Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TIPOLOGI PENELITIAN TENTANG WALISONGO

Oleh :

Siti Nursaudah

Kepala Lembaga Pendidikan Islam An-Nurdinniyah Ketambul Palang Tuban

Penelitian tentang walisongo sudah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Beberapa peneliti telah melihat Walisongo sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang telah berhasil memberikan nilai-nilai lokalitas sebagai nilai-nilai Islam dan sebagian yang lain ada yang melihat walisongo sebagai sosok pendatang yang telah mewarnai peradaban di Nusantara.

Sepanjang kajian yang telah peneliti lakukan terhadap hasil penelitian tentang walisongo oleh peneliti sebelumnya setidaknya peneliti bisa mengategorikan penelitian tersebut menjadi lima bagian, antara lain :

Pertama, Walisongo dalam perspektif pendidikan. Banyak para peneliti yang melihat peranan dan perjuangan walisongo dalam proses Islamisasi di Nusantara ini dilihat dari perspektif pendidikan. Dimana bidang pendidikan merupakan fokus utama dalam membaca walisongo. Seperti yang dilakukan oleh Failasuf Fadli dan Nanang Hasan Susanto dalam Jurnal Penelitian Volume 11 nomor 1 edisi Februari 2017 yang menulis hasil penelitiannya dengan judul model pendidikan islam kreatif walisongo, melalui penyelenggaraan pendidikan yang menyenangkan. Dalam penelitian ini kedua peneliti ini telah melakukan pembacaan terhadap upaya walisongo yang telah menerapkan pengajaran terhadap para santrinya dengan metode pengajaran yang menyenangkan. Terciptanya wayang, alat musik, dan lagu-lagu dolanan merupakan karya-karya walisongo yang dihasilkan dalam rangka memberikan pembelajaran Islam yang menyenangkan bagi para santri di padepokannya atau orang pribumi yang ingin mengenal islam lebih dekat.

Kemudian Susmihara menulis penelitiannya dengan judul Walisongo dan perkembangan pendidikan Islam di Indonesia dalam jurnal Rihlah volume 5 nomor 2 edisi 2017, yang mengupas perkembangan pendidikan Islam di Indonesia ini merupakan sebuah kelanjutan dari pendidikan Islam dewasa ini, dimana walisongo telah menggunakan pendekatan yang kultural jawa sekaligus membangun pendidikan pesantren. Seperti diketahui bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia, dan itu merupakan lembaga yang dirintis oleh walisongo yang melakukan modifikasi terhadap bentuk sanggar yang dikembangkan tradisi Hindu-Budha.

Kedua, Walisongo dalam perspektif dakwah, yakni membaca peranan walisongo dalam peranan dakwahnya di tanah Jawa. Pada perspektif ini para peneliti lebih banyak melihat strategi kultural walisongo yang dilakukan untuk menarik masyarakat pribumi agar bisa menerima Islam tanpa dipaksa dan mendapatkan tekanan spikologis.  Seperti yang dilakukan oleh Hatmansyah dalam jurnal Al-Hiwar volume 3 nomor 5 edisi Januari-Februari 2015 menulis tentang walisongo dengan judul Strategi dan Metode Dakwah Walisongo. Dalam kajian ini peneliti telah mengupas secara luas strategi dakwah kultural yang dilakukan oleh walisongo, terutama dalam penggunaan metode kesenian dan hubungan yang intesif dengan perdagangan.

Yuliatin Tajuddin, dalam jurnal Addin volume 8 nomor 2 edisi Agustus 2014 yang menulis kajiannya dengan judul Walisongo dalam strategi komunikasi dakwah juga menekankan pada peran walisongo dalam menerapkan strategi kulturalnya, yakni dengan pendekatan budaya. Peniliti dalam jurnal ini lebih melihat pendekatan komunikasi walisongo terhadap masyarakat jawa dengan pendekatan yang santun dan komunikasi yang efektif. Sehingga dengan pendekatan yang komunikatif inilah penduduk pribumi bisa tertarik dengan ajaran Islam dan mau mengikuti ajaran Islam yang dibawanya.

Peranan walisongo dalam pengembangan dakwah Islam yang ditulis oleh Tarwilah juga memberikan penjelasan yang sama tentang strategi dakwah walisongo. Namun penelitian ini lebih melihat pengembangan dakwah Islam yang terus berkembang sejak walisongo mengajarkannya, dimana Islam terus berkembang secara pesat di wilayah Nusantara. Menurut peneliti, perkembangan agama Islam ini tidak bisa lepas dari upaya-upaya sebelumnya yang telah dilakukan oleh walisongo. Artinya peranan walisongo sangat besar dalam proses Islamisasi di Indonesia ini. Tanpa peranan walisongo mustahil Islam di Indonesia bisa menjadi Islam terbesar di dunia.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Fuad Falakhuddin yang menulis dakwah walisongo dan Islamisasi di Jawa. Pada penelitian ini dijelaskan bahwa dakwah yang dilakukan oleh walisongo telah memberikan dampak yang cukup besar dengan peralihan Jawa yang Hindu-Budha menjadi Muslim yang hampir total. Fuad lebih melihat walisongo pada sisi gerakan islamisasi yang masif, tersruktur dan gradual yang menjadikan Islam lebih cepat diterima oleh masyarakat Jawa.

Ketiga, Walisongo dalam perspektif bidang terapan, yakni melihat peranan walisongo dalam bidang terapan yang langsung bisa diaplikasikan. Sejauh yang peneliti lakukan ada dua hasil penelitian yang melihat dahwah walisongo dalam dua bidang yang unik, yakni arsitektur dan game online.

Ashadi menulis hasil penelitiannya dengan judul Dakwah walisongo pengaruhnya terhadap perkembangan perubahan bentuk arsitektur masjid di Jawa sebuah studi kasus pada Masjid Demak. Penelitian ini telah melihat peranan walisongo dalam membangun masjid Demak yang tidak lepas dari pengaruh-pengaruh ajaran islam. Dalam setiap konstruksinya masjid Demak memiliki nilai-nilai keislaman yang menjadikan masyarakat secara tidak langsung bisa terdidik dan tersugesti akan hadirnya Islam dalam kehidupan sehari-hari. Disamping itu, pengabdosian tradisi lokal Hindu-Budha juga tetap dilakukan oleh walisongo terhadap arsitektur masjid Demak, namun ajaran Islam tetap mendominasi setiap lekuk bangunan yang berdiri. Dari bangunan inilah peranan walisongo bisa terlihat dan melakat di tanah Jawa.

Kemudian M. Arroyan dan Yoannita menulis Rancangan bangun aplikasi edugame sejarah Walisongo (sunan kalijaga) dengan Unity 3d. Yang berupaya merancang game online dengan memanfaatkan perjuangan sunan kalijaga sebagai latar permainannya. Sehingga memalui permainan ini masyarakat bisa dengan mudah mengenal sejarah walisongo dan lebih dekat dengan budaya Islam itu sendiri.

Keempat, walisongo dalam perspektif Sejarah, yakni melihat walisongo sebagai bagian dari sejarah Nasional Indonesia. Penelitian model ini jarang dilakukan karena banyak para sejarawan (Indonesia sendiri) yang menganggap bahwa kisah walisongo penuh dengan hal-hal mistis dan tidak rasional. Sehingga menganggap bahwa kisah walisongo hanya mitos. Namun penelitian Budi Sulistiyonmo yang menulis Walisongo dalam pentas sejarah Nusantara telah memberikan keterangan yang berbeda dan memberikan kejelasan tentang peranan walisongo dalam pentas sejarah Nasional Indonesia.

Dan Kelima, walisongo dalam perspektif ajaran tasawuf, yakni mengkaji walisongo dengan ajarannya yang khas yang digunakan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari dan menjadi kunci keberhasilan walisongo dalam berdakwah, yakni ajaran tasawuf. Penelitian dengan judul Nilai-nilai ajaran tasawuf walisongo dan perkembangannya di Nusantara oleh Sultoni dalam jurnal Kabilah volume 1 nomor 2 edisi desember 2016 yang telah mengupas tasawuf falsafi dan akhlaki yang telah dilakukan oleh walisongo guna membangun masyarakat Islam di Jawa. Dengan pendekatan ilmu tasawuf inilah, yang kemudian diwujudkan dalam nilai-nilai ajaran tasawuf yang menjadi Islam bisa cepat dan berkembang di Jawa.

Komunikasi dakwah walisongo perspektif psikosufistik oleh Yuliatun Tajuddin dalam jurnal At-Tabsyir (edisi penerbitan tidak diketahui oleh peneliti) juga menegaskan peranan ilmu tasawuf yang mendominasi ajaran walisongo dan menjadi ikon pengembangan Islam di Indonesia. Dengan ilmu tasawuf walisongo tidak hanya dominan menerapkan syaria’at-fiqih an sich namun juga pendekatan emosional dan dzikrullah yang menyebabkan para pengikutnya semakin banyak dan membesar jumlahnya.

Wallahu’alam bi Showaf