Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

NAGORNO-KARABAKH, BEKAS UNI SOVIET YANG TIDAK STABIL

oleh: Moh. Syihabuddin

Mulai 20 Agustus 2020 wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan oleh dua negara bekas Uni Soviet, Armenia dan Azerbeijan bergejolak, lalu memanas dan menggiring pada pertempuran terbuka yang melibatkan alutista dan pasukan infanteri.

Secara kekuatan militer Armenia jauh berada dibawah Azerbeijan, sehingga tidak salah jika pada perjalanan pertempuran Azerbeijan berada di atas angin. Akibatnya beberapa wilayah yang dikuasai oleh Armenia di Nagorno-Karabakh bisa dibebaskan dan korban militer Armenia mengalami kerugian yang cukup signifikan.

Beberapa penyebab yang menjadi pertempuran di Nagorno-Karabakh terjadi diantara kedua negara.

Nagorno-Karabakh merupakan wilayah kantong orang etnis Armenia yang masuk kekuasaan administratif negara Azerbeijan. Wilayah kantong ini berupaya keras untuk memerdekakan diri dan bergabung dengan administratif Armenia. Namun hal itu ditentang oleh Azerbeijan yang mendorong Azerbeijan mengerahkan kekuatan militernya untuk memadamkannya.

Selain itu ada wilayah “cuilan” Nakhichevan di wilayah selatan Armenia yang menjadi kekuasaan administratif Azerbeijan. Secara geografis wilayah tersebut “seharusnya” menjadi bagian dari Armenia, namun pada kenyataannya dikontrol oleh Azerbeijan. Sehingga tidak salah jika Armenia sangat bernafsu untuk menguasai wilayah Nagorno-Karabakh yang dianggap sebagai bagian dari wilayah “etnisnya”.  

Tidak mengherankan jika kemudian klaim wilayah atas Nagorno-Karabakh akan terus disengketakan oleh kedua negara.

Dan yang paling signifikan, penyebab perseteruan Armenia-Azerbeijan adalah ketidakstabilan kawasan klasik bekas Uni Soviet.

Sebagaimana diketahui, Uni Soviet banyak meninggalkan kenangan yang tragis dan memiluhkan di setiap bekas wilayahnya. Sistem pemerintahan yang diterapkannya lebih banyak menimbulkan kesengsaraan dari pada kemakmuran.

Beberapa negara-negara Eropa Timur bekas Uni Soviet bisa makmur dan stabil tidak lain karena mereka terserap pada sistem Uni Eropa yang sudah mulai stabil dan sejahtera, sehingga banyak diantara mereka kini menjadi negara yang stabil dan cepat pulih dari keterpurukan.

Terlepas negara-negara bekas Uni Soviet di Eropa memiliki perbedaan agama dan etnis, kini tetap stabil karena berada di dalam zona perekonomian yang stabil dan memberikan kemakmuran bagi sistem pemerintahannya.

Hal itulah yang tidak dialami oleh Azerbeijan dan Armenia, disamping sudah ada perbedaan etnis dan agama serta kebudayaan yang tidak sama kedua negara juga tidak berada pada zona ekonomi yang kondunsif untuk membangun negaranya. Singkat kata, baik Azerbeijan maupun Armenia tidak berada pada organisasi regional (kawasan) yang bisa bekerjasama untuk saling membangun ekonominya, semisal Uni Eropa atau Asean.   

Perang Armenia dan Azerbeijan ini merupakan salah satu perang di kawasan bekas Uni Soviet, yang merupakan warisan Perang dingin yang “tidak kunjung” hangat. Konflik kedua negara kapan pun tetap akan meledak dan akan tersulut, karena buruknya “warisan Uni Soviet” yang masih melekat dan memberikan jejak-jejak kekejaman yang masih melekat kuat dalam tradisi politik masyarakatnya.

Hal ini didukung dengan ketidakadanya budaya yang bisa menyatukan kedua negara untuk berdamai, sehingga seolah berat untuk menciptakan stabilitas di kawasan tersebut.

Uni Soviet mewarisi banyak kawasan yang kurang stabil dan tidak memberikan alternatif pembangunan yang kondunsif. Buruknya sistem pemerintahan Uni Soviet membuat banyak negara sengsara dari pada berjaya. Beruntung bagi negara-negara Eropa Timur yang langsung mengadopsi zona euro dan menjadi Eropa setelah runtuhnya Uni Soviet, sehingga bisa mempercepat pembangunan negaranya.   Keberadaan perang di Nagorno-Karabakh merupakan bentuk kegagalan warisan sistem komunis yang diterapkan secara radikal kepada negara yang tidak cocok dan jauh dari nilai-nilai yang dibentuk Uni Soviet. Dari sinilah maka sangat kecil kemungkinan peperangan akan berakhir dengan damai yang permanen, suatu saat pasti akan kembali meledak.