JEALOUS; CINTA YANG TERNODA (Part 5)

Kita boleh berpisah dengan orang yang kita cintai, namun perpisahan hanyalah sebuah jeda sementara untuk membangun penyatuan yang lebih abadi dan lebih kuat diantara dua hati yang sedang patah. Cinta memerlukan kesabaran dan imajinasi yang kuat.

Satu minggu sudah Wahyu pergi keluar kota, selama dia keluar kota bukan berarti kita putus hubungan, Kita masih sering telfon dan chat. Mendengar suaranya dan mendapat balasan chatnya sudah membuat Aku bahagia, karena itu menandakan dia baik baik saja.

 Satu minggu Wahyu pergi satu minggu pula Raja tak menampakkan diri, ahh.. jadi kepikiran anak itu, takut jika sesuatu terjadi padanya Aku memutuskan untuk mengunjungi rumahnya, karena kebetulan hari ini hari minggu dia pasti libur kerja.

Bacaan Lainnya

 Dengan wajah berseri seri penuh kebahagiaan Aku melangkah keluar rumah, dari jauh Aku melihat seorang gadis melangkah menuju rumahku, ku perhatikan wajah gadis itu, dia datang tepat waktu dia selalu ada ketika Aku membutuhkannya dan Aku menyadari kesibukannya.

“Maya…”

Aku berlari menghampiri Maya, Ku peluk dia dengan riangnya.

“Maya..Maya..Aku ingin cerita sama Kamu.”

Maya melepas pelukanku.

“Stop, tak usah cerita Aku sudah tahu.”

“Tahu dari mana?”

“Dari wajahmu Ana.”

“Emang wajahku kenapa?”

“Kalau sahabatku ceria seperti ini, itu tandanya dia lagi bahagia.”

Aku tersenyum, menganggukkan kepala.

“Sekarang katakan padaku Ana, siapa laki laki yang telah meluluhkan hatimu?”

Dengan tersipu malu Aku menjawab pertanyaan sahabatku ini.

“Wahyu!”

“Wahyu teman Raja?”

“Iya, dan bulan ini Kita mau tunangan May..”

“Oh ya, selamat ya An, Aku ikut bahagia mendengarnya.”

“Terimakasih May.”

“Ngomong.. ngomong Kamu mau kemana?”

“Ke rumah Raja, mau ikut?”

“Boleh, mau ngapain kesana?”

“Sudah seminggu ini dia tak menampakkan diri, Aku takut jika dia kenapa napa.”

“Tumben perhatian juga Kamu sama dia.”

“Dia kan juga teman Aku May.”

 Kita pun segera meluncur ke rumah Raja, sampai di tempat rumah Raja kelihatan sepi, berulang kali Aku mengetuk pintu tapi tak ada yang membuka.

“Mungkin dia lagi tidak rumah, apa Kamu sudah mencoba menelponnya?”

Akupun mengambil ponselku dan mencoba menghubungi nomor Raja, tapi tak ada sahutan.

“Bagaimana An?”

“Tidak di angkat May.”

 Aneh, tak biasanya Raja seperti ini, Aku mulai ketakutan jangan jangan sedang terjadi sesuatu padanya.

 Keesokan harinya, Aku nekat mendatangi pabrik dimana Raja bekerja, Aku melihat dia tengah mencatat sesuatu. Segera Aku menghampiri tapi dia seolah tak melihatku.

 Kemana Ia melangkah Aku terus mengikutinya, kupanggil namanya berkali kali tapi Ia tetap tak peduli. Akupun berdiri di depannya dan terus menghalangi langkahnya hingga membuat dia akhirnya berhenti dan menatapku.

“Ana, pergilah Aku lagi sibuk.”

“Kamu kenapa sih? Tak biasanya Kamu seperti ini.”

“Aku sudah bilang, Aku sibuk.”

“Setidaknya dengarkan Aku dulu Raja.”

“Lain waktu saja Ana, Aku benar benar sibuk.”

Raja meninggalkanku, Aku terus memanggil namanya tapi Ia tak menoleh, semakin heran Aku di buatnya. Untuk pertama kalinya Raja tak peduli padaku.

Hampir setiap hari Aku mendatangi tempat kerja, mencoba meminta waktunya sebentar untuk diriku tapi dia tetap tak peduli, hingga suatu hari saat dia benar benar cuek padaku dan menghindari langkahku, Aku menarik tangannya hingga membuat kita saling berhadapan. Kita pun saling pandang, ada sesuatu yang aneh terjadi pada diriku hatiku berdetak kencang sekali, dan Aku mulai takut melihat matanya. Apa jangan jangan Aku… Ah tidak mungkin.

“Maaf Raja.”

Aku menunduk mengalihkan pandang dan melepas tangannya.

“Ada apa Ana?”

“Besok adalah hari pertunanganku dengan Wahyu, Kamu akan datang kan?” Tanyaku sambil tetap menunduk, Aku takut sesuatu yang aneh terjadi padaku lagi.

“Maaf Ana Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

Aku mulai mengangkat kepalaku dan menatap matanya.

“Besok Aku berangkat keluar kota selama sebulan.”

“Tidak bisakah Kamu menundanya Raja?”

Aku mulai memohon, karena Aku tahu Raja tak pernah menolak keinginanku dia selalu menuruti apa mauku, tapi yang terjadi kali ini benar benar beda, untuk pertama kalinya dia menolak ku, mengabaikan permintaanku.

“Tidak bisa Ana, tapi Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan Kamu.” Kata Raja sambil memegang pundakku, hal aneh itupun terjadi lagi padaku pegangannya beda dari biasanya, untuk pertama kalinya Aku merasa tenang saat menatap matanya, memegang tangannya bahkan saat Ia memegang bahuku sekalipun.

 Raja meninggalkan ku dan membiarkanku mematung untuk kesekian kalinya, ku terus menatapi langkahnya, dan membiarkan pertanyaan pertanyaan aneh ini tanpa jawaban.

 Wahyu meraih tanganku, melingkarkan cincin di jari manisku. Semua yang hadir bertepuk tangan dan memberikanku selamat, Malam ini acara pertunanganku dengan Wahyu berjalan sempurna tanpa ada kendala. Meski tanpa kehadiran Raja setidaknya kehadiran Maya cukup membuat Aku bahagia.

“Selamat ya An, Aku turut bahagia.” Kata Maya saat acara usai, terlihat Wahyu masih asik ngobrol dengan teman temannya.

“Terimakasih May.”

“Kamu kenapa An, apa Kamu tidak senang.” Kata Maya seakan menyadari kegundahan hatiku.

 Entahlah, meski ada Maya di sampingku Aku merasa seakan ada yang kurang, pikiranku terus saja tertuju pada Raja.

“Ana..Ana..” Maya membuyarkan lamunanku.

“Maya, apa menurutmu Raja suka padaku?”

“Apa Kamu merasa seperti itu?”

“Entahlah, tapi tingkahnya mengatakan itu.”

“Bukankah dia tidak hadir karena ada di luar kota?”

“Aku rasa itu hanya sebuah alasan saja.”

“Sekarang katakan padaku Ana, apa Kamu suka sama Raja?”

Pertanyaan Maya mengejutkanku, belum juga Aku menjawab pertanyaan itu Wahyu memanggil dan memperkenalkanku dengan kerabatnya yang baru datang.

 Keesokan harinya di waktu sore Wahyu mengajakku  berbelanja di supermarket kota. Setelah selesai berbelanja kitapun mampir ke rumah makan hingga malam pun tiba.

Saat perjalanan pulang tiba tiba hujan datang dengan derasnya.

“Wahyu, akankah lebih baik kita berteduh dulu, hujannya deras sekali.”

“Sebentar lagi sampai rumah, nanggung kalau harus berhenti.”

Wahyu melajukan motornya dengan kecepatan penuh mungkin Ia ingin cepat cepat sampai rumah dan tak ingin Aku terlalu basah karena hujan, namun saat melewati sebuah tikungan.

“Wahyu awas..!!!”

Pos terkait