya jangan ada diskriminasi terhadap bahasa, warna kulit, bahkan agama seseorang.”

Tentunya setiap langkah menuju tujuan yang ingin di capai akan mendapati kendala. Namun sebagai seorang muslim, menyerah bukanlah pilihan. Kesulitan yang kadang kita alami hanyalah sebuah proses, karena selama proses tersebut tidak di jalani, maka sangat jarang waktu yang kita miliki digunakan untuk beradaptasi dengan masyarakat di desa/tempat tinggal masing-masing.

Selain kurangnya adaptasi dari cendekiawan muslim millennial tersebut, juga masyarakat yang tentunya belum terlalu terbuka dengan teknologi akan menjadi tanggung jawab tersendiri untuk seorang cendekiawan muslim millennial menyesuaikan lingkungan. Permasalahan yang terjadi hanyalah tentang waktu dan semua pasti bisa diselesaikan dengan baik apabila dapat di korelasikan antara keilmuan dan pengalaman, karena tugas seorang muslim yakni membawa misi perdamaian dimanapun mereka berada. Dan harus meyakini bahwa misi tersebut akan membantu goal-goal yang akan saya capai dan memiliki dampak bagi masyarakat secara luas.