Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TRISNO OPO ANANE

oleh: Imam Sarozi

 

Kisah yang terurai akan merangkai satu kenangan. Menjadi lilitan tali antara batin dan fikiran. Semenjak itulah kasih tumbuh dalam perjalanan. Dan cinta berusaha untuk tetap tegar memenangkan di setiap pertarungan.

Malam ini akan kuceritakan sebuah perjalanan dua hati yang berjalan mendekati dimensi rasa yang hakiki. Melepas batas ketidak mungkinan menjadi ruang-runag hujan kerinduan.

Terlahir dari dua buah cinta yang tumbuh subur dalam asuhannya. Aku adalah buah dari dua raga yang telah menjadi satu hatinya. Meski usia tak lagi muda namun dua binar mata yang masih saja sama memancarkan teduh nan lembutnya sapaan rasa. Usia dan status bukan penghalang untuk mereka saling mengerti, saling memahami, dan saling melengkapi.

Iya, mereka jatuh cinta dengan segala perbedaan yang mungkin sulit untuk dipahami. Dengan perbedaan yang tanpa dimengerti oleh logika. Namun, atas nama cinta mereka melangkah memperjuangkan kehidupan bersama.

Harun, laki-laki yang sudah berstatus suami yang di karuniai 4 orang putra-putri. Di rumah yang hanya berukuran 3*3 meter yang mungkin bisa dikatakan sangat tidak layak untuk kehidupan normal sebuah keluarga dengan jumlah anggota yang banyak. Dengan hanya berjualan gerabah keliling dari satu pasar ke pasar lain, dari satu daerah ke daerah lain.

Setiap harinya punggung Harun muda harus memikul gerabah untuk dijual menutupi kebutuhan keluarga. Lelah, letih, dan jarak yang tak hitung jauhnya sudah hal biasa baginya. Ia laki-laki perkasa yang halus hatinya. Meski tak banyak hasil yang didapat dari berjualan, namun ia masih sisihkan untuk berbagi kepada yang lebih membutuhkan.

Bangku sekolahan dan pendidikan agama yang tak pernah ia rasakan tak menghalangi untuk selalu mengamalkan rasa kemanusiaan. Tak pemarah, murah senyum, suka berbagi dan rendah hati mungkin itulah pribadinya di balik wajah garang dan tebal kumisnya.

Tuban, 1993

Di tengah panasnya sengatan matahari dan ramainya jalanan. Seorang pria mendekati sebuah warung. Barang jualan yang terasa berat ia taruh di samping warung.

“Mbak, tumbas bakso lan es the.”

“Iya, Mas.”

Sejurus kemudian hanya dalam hitungan menit bakso dan segelas es teh sudah siap di hidangkan di depannya.

Mbak, bakso e kok enak pentole, sampean pinter gawene” celetuk pemuda tersebut memberikan testimoni atas bakso yang baru dia santap.

Oleh wae sampean iki Mas, wong karek mangan wae kakean protes,” jawabnya sinis.

“Hehehe” terkekeh menangapi jawaban ketus Mbak penjual bakso itu.

“Pinter masak jelas bojone, betah nek omah” kembali pemuda itu melanjutkan celetukannya.

Ora duwe bojo,” jawabnya singkat

Mosok wong ayu tur pinter masak urung rabi, omahe sampean nek ndi, tak dolan mrono, sopo ngerti iso di pek mantu,” goda pemuda itu

“Omahku Tuban.”

Obrolan singkat yang berujung ke pelaminan. Hitungan hanya beberapa bulan dari awal percakapan singkat  itu. Mereka saling memahami, saling mengerti, dan saling mempercayai. Harun yang berstatus memiliki seorang istri dan 4 orang anak. Esti, nama perempuan yang berjualan bakso itu. Dia adalah seorang janda yang suami dan anaknya meninggal. Suami yang meninggal di karenakan sakit yang sudah menjalar sekujur tubuhnya dan anak yang meninggal sewaktu kecil.

***

1994

Setahun sudah cinta mereka subur, hati yang sudah saling memiliki meski dengan kasih yang terbagi. Cintalah yang membuat Esti setiap harus belajar ikhlas dan tahu diri. Ikhlas jika suaminya juga memiliki anak dan istri. Meski berstatus istri ke 2 Esti selalu belajar menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Setiap harinya ia habiskan menemani setiap jengkal suaminya berjualan gerabah. Dari satu pasar tidur di pasar yang lain. Dari suatu kota ke kota yang lain. Hanya demi bisa membantu tugas suaminya menyukupi kebutuhan istri pertamanya dan 4 orang anaknya.

Setiap malam ia habiskan tidur di emperan toko di pasar bersama suaminya. Beralaskan kain sawut (kain panjang dan tipis yang berfungsi untuk mengendong barang) berbantalkan tangan Harun ia rebahkan tubuhnya.

“Mas, nek wes duwe anak. Aku tak gawe omah dewe ngeh, tak dodolan sego jagung mben sampean ora terlalu pegel ngolekno nafkah,” tutur lembut esti di teliga Harun.

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Harun. Seperti habis semua kata-kata yang ada dalam benaknya. Hanya mata yang berkaca-kaca. Semakin erat di peluk erat istrinya.

***

Cinta yang setiap harinya mekar, cinta yang setiap waktu mengembun nan segar, dan cinta yang setiap detiknya bergetar hingga maut di ujung mata semua masih saja sama seperti awal mula kedua mata saling berbicara bahasa cinta.

Lengkap sudah kehidupan 3 keluarga menjadi satu dengan kehadiran seorang putra dari Rahim Esti. Perekonomian juga semakin membaik. Dulunya Harun hanya penjual gerabah yang sederhana dengan 2 istri menjadi pengusaha meubel yang sukses dan berkecukupan harta.

Meski status ekonomi sudah lebih mapan, Esti tak menuntut apapun untuk Harun. Sebulan 2 kali atau seminggu sekali Harun bolak balik dari tempat usahanya yang dia tempati bersama istri pertama hanya untuk singgah bertemu Esti. Suatu ketika Harun memintanya untuk tinggal bersama dengan Istri pertama dan anak-anaknya agar semua orang yang di kasihinya berkumpul. Namun dengan halus Esti memberikan pengertian.

“Mas, bukan berarti aku moh kumpul karo sampean. Aku muk pengen manggon nek kene mben parek bapak ibuku, mben Rozi ora adoh karo mbah e. aku muk pengen ngabdi marang wong tuoku selagi urip Mas” tutur Esti Sambil mengelus rambut Harun.

Lagi-lagi Harun tak bisa berkata apapun dengar tutur kata istrinya itu. Itulah sebab Harun sangat mencintai Esti. Jiwa yang lapangan dan hati yang begitu lembut mencintai Harun tanpa syarat apapun.

***

Hari Rabu di tahun 2017

Jika hati sudah menjadi satu, dua raga yang berkesakitan akan sama pula merasakan. Itulah yang mereka alami.

Sudah bertahun-tahun harun mengidap penyakit komplikasi yang sekarang proses penyembuhan. Di mata yang sudah tua namun hati yang masih saja resah akan kebahagiaan istri dan anaknya.

Esti mengajak putranya untuk menjenguk ayahnya. Raga yang terpisahkan namun hati yang sudah melekat tak bisa membohongi kata-kata apapun. Meski uban sudah memenuhi kepala namun hati yang masih di penuhi taburan asmara seperti muda.

Di teras rumah mereka duduk saling bertatap mata. Tak ada sepatah kata apapun terucap untuk beberapa waktu yang lama. Mata yang sudah berkaca-kaca pelupuk yang menahannya untuk tak terjatuh. Dada yang semakin sesak menekan. Di lihatnya sosok laki-laki yang ia cintai dalam kondisi yang begitu lemas dan tak berdaya. Di pegangnya tangan yang selama ini mengajarinya memjadi orang yang ringan berbagi, tangan yang mengajari untuk ikhlas menerima seberapa rizki untuk di syukuri, dan tangan yang menuntut mereka saling menguatkan kondisi untuk saling memahami.

“Mas, seng kuat, dang sehat tak masakno sego jagung karo iwak teri,” tutur Esti sambil mengusap tangan Harun.

“Iyo, Dek. Aku pasti sehat. Aku pengen baturi Rozi nek nikah. pengen mangan masakane sampean maneh”

Terasa waktu lambat sore itu. Mereka habiskan senja di teras dengan cerita-cerita lucu awal kali bertemu. Sesekali tawa mengiringi percakapan mereka. Seperti anak muda yang di mabuk asmara sore itu.

Senja sudah letih menahan waktu, iya jatuh menjemput malam. Bersama itu juga Esti mengajak Rozi untuk pulang. Dengan pelukan dan cium tangan yang sudah menjadi kebiasaan mereka. dan Esti tak pernah mengerti jika itu adalah pelukan dan cium tangan yang terakhir.

***

Hari Senin di tahun 2016

Masih sama seperti hari-hari kemarin. Pagi dengan embunnya, bunga dengan mekarnya, burung dengan cuitannya, Hati Esti masih ada Harun di sana.

Jam 12.00 WIB telpon berdering.

“Mak, gak mrene sampean. Bapak kritis,” tutur suara yang ada di telpon. Itu suara Mia putri tertua dari Istri pertamanya Harun.

Seperti gemuruh petir di siang hari, gelombang keras menghantam karam. Tubuh Esti lemas. Menginggil dalam ketakutan. Apa dia akan pergi meninggalkanku bathinnya.

Sesampainya di rumah Harun. Esti masuk kamarnya Harun yang sudah di penuhi sesakan tangis orang-orang yang di sekitar. Di samping ranjangnya istri pertama mendekatiku memeluk Esti mencoba berbagi kesesakan yang sama-sama mereka alami.

“Seng kuat sampean,” tuturnya.

Langkah terasa berat, di dekatinya tubuh suaminya yang sudah tak berdaya. Hanya tinggal kedipan mata yang masih terlihat.  Ia dekatkan bibirnya untuk mencium kening laki-laki yang selama yang  ini memnuhi doanya, membanjiri hatinya.

“Mas, aku tresno karo Sampean. Aku ikhlas mas, sampean dang lungo sek, anakmu tak jogone. Enteni aku nek kono ngeh, sepurane aku urung iso dadi bojo seng iso bahagiakno sampean. Sepurane Mas ngeh,” dengan ucapan putus-putus Esti membisikkan salam cinta dan perpisahan untuk Harun.

Langit cerah namun ada rintik hujan di sana. Di hati Esti dan Rozi Putranya.  Genangan air mata membanjiri hati yang setiap hari mengatakan cinta. Harun telah pergi dengan senyum yang terakhir kalinya.