GURU SD versus GURU MI, Siapakah yang lebih Unggul?

Oleh : Moh. Syihabuddin, Direktur Kitasama Stiftung

Pada suatu siang, saya bergegas untuk menuju ke kantor PC. Ma’arif NU Tuban untuk mengurus beberapa persyaratan pengajuan sebuah BP3MNU di desa saya. Hasilnya, di depan kantor saya bertemu kawan lama dan dua guru yang rajin dan tekun ngopeni KKMI. Terjadilah ngobrol dan diskusi yang hangat sambil se-teko kopi disruput bergantian lima orang.

Tema pembicaraannya pun langsung pada beberapa hal yang menjadi kehidupan sehari-hari para guru itu. Apalagi kalau bukan interaksinya dengan pihak kepala sekolah di beberapa SD. Sekolah yang dikelolah oleh uang pajak rakyat itu akhir-akhir ini sudah “kelelahan” dan merasa kalah dengan saudara kembarnya, MI.

Guru MI, menurut para Guru SD sekarang ini sudah mulai jauh lebih maju dari pada guru-guru SD. Terutama kepala-nya. Rata-rata Kepala SD adalah guru-guru senior PNS yang awam tehnologi atau manajemen pengembangan diri, sedangkan kepala MI adalah guru-guru Muda yang rajin belajar dan sangat menguasai tehnologi dan manajemen pengembangan diri. Jika dalam menjalankan sebuah tugas yang berkaitan dengan laptop atau komputer para Kepala MI mampu menyelesaikan dengan cepat dengan (kemampuan) dirinya sendiri, maka tidak dengan kepala SD yang tidak mampu dan meminta para operatornya yang dibayar. Namun hasilnya tetap saja, kalah jauh dengan apa yang dilakukan oleh kepala MI.

Singkat cerita, akhir-akhir ini, di zaman industri 0.4 ini guru-guru SD sudah kalah “belajar” merespon zaman dengan guru-guru MI. Guru MI tidak gaptech, lebih cepat bergerak, dan lebih responsif terhadap tantangan yang dihadapi.

Lebih tragis lagi, dalam soal eksistensi di beberapa desa guru-guru SD sedang mengalami dilematis terhadap kepercayaan masyarakat, karena masyarakat lebih memilih MI sebagai pilihan bagi anak-anaknya untuk belajar dan menyiapkan bekal masa depannya. Dan bukanya SD. Tidak salah jika kemudian koran-koran lokal lebih banyak dimanfaatkan oleh Dinas Pendidikan dan kebudayaan untuk promosi dan menampilkan berbagai kegiatan sekolah-sekolah Negeri, tentunya dengan imbalan yang setimpal untuk medianya, dengan harapan masyarakat lebih mempercayai SD atau SMP/SMA sebagai pilihan dalam belajar untuk anak-anaknya.

Namun, kendati tidak didukung oleh media lokal, Madrasah tetap jaya dan kuat. Eksistensinya patut dibanggakan dan bahkan beberapa madrasah telah berkembang melampaui zamannya. SD dan sekolah lainnya mulai kesulitan untuk menyaingi dan sudah mulai kelabakan mengikuti pola pergerakkannya.

***

Di desa saya, khususnya SD atau Sekolah Negeri yang dikelolah oleh para PNS masih menjadi pilihan bagi anak-anak nelayan. Orang nelayan merasa mulia, merasa cerdas, dan merasa hebat tatkalah mampu menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Tidak tahu apa itu sejatinya sekolah negeri, atau kelak bisa lulus menjadi anak yang baik ataukah buruk, atau menjadi anak yang bermanfaat ataukah tidak manfaat, pokoknya sekolah negeri. Bagi mereka sekolah negeri jauh lebih baik dan jauh lebih terurus dari pada belajar di madrasah. Madrasah lebih jelek dan lebih baik sekolah negeri walaupun kualitasnya rendah, misalnya.

Karena perspektif itulah masyarakat nelayan di desa saya sebagian besar terkadang masih mempercayakan SD sebagai pilihan utama dari pada madrasah. Baginya, sekolah negeri lebih keren dan lebih prestesius. Anak yang sekolah negeri merasa elit dan beberapa derajad merasa lebih tinggi dari pada anak-anak yang belajar di madrasah. Hanya karena ada label negeri, Itu saja.

Walau bersusah payah sekolah di sekolah negeri, hasilnya tetap saja. anak-anak orang nelayan di desa saya banyak yang gagal dalam menjalani kehidupannya. Hampir 95% anak-anak nelayan di desa saya tidak mampu menata kehidupannya sendiri dan kurang mampu merespon zaman yang dihadapinya. Rata-rata ya… kembali menjadi nelayan, lalu berinteraksi dengan likungan yang keras, dan memiliki watak dasar “kebodohan” yang permanen. Tidak mempunyai tata krama, sangat sulit diatur dan keras kepala dalam hal-hal yang remeh temeh. Kurang mampu mengelolah kebutuhan hidupnya dan cenderung tanpa aturan dalam menjalani proses berfikir.

Adanya diskusi dengan kawan saya di KKMI di depan kantor Ma’arif ini langsung menyadarkan pikiran saya, betapah meruginya tetangga nelayan saya, atau warga desa saya dan sekitarnya yang sangat fanatik dengan sekolah negeri jika melihat fakta kualitas guru PNS sekarang? Sangat kasihan mereka.

***

Orang nelayan atau bahkan mayoritas masyarakat pada umumnya perlu sadar dan perlu berintropeksi diri dalam soal pilihan pendidikan bagi putra-putrinya. Bukanya melihat suatu lembaga itu negeri atau swasta-nya, elit atau tidak elit, diajar oleh PNS atau guru biasa, tapi harus melihat bagaimana sebuah lembaga itu dikelolah dengan baik, sehingga kelak anak-anaknya mampu menghadapi semua tantangan dan peluang di masa depan.

Dewasa ini kualitas guru-guru madrasah tidak kalah dengan kualitas guru-guru sekolah negeri, bahkan kualitas guru di madrasah bisa lebih baik. Proses belajarnya juga tidak kalah, antara sekolah negeri dengan madrasah. Tidak lagi madrasah layak dihina dan dilecehkan karena dikelolah asal-asalan. Tapi saat ini madrasah sudah berani “percaya diri” dan mampu bersaing dengan lembaga yang lebih baik dengan guyuran anggaran yang lebih besar dari pemerintah.

Satu perbedaan mendasar namun cukup berpengaruh antara guru sekolah negeri dengan guru madrasah adalah dalam hal proses dan membangun lembaganya, atau lebih sempit perbedaan itu bisa diartikan pada niatnya. Jika guru-guru sekolah negeri berangkat dari mencari bekerja, berprofesi untuk mencari pemasukan harian, dan memperoleh gaji rutin, maka guru-guru madrasah berangkat dari pengabdian dan mengamalkan ilmunya, terutama ingin berdakwah menyebarkan ajaran Islam. Paling tidak dengan mengajar, guru-guru di madrasah bisa menjadi bagian dari seorang da’i dan menyebarkan ajaran-ajaran Islam. Adanya intensif dari negara atau tambahan dari uang gaji itu hanya sebuah bisyarah, atau penenang untuk kesenangan saja, bukan tujuan itu.

Dari perbedaan yang mendasar inilah lalu berimbas pada cara mengajar dan mendidik, antara di tempat kerja dengan di rumah. Jika guru-guru sekolah negeri setelah mengajar dan habis waktu kerjanya merasa sudah hilang tanggungjawab dan tugas mengajarnya selesai, maka guru madrasah tidak demikian. Setelah mengajar guru madrasah masih bisa menyempatkan waktunya untuk anak didiknya. Bahkan menyempatkan juga untuk mengawasi bermain dan kesehariannya. Juga disempatkan pula bersilaturrahim ke rumah wali muridnya dan membicarakan kebiasaan anak-anaknya. Lalu mendiskusikan apa yang terbaik bagi anak didiknya.

***

Lalu ada lagi satu perbedaan antara guru sekolah negeri dengan madrasah, yakni dalam memberikan tugas kepada GTT-nya, atau para guruu yang berprofesi sebagai pengabdian.

Guru di sekolah negeri sering kali memberikan tugas kepada GTT-nya tanpa memandang urgensi tugas tersebut dan apakah tugas itu perlu bantuan atau tidak. GTT-nya sering diperas tenaganya dan sering pula diperintah mengerjakan pekerjaan yang sejatinya merupakan pekerjaan pribadinya, semisalnya urusan pemberkasan sertifikasi dan sebagainya. Guru GTT di sekolah negeri layaknya seorang buruh, bukan partner yang perlu diajak kerjasama dalam membangun lembaga yang lebih baik.

Hal itu tentu berbeda dengan guru di madrasah yang menganggap antara guru senior dengan guru baru adalah sama dalam posisinya. Semua bekerja dan mampu menjalankan kegiatan bersama-sama. Bahkan dalam hal kegiatan selalu dikelolah bersama-sama agar jerih payah dan “pahalanya” bisa dinikmati bersama-sama.

***

Jadi, siapakah yang perlu dimenangkan antara guru sekolah negeri dengan guru madrasah? Kita bisa melihat perkembangan saat ini dan perkembangan yang akan datang. Dan yang paling mudah adalah melihat akhir kehidupan masa tuanya, siapakah yang paling diuntungkan kelak jika usia mereka sudah menua dan sudah semakin rentah.

Pada intinya, kita perlu menyadarkan diri, terutama masyarakat, tidak perlulah kita membeda-bedakan antara guru madrasah dengan guru sekolah negeri, karena pada hakekatnya semua mempunyai misi yang sama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini. Masyarakat tinggal memilih, mau anak yang didik oleh guru yang berangkat sebagai seorang pejuang nilai-nilai keislaman atau guru yang berangkat sebagai profesi kerja. Mungkin hanya itu.

Leave a Comment