Oktober 27, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

Ironi Jeritan Para Nelayan

oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Ini bulan Januari 2019, sudah dua minggu lebih para nelayan menderita akibat musim hujan dan angin barat. Dari sekian deretan kapan nelayan yang ada di dermaga Karangagung hanya dua yang berani melaut, dan itu tidak menghasilkan apa-apa. Hanya lelah dan rasa penyesalan yang penuh hina.

Angin di januari 2019 ini benar-benar kencang dan menciptakan ombak-ombak yang menyulitkan para pelaut bekerja, mereka tidak mampu mengerahkan tenaganya. Jika setiap hari mereka bisa berangkat nelayan kapan saja, Ndogol yang berangkat pukul 04.00, Ngorsen yang berangkat pukul 13.00, Njaring yang berangkat pukul 04.00, Mayang yang berangkat pukul 01.00 dan mungkin juga Grobyok yang berangkat pukul 09.00, kini mereka tidak bisa bergerak layaknya orang mati. Dikatakan mati sangat benar sekali, karena mereka tidak mampu berbuat banyak untuk menghidupi keluarganya ketika musim angin barat dan penghujan ini datang. Para nelayan benar-benar menjerit.

Para ibu-ibu hanya bisa menghabiskan waktunya di depan televisi, setelah memasak dan menyiapkan anak-anaknya sekolah. Dan terkadang mengumpat-ngumpat pada suaminya yang tidak bisa berbuat banyak dengan krisis laut itu. Dari pada diumpat oleh istrinya para pelaut lebih banyak menghabiskan waktunya di Boom sambil melihat dasyatnya ombak-ombak yang memecah lautan. Mereka ngobrol tanpa arah dengan nelayan lainnya, mendiskusikan hal-hal yang sulit untuk dipikirkan dan jarang terjadi, lalu dilajutkan dengan mengumpat alam yang memberikan ‘pelayanan’ yang tidak menghasilkan uang bagi mereka.

Lucunya, para nelayan itu ada juga yang kembali pada masa kecilnya. Bersama anak-anak kecil mereka bermain kelereng, kopik (kartu), dan mungkin juga cangkruk di warung kopi hanya bermodalkan uang 5.000 rupiah. Itu mungkin lebih baik dari pada mereka melakukan pencurian atau hal-hal yang menimbulkan bahaya bagi orang lain.

***

Itulah orang nelayan Karangagung, bisanya hanya mencari ikan saja di laut tanpa harus memikirkan cara membesarkannya. Jika pada musim kemarau mereka merajalela memburu ikan sesuka hatinya dan berpesta pora jika uang didapatkannya melimpah, namun di musim penghujan mereka lumpuh, mati dan seperti zombi yang tidak memiliki kesadaran. Saat laut sedang sepi, tidak ada penghasilan, mereka tidak mempunyai inisiatif lagi untuk mencari cara menghasilkan nafkah bagi keluarganya. Mereka hanya bisa pasrah dan bisa melamun menunggu sebuah impian ‘diberi uang’ oleh para Caleg atau Kades. Dan itu sangat mustahil, karena musim politik masih lumayan jauh. Kurang 80 hari, dan itu waktu yang cukup lama untuk ‘berpuasa’ tidak bekerja.

Jika ada kekayaan yang melimpah, mereka tidak bisa berfikir panjang untuk hari-hari kedepannya. Semua uang dihabiskan dan digunakan untuk berfoya-foya. Membeli Pil Ekstasi, minum tuak, dan bahkan pergi ke tempat Karaoke untuk menyewa Purel dan mencari para pelacur. Miris, memang memikirkan kegiatan sehari-hari masyarakat nelayan. Bisanya hanya cari uang dan menghabiskan, tidak bisa berfikir untuk mengembangkan dan mencari alternatif baru bagi sumber keuangan lainnya.

Darmawan, guru ngaji di masjid nDalem Nurul Iman menceritakan kalau kondisi masyarakat nelayan di awal tahun 2019 sungguh memprihatinkan. Mereka sangat miskin hingga jatuh pada kondisi kaliren. Sangat Kaliren. Dia sendiri yang mempunyai pekerjaan sampingan menjadi tukang becak tidak mampu berbuat banyak, karena becaknya hanya memuat ikan hasil tangkapan para nelayan, sedangkan nelayan tidak ada yang melaut.

“Pada musim ini” kata Wawan, “ Uang 1.000 rupiah merupakan harta yang sangat berharga bagi para nelayan dan sangat sulit untuk diperoleh. Tidak salah jika dia sendiri juga tidak berani menyerahkan kartu I’anah Syahriyah anak-anak didiknya di TPQ yang diajarnya, karena dia sadar kalau masyarakatnya jatuh dalam kumbangan kemiskinan yang sangat parah.

***

Bagi saya ‘perbuatan’ masyarakat nelayan karangagung yang demikian itu merupakan hal yang biasa dan lumrah, bahkan itu merupakan sebuah jalan kehidupan yang sudah dijalaninya bertahun-tahun. Tapi ada yang ‘lucu’ bagi saya dengan tingkah laku para orang tua nelayan itu, mereka bermain kelereng atau kartu. Ha…..ha…… jujur saya tertawa dengan terbahak-bahak. Mereka melampiaskan kondisi ketidakmampuannya untuk menjadi kepala rumah tangga (karena sumber penghasilannya ngadat sementara, laut sedang sepi) dengan bermain kelereng dan kartu. Itukan mainan anak-anak, bodoh sekali mereka. Guman teman saya saat mendiskusikan kondisi mereka itu berdua dengan saya.

Melihat para orang dewasa nelayan yang bermain kelereng, dengan alasan dari pada di rumah dimarahi istrinya itu saya teringat dengan upaya saya yang berusaha mengajak anak-anak sekitar rumah saya untuk bermain.

Ya… anak-anak saya ajak bermain tembak-menembak. Sambil saya fasilitasi dengan senapan atau pistol mainan peluru gotri plastik. Bagi saya hanya permainan itu yang ideal bagi anak-anak Karangagung, karena beberapa alasan yang sangat ilmiah menurut kajian pemikiran saya, yaitu :

  1. Rumah di Karangagung sudah terlalu padat dan hampir semua tanah lapang sudah habis digunakan untuk perumahan. Bahkan jalan setapak pun sudah tidak lagi ramah bagi mereka. Sehingga mereka tidak mempunyai ruang bermain lagi.
  2. Jalan keluarnya adalah bermain ke tanah laut, dan mereka bertemu dengan orang-orang dewasa yang tidak bermoral. Membicarakan hal-hal yang jorok dan porno adalah kebiasaan mereka, dan itu jelas sangat tidak baik jika anak-anak bergaul dengan mereka.
  3. Anak-anak nelayan adalah pengkonsumsi ikan laut. Ini menjadikan anak-anak sangat agresif dan selalu ingin aktif. Karena kondisi lingkungan tidak kondunsif untuk aktif bagi mereka maka mereka cenderung nakal di sekolah dan menggoda teman lainnya. Intinya, mereka perlu bergerak.

Dari kondisi itulah saya berinisiatif mengajak anak-anak tetangga saya untuk mengalihkan hal-hal yang negatif dengan bermain tembak-menembak, sambil mengajari mereka sejarah tentang Perang kemerdekaan, Perang Dunia NAZI vs Komunis, Perang Irak, dan lain-lain. Dengan cara itu maka anak-anak akan sangat riang dalam bermain dan bisa menjalankan aktivitasnya dengan penuh semangat. Dan itu sangat terbutki ketika mereka saya ajak untuk bermain perang-perangan itu.

Tapi hasilnya, saya langsung mengalami kejatuhan martabat 180 derajad. Semua orang tua anak-anak itu sebagian besar menghina saya, bahkan ada yang berani mengumpat-umpat saya, karena mengajak anak-anak sesuatu yang tidak diajarkan di sekolah. padahal biaya permainan semua saya yang menanggung. Mereka menghina saya dengan mengatakan melalui geremengan dari mulut ke mulut. Guru yang kurang kerjaan, masa kecil kurang bahagia, seperti anak kecil saja dan yang lebih tragis saya dikatakan sebagai mendidik anak-anak sebagai teroris. Subhanallah, niat baik saya disambut dengan umpatan yang sangat kurang ajar.

Berjalan satu semester kegiatan latihan perang-perangan itu pun saya hentikan dan saya ‘berhijrah’ ke kota untuk fokus pada penulisan dan mencari uang.

***

Kini, hampir tiga tahun kemudian saya dengan mata kepala sendiri tahu kalau mereka yang menghina saya dulu telah berperilaku seperti anak kecil, karena gagal menjadi pria sejati yang bisa berinisiatif mencari uang untuk keluarganya. Begitulah orang nelayan Karangagung, sudah tidak tahu terima kasih malah menuntut lebih dan tidak menghargai jerih payah bagi putra-putranya.

Angin barat datang, merusak keserasian alam dan menjadikan para nelayan miskin tanpa harapan. Saya hanya bisa tersenyum dan memberikan sebuah pameran, kalau belajar dan membaca buku itu lebih nikmat dan lebih memberikan manfaat. Buktinya, saya masih tetap dalam kondisi aman-aman saja saat para nelayan sedang kelaparan.

Maaf, tulisan ini tidak bermaksud menjatuhkan, tapi saya hanya ingin membuktikan bahwa tidak selamanya mencari ikan di laut itu merupakan solusi masa depan. Bukan berarti dengan ahli sebagai seorang pelaut dan pencari ikan itu sosok yang aman dan baik, justru itulah langkah yang salah. Langkah yang salah bagi kalian sendiri yang menganggap bahwa menjadi nelayan dalah solusi masa depan.

Salah sendiri kalian dulu tidak belajar dan tidak rajin membaca buku, malah rajin mencari ikan di laut. Kini saat laut tidak lagi ramah dengan kalian (para nelayan) malah kalian terlihat seperti anak kecil yang merengek dan tidak bisa menangis, malah takut pada istrinya. Kalian tidak bisa lagi sombong dengan kemampuan melaut kalian, karena laut itu tidak segalanya bagi kehidupan. Ada banyak ilmu yang harus dipelajari dan menjadi bekal bagi kehidupan kalian.

***

Oleh karena itulah, janganlah menjadi seorang yang merendahkan pengetahuan. Jangan sombong karena kalian bisa melaut mencari ikan. Jangan pula menghina guru yang mengajak murid-muridnya belajar dengan bermain. Jadilah orang yang bisa berfikir untuk hari ini, esok dan yang akan datang.

Berhematlah selagi masih punya uang. Jangan dihabiskan dan digunakan berfoya-foya. Bertaubatlah hai kaum nelayan, kalian tidak pernah menanam, tapi sukanya merampas dan mengambilnya. Itu membuat kalian (para nelayan) menjadi kurang pengalaman dan jatuh dalam kemiskinan di akhir zaman.

Jeritan kalian itu sebuah ironi, yang tidak layak kalian ucapkan dan tidak layak kalian lakukan. Nikmatilah kemiskinan kalian karena yang membuat miskin itu diri kalian sendiri.