Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TUJUH SISTEM (MURID) MENYATU BERSAMA GURU

Oleh :

Imam Aretatollah, Peminat kajian Islam-Nusantara

 

Tujuh sistem (amalan dalam Naqsabandi) yang di ajarkan pada murid (dari Guru) bukanlah barang basih ataupun benda mati yang hanya bisa di ucapkan dan tidak berdampak pada diri dan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi tujuh sistem ini hidup (secara amalannya sendiri) sekaligus menghidupkan (bagi pengamalnya).

Ibarat teks al-Qur’an yang bisa menunjukkan jalan ke arah kebenaran, teks hadist yang bisa di buat pegangan hidup, maka tujuh sistem ini juga mampu memberi bimbingan kepada ruhani kita menuju jalan keridhaan-Nya.

Sudah sering kita mendengar kalau sistem yang di ajarkan oleh Guru ini mutlak, artinya bagi anak muridnya wajib menjalankan secara keseluruhan tanpa bisa memilih dan memilah salah satunya, misalnya hanya memilih tawajuh saja, atau suluk saja, atau mungkin juga beramal sendiri saja.

Kita sebagai anak murid tidaklah pantas “mencurigai” Guru mengenai tujuh sistem ini merupakan perkara yang sulit di jalankan, Guru pastilah tahu kondisi anak muridnya, sebab Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada seorang hambah melebihi batas kemampuannya. Itulah kenapa Guru mewajibkan kepada kita untuk menjalankan sistem yang di ajarkan sebab seorang murid pastilah mampu menjalankan.

Ketujuh sistem ini di ajarkan oleh Guru secara langsung, turun temurun dan tidak ada perubahan di dalamnya. Sistem ini masih orisinil, masih asli, tidak berubah dan tak akan berubah sampai kapanpun, karena Guru sendirilah yang akan senantiasa menjaganya.

Tidaklah mengherankan kalau Guru selalu menyuruh anak muridnya untuk senantiasa menjalankan dan melaksanakan ketujuh sistem yang di ajarkannya, sebab hakikat ber-Guru adalah menjalankan ketujuh sistem tersebut. Dengan kata lain ber-Guru berarti siap menjalankan ketujuh sistem ini, dan menjalankan ketujuh sistem ini berarti ber-Guru. Maka bagi kita haruslah mengingat kembali hakikat ber-Guru, karena masih banyak yang berfikiran rancau mengenai ber-Guru, di anggapnya kalau sudah masuk tharikat dan berkeyakinan Guru selalu menyertainya di anggap sudah ber-Guru dengan benar, walaupun tidak menjalankan ketujuh sistem. Ingat, orang seperti ini tak ubahnya temannya syeh Abdul Qodir yang berhasil di sesatkan oleh iblis.

Hakikat ber-Tuhan ialah ber-Guru, dan hakikat ber-Guru yaitu menjalankan ketujuh sistem yang di ajarkan-Nya. Lalu Kenapa kita sampai di wajibkan menjalankan ketujuh sistem ini? Sebab Guru melebur bersama ketujuh sistem yang di ajarkannya. Dengan demikian, bagi siapa saja murid yang menjalankan sistem tersebut, secara langsung dia akan senantiasa bersama Guru yang benar, Guru yang Nur alaa Nur (Cahaya di atas cahaya), Guru yang kholis mukhlis dan Guru yang mutlak. Sebaliknya siapa yang tidak menjalankan ketujuh sistem ini, maka dia berGuru kepada guru yang palsu, guru fatamorgana dan bahkan meng-guru-kan dirinya sendiri.

Jangankan kita yang sebagai manusia biasa, sembilan puluh tiga temannya syech Abdul Qodir al-Jaelani yang derajat keilmuan dan ketaqwaannya setara dengannya pun bisa di sesatkan oleh setan. Bahkan nabi Adam alaihissalam yang berada di surga pun mampu di kelabui oleh iblis, apalagi diri kita yang rendah dan kotor (penuh salah dan dosa) ini. Maka jalan satu-satunya untuk bisa selamat hanya berpegang pada Guru dengan menjalankan ketujuh sistem yang telah di ajarkannya. Tidak ada jalan lain kecuali itu, kalau-lah ada jalan lain maka jalan itu pastilah jalan guru yang palsu, jalan  pembenaran diri yang di anggap sebagai jalan guru, dan orang seperti inilah yang secara tidak langsung ingin menjadi Guru.