Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TURKI DIBELAKANG AZERBEIJAN DI PERANG NAGORNO-KARABAKH, KENAPA?

oleh: Moh. Syihabuddin

Dalam pertempuran di Nagorno-Karabakh ini Azerbeijan tidak sendirian, ada Turki dibelakangnya. Turki, akhir-akhir ini di tangan kepemimpinan presiden Erdogan mampu membangun kekuatan militernya menjadi sangat kuat dan cukup disegani. Dibeberapa wilayah konflik Erdogan tidak segan-segan untuk “menampilkan” pasukannnya, mulai di Suriah hingga di Libya.

Banyak alasan yang “mengharuskan” Turki membantu Azerbeijan dalam berperang menghadapi Armenia. Turki, sebagai negara sesama etnis Turk dan beragama Muslim, serta memiliki sejarah masa lalu yang sama tentu saja memasang dada secara terang-terangan mendukung Azerbeijan dan tidak akan membiarkan Azerbeijan dikalahkan oleh Armenia.

Sedangkan Armenia sendiri, sejak berdiri menjadi negara pasca Perang Dunia I merupakan “hadiah dari sekutu”—yang diperoleh dari cuilan wilayah bekas kesultanan Utsmani yang dibubarkan dan babak belur, yang pada akhirnya pasca Perang Dunia II juga di caplok oleh Uni Soviet.

Menjelang kemerdekaannya, di tahun 1910-an orang-orang nasionalis Armenia juga menentang pemerintahan orang Turki Utsmani dan “ngotot” untuk berperang melawan kesultanan Utsmani agar bisa mendirikan negara sendiri. Peristiwa “genosida Armenia” yang dituduhkan pemerintah Utsmani di zaman Perang Dunia I tentu saja tidak bisa dihapuskan dari ingatan orang-orang Armenia. Sehingga permusuhan antara orang Armenia dan Turki tetap membekas dibenaknya masing-masing.

Dalam beberapa buku-buku sejarah internasional, khususnya di pendidikan di Barat “Genosida Armenia” terus menerus diajarkan dan dikembangkan sebagai bentuk genosida awal sebelum Nazi menciptakan Holocoust di Perang Dunia II.

Proses pembentukan emosi “masa lalu” di alam bawah sadar ini tentu saja menjadi momok bagi Turki yang tetap akan memusuhi Armenia sebagai “biangkerok” kejahatan masa lalu Turki yang tidak bisa dilupakan oleh dunia.

Padahal dalam beberapa bukti sejarah, pemerintahan Utsmani (waktu itu) tidak terbukti melakukan kejahatan tersebut. Mustahil di zaman itu ada perintah dari kesultanan untuk membunuh secara sadis gerombolan rakyat Armenia yang tidak berdaya, karena orang Utsmani sendiri di zaman itu juga terdiri atas banyak etnis, diantaranya adalah orang Armenia yang mendapatkan hak hidupnya secara bebas selama pemerintahan Utsmani.   

Tidak mengherankan, jika Armenia sedang berperang menghadapi musuhnya, maka dengan alasan “Genosida Armenia” yang disematkan pada Turki inilah membuat Armenia harus juga menghadapi Turki yang siap kapan saja mendukung musuh-musuhnya Armenia.

Dalam hubungan bilateral antara Armenia dan Turki tidak banyak memberikan jalan terang bagi kedua negara. Sepanjang dibebaskan dari cengkraman Uni Soviet dan usainya Perang Dingin negara Armenia selalu bersitegang dengan Turki dan meningkatkan kewaspadaannya. Disisi lain, dalam hubungan bilateral Azerbeijan selalu mendapatkan pelayanan yang baik dari Turki, begitu juga sebaliknya.