Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TUHAN MENCIPTAKAN MANUSIA DAN JIN, SEBUAH FAKTA TIDAK ADANYA EVOLUSI

oleh: Moh. Syihabuddin

خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ كَٱلۡفَخَّارِ وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ مِن مَّارِجٖ مِّن نَّارٖ 

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api. (Q.S. Ar-Rahman, 14-15)

***

Sebuah fakta yang tidak terbantahkan dan dengan tegas di sabdakan oleh Allah sendiri adalah keberadaan manusia dan jin. Keduanya merupakan makhluk ciptaan Allah yang diperintahkan untuk tunduk dan menyembah (beribadah) kepada Allah.

Manusia dan jin keberadaannya nyata dan jelas, akan tetapi keduanya memiliki alam yang berbeda atau dimensi yang tidak sama. Dimensi manusia hanya bisa dirasakan oleh manusia, begitu juga dengan dimensinya jin hanya bisa dirasakan oleh jin saja.

Kecuali bagi manusia dan jin yang mendapatkan kekuatan tertentu dan bisa saling berkomunikasi.

Manusia dan jin diciptakan oleh Allah melalui sebuah proses dan dengan bahan baku yang sudah dipilih oleh Allah sendiri, manusia diciptakan dari tanah dan jin diciptakan dari api.

Karena diciptakan dari api, maka jin lebih halus dari pada manusia. Dimensinya sedikit lebih tinggi dan memiliki waktu yang berbeda dengan yang dialami dimensinya manusia.

Perjalanan waktu yang dialami oleh manusia tidak sama dengan perjalanan waktu yang dialami oleh jin. Waktu yang dialami oleh jin lebih lambat dari pada yang dialami oleh manusia, sehingga usia manusia yang sudah bertahun-tahun hanya dirasakan oleh jin hanya beberapa bulan atau hari saja.

Kedua makhluk ini ditegaskan sendiri telah ‘diciptakan’ oleh Allah dan tidak muncul dengan sendiri. Dengan itu maka teori evolusi yang tidak lain merupakan rangkaian dari teori bumi bulat merupakan sebuah kesalahan.

Manusia bukan berasal dari kera, tidak ada hewan yang berubah dengan perjalanan waktu yang panjang lalu berubah menjadi hewan lain dengan metode adaptasi alam. Begitu juga manusia, tidak tumbuh dan berkembang dari kera yang sedang berevolusi dan belajar menaklukkan alam.

Manusia adalah makhluk yang berdiri sendiri dan langsung diciptakan oleh Allah, dengan mendapatkan tugas utama untuk beribadah kepada Allah. Begitu juga dengan jin, mereka makhluk lain yang juga diciptakan oleh Allah.

Dalam teori evolusi (Charles Darwin) dan penganut teori bumi datar tidak ada istilah jin. Bagi mereka, jin (tentunya makhluk halus lainnya) merupakan halusinasi, bayangan ketakutan manusia dan imajinasi yang dikembangkan oleh nenek moyang zaman dahulu yang masih percaya mitos—lalu berubah menjadi agama—katanya. Singkatnya, jin bagi penganut bumi bulat adalah mitos.

Untuk menggantikan keberadaan jin dan makhluk halus lainnya mereka memunculkan istilah lain, alien. Bagi mereka sosok alien, atau makhluk luar angkasa (buatannya sendiri itu) tidak lain merupakan wujud evolusi yang paling sempurna dari manusia.

Bagi mereka, adanya alien merupakan bentuk evolusi sempurna manusia menuju ‘perjalanan selama ribuan tahun’ menjadi makhluk yang sudah tidak membutuhkan lagi perkembangbiakan secara bersenggama, tidak membutuhkan sex. Alien berkembang biak secara mekanik, mirip dengan kloning dan print tiga dimensi.  

Dengan cara itulah mereka menghilangkan posisi Allah dalam menciptakan manusia dan jin. Karena (baginya) manusia dan jin (alien) tercipta dengan sendirinya melalui proses sebab-akibat atau evolusi yang berjalan selama ribuan tahun.

Sebab evolusi itu (kata mereka), jin menjadi makhluk yang lebih canggih dan lebih tinggi peradabannya, bisa mengendalikan alam semesta (rekayasa alam dan sains) dan menciptakan pesawat dengan kecepatan cahaya (UFO). Sedangkan manusia, masih primitif dan peradabannya masih jauh dengan para alien dari planet lain, sehingga belum bisa membangun pesawat terbang dengan kecepatan cahaya.  

Semua itu tentu saja sebuah gagasan yang konyol dan sangat bertentangan dengan sabda Tuhan di dalam kitab suci. Allah dengan tegas sudah mengatakan bahwa manusia dan jin merupakan makhluk ciptaannya dan diperintahkan untuk menyembah kepadanya.

Kendati demikian, dewasa ini dengan pertumbuhan media komunikasi berupa channel youtube yang sangat masif dan cepat masih banyak kalangan yang lebih percaya bahwa bumi itu bulat, terbentuk dari proses evolusi jutaan tahun, lalu manusia muncul juga dari proses evolusi yang panjang dari bentuknya yang primitif (hewan).

Karena masifnya pengaruh tersebut masyarakat banyak yang tertipu dan seolah lebih yakin (lebih percaya) bahwa mereka (kaum bumi bulat) lebih sains dari pada fakta yang telah disampaikan oleh Agama Tuhan.

Masyarakat pun dibodohi dengan cerita-cerita (editing di studio film), rekaman-rekaman video, gambar-gambar CGI dan kajian ilmiah yang didukung dengan anggaran yang sangat besar (termasuk penghargaan-penghargaan dunia), tentang adanya data-data yang mendukung keberadaan alien dan sumber evolusi alam semesta (black hole).

Tiga tahun terakhir, 2018, 2019, dan 2020 para peraih hadiah Nobel di Swedia merupakan sosok-sosok ilmuwan yang berhasil ‘membuktikan’ adanya berkas-berkas alam semesta tersebut (black hole). Adanya penghargaan tersebut seolah ‘menyakinkan’ dunia bahwa evolusi alam semesta benar-benar terjadi, sehingga mengharuskan untuk dinyakini dan ditindaklanjuti dengan riset lainnya.

Padahal mereka tidak pernah melihat apa yang dikatakannya tersebut, mereka hanya duduk di dalam laboratorium dan mengira-ngira apa yang dilihatnya dengan peralatannya saja. Tidak bisa menyakinkan secara nyata. Sejak dulu hingga kini, upaya-upaya untuk menghilangkan penciptaan akan selalu ditentang dengan cara “ilmiah” dan atau sains.