Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TETAP MENJADI “NAHDLATUL ULAMA” TANPA BERADA DI “KAPAL” NAHDLATUL ULAMA

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Secara tiba-tiba, seorang ketua Tanfidziyah MWC NU kecamatan tertentu di kabupaten Bumi Wali mengajukan surat pengunduran dirinya sebagai pengurus NU. Dia mendatangi sekretaris PCNU dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Tidak ada hujan, tidak ada petir, tidak ada angin sosok ketua tanfidziyah mengundurkan dirinya sebagai pengurus Nahdlatul Ulama.

Usut punya usut, ternyata sosok ketua tanfidziyah tersebut sedang marah, “mutung” dan “gregetan” karena jabatannya dilingkungan Pemerintahan Daerah tidak jadi dinaikkan oleh pimpinannya yang sedang berada kedudukan tertinggi kabupaten. Padahal, dalam pembicaraan sebelumnya, konon dirinya sudah dijanjikan untuk dinaikkan jabatannya dan sudah menerima pembicaraan secara pribadi dengan bupati.

Sekretaris PCNU, tentu saja tidak mengabulkan surat pengunduran dirinya tersebut dan memberikan surat balasan untuk tetap berada di Nahdlatul Ulama sebagaimana amanah-nya yang sudah diterimanya. Bagi PCNU, surat pengunduran diri tersebut tidak berdasar dan tidak memiliki relevansi dengan keberadaan Nahdlatul Ulama.

Bagi PCNU Bumi Wali, jabatan yang diemban di lingkungan pemerintahan Daerah tidak ada hubungannya dengan amanah kepengurusan yang ada di nahdlatul Ulama, sehingga apa yang terjadi di lingkungan Pemerintahan daerah tidak memiliki signifikansi dengan kepengurusan Nahdlatul Ulama.

***

Kejadian tersebut merupakan sebuah kejadian kecil yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan keberlangsungan sebuah negera atau umat Islam. Akan tetapi memberikan pesan yang jelas bahwa sebagian besar “Oknum Nahdlatu Ulama” (baca: OKNU) menghubungkan pengabdiannya di Nahdlatul Ulama dengan pekerjaan-hubungan pribadi-jabatan-nya. Seolah-seolah menjadi pengurus Nahdlatul Ulama mengharuskan dirinya “mendapatkan pekerjaan” yang layak dan bisa menghasilkan banyak uang yang dihasilkan dari konektivitasnya sebagai pengurus Nahdlatul Ulama.

Cara berfikir ini tidak benar dan sangat tidak dibenarkan, karena menjadi Nahdlatul Ulama atau pengurus Nahdlatul Ulama tidak mengharuskan seseorang “mendapatkan” pekerjaan atau uang (pemasukan) dari Nahdlatul Ulama.

Seorang kiai pernah mengatakan, “hidupilah Nahdlatul Ulama, jangan mencari hidup di Nahdlatul Ulama”. Ucapan ini menegaskan bahwa keberadaan individu (seseorang) menjadi warga Nahdlatu Ulama atau warga Nahdliyin mengharuskan totalitas diri tanpa harus memikirkan “apa yang diinginkan dan apa yang akan diperolehnya.”

Paling tidak, menjadi warga Nahdlatul Ulama (yang ideal) bisa berfikir untuk membangun Nahdlatul Ulama—jangan berfikir “Nahdlatul Ulama telah memberikan kepuasan uang dan kenikmatan harta.”

Menjadi orang Nahdlatul Ulama adalah seperti berada di sebuah pulau yang menyediakan keselamatan dan keamanan masa depan—selamat dari hantaman ombak, Tsunami, kehancuran benua, perubahan iklim dan penyebaran virus. Berada di Nahdlatul Ulama kita sudah mendapatkan keselamatan, mendapatkan keamanan, dan sekaligus mendapatkan ketentraman.

Karena sudah aman dan tentram maka seharusnya warga Nahdlatul Ulama bisa mengisinya atau membangunnya dengan segala kemampuannnya yang dimilikinya untuk membesarkannya.

Membangun Nahdlatul Ulama bisa dengan hobi dan cita-cita. Bangunlah hobi kita di Nahdlatul Ulama sebagai sebuah instrumen yang bisa membesarkan Nahdlatul Ulama. Jadilah cita-cita kita—agar tercapai—dengan menjadi warga Nahdlatul Ulama.

Jika hobi kita sudah membesar dan melambung, hobi kita sudah menghasilkan uang, cita-cita kita menghasilkan pekerjaan dan harapan hidup maka saat itulah semuanya akan kita berikan (kepada) untuk membesarkan Nahdlatul Ulama.

Artinya, berpikirlah untuk menghidupkan Nahdlatul Ulama dengan segala potensi (hobi, cita-cita, kepemilikan) agar Jam’iyah ini lebih bermanfaat dan bisa memberikan kontribusi bagi perkembangan Islam di Indonesia sekaligus menjaga bentuk NKRI yang sudah nyaman ini.

***

Untuk menjadi Nahdlatul Ulama kita tidak perlu berambisi atau “berkelahi” menjadi pengurus atau mendapatkan jatah pekerjaan dari Nahdlatul Ulama.

Gara-gara tidak jadi pengurus, atau tidak diberi pekerjaan dari pengurus Nahdlatul Ulama, misalnya, kita mutung dan tidak lagi memikirkan Nahdlatul Ulama.

Kita harus tetap berfikir untuk Nahdlatul Ulama dengan cara kita masing-masing, sesuai dengan hobi, cita-cita dan kemampuan potensi diri kita.

Akan tetapi, kita juga patut berjihad—jika perlu berperang dengan senjata alutitsta atau sistem hukum—agar Nahdlatul Ulama tidak dipegang oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

Jika Nahdlatul Ulama sedang genting-gentingnya membutuhkan penyelamatan (dengan perang) maka kita harus berupaya menyelamatkannya dengan mengangkat senjata atau menyiapkan ilmu kanuragan dan kekebalan.