Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TERTIPU 7 JUTA DI TENGAH MENJALANI PUASA DAN “KARANTINA-DESA”

kegiatan masyarakat kitasama di malam terjadinya penipuan

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Tepat setelah melaksanakan sholat jama’ah tarawih dari masjid (Rabo Malam, 6 Mei 2020) seorang pria muda di desa Karangagung (Palang-Tuban-Jawa Timur) telah mengalami bencana yang membuat hatinya “hancur” dalam sekejap dan mengalami traumatik yang mengakibatkan pikirannya linglung.

Hal itu tidak lain karena pengaruh dari sebuah telpon “misterius” yang menjadikan pikirannya seolah dikendalikan unsur-unsur “ghaib” sehingga tanpa sadar dia mengikuti intruksi-intruksi dari telpon tersebut hingga menurut saja mentransfer uang sebanyak 7 juta rupiah.

Berawal dari sebuah telpon yang datang dari orang yang tidak dikenal yang mengatasnamakan perusahaan belanja online, memberikan kabar tentang “dirinya” yang akan menerima sejumlah hadiah jutaan rupiah. Kontan saja kabar “gembira” itu memberikan perasaan yang meluap-luap dan mendorong diri untuk bergegas mengikuti langkah-langkah yang diinstruksikan untuk mencairkan uang hadiah tersebut.

Pikirnya, uang hadiah itu merupakan barang berkah dan akan bermanfaat, karena pada kondisi sepi kerja dan tekanan pandemik seperti ini memperoleh uang secara “gratis” akan memperlancar jalannya belajan rumah tangga.

Pelan namun pasti, sang penelpon misterius memberikan intruksi secara jelas pada dirinya. Kemudian diikuti dengan perintah untuk mengambil kartu ATM. Tanpa berfikir panjang perintah itu diikutinya saja dan segera meminta istrinya untuk mengambil ATM.

Datanglah dia ditemani istrinya menuju ke ATM unit BRI terdekat (di desanya) untuk mengikuti langkah-langkahnya diberikan “padanya”.

Dalam kondisi pikiran seolah tidak sadar tiba-tiba dia mengirimkan sejumlah uang tiga kali kepada tiga nomor yang berbeda yang disertai dengan kode-kode yang dia tidak memahaminya. Mengirimlah dia sejumlah uang hingga mencapai 7 juta rupiah dalam tiga kali gelombang.

Setelah mengirim uang sebanyak itu barulah dia menyadarinya pada proses “mau pengiriman yang keempat” bahwa hal itu merupakan penipuan.

Sadar akan berkurangnya uang yang ada dalam rekeningnya kontan saja dia langsung lemas, shock, dan tubuhnya tak berdaya. Istrinya langsung menangis histeris meratapinya, sampai satpam BRI setempat yang jaga malam dijadikan sandaran tangisannya tanpa sadar.

Dia dan istrinya pun tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya menyesal, stress, bingung dan seolah dunia ini runtuh dalam dirinya. Dunia menjadi ajang yang menakutkan dan tidak lagi ramah bagi dirinya.

Istrinya yang sudah menangis histeris, merasa tertipu dan kehilangan banyak uang seolah menjadi gila mendadak. Uang dalam rekening tersebut tidak hanya miliknya saja, namun juga miliknya ibunya, milik neneknya, milik sepupunya dan milik pamannya. Kebetulan istrinya dianggap orang yang “pintar” menyimpan uang oleh keluarganya maka jadilah istrinya itu “lahan” untuk menitipkan uang.

Adanya kejadian yang dialami oleh suaminya kontan saja membuat seluruh rumahnya, ibunya dan kakeknya, serta bibi-bibinya ikut bimbang dan galau. Suaminya semakin tak bisa dikendalikan karena sudah seperti “mayat” yang tidak memiliki kesadaran dalam pikiran dan hatinya.

Singkat cerita, lenyaplah uangnya 7 juta rupiah itu dan tidak bisa dikembalikan secara utuh lagi.

***

Apa yang bisa kita ambil dari pelajaran kasus tersebut sangatlah penting dan sangat berharga pada masa-masa pandemik ini, lebih-lebih disaat bulan puasa (1441 H) ini.

Dalam kondisi yang serba bosan dan galau, pikiran melayang dan mengandaikan pekerjaan, berharap ada uang datang secara cuma-cuma, dan berupaya mendapatkan pekerjaan yang instans (akibat pengaruh internet yang mengisahkan kaya mendadak) menjadikan banyak orang mudah dipengaruhi dan berfikir tidak rasional. Apalagi dalam posisi menjalani puasa dan bayangan untuk memiliki uang di hari raya fitri membuat kondisi pikiran semakin tak terkendali terjun ke medan-medan irrasional.

Model-model penipuan melalui hadiah, tawaran pekerjaan, minta kiriman pulsa gratis, dan tawaran bonus dari lembaga tertentu menyebabkan pikiran orang mudah menerima dan mudah pula mengikutinya.

Sejatinya bukan sihir atau ilmu ghaib yang diterapkan oleh para penipu telpon tersebut, tapi lebih pada permainan sugesti dan pengelolaan pikiran bawah sadar untuk mendorong korban menuju “penyucian otak”. Tehnik yang mereka lakukan menekankan “pengaruh” dan “pengendalian” terhadap ruang-ruang kosong dalam hati dan pikiran.

Metodenya cukup sederhana, yaitu melakukan pembicaraan secara terus menerus dan melangsungkan interaksi secara intensif membicarakan “peluang” atas tawaran yang diberikan. Ketika pembicaraan sudah terlihat akrab dan terasa dekat maka saat itulah mereka akan mulai beraksi dengan memulai pada nomor rekening. Jika pada tahapan ini sudah kena maka untuk seterusnya mudah saja mereka akan memberikan “arahan” dan intruksi untuk mentransfer uang korbanya menuju ke rekening mereka (jumlahnya sangat beragam dan acak untuk menciptakan kebimbangan).

***

Hati yang kosong, sepi dari spiritualitas dan kehadiran Tuhan akan mudah dipengaruhi oleh cara-cara kuno ini. Karena hatinya yang kosong akan kehadiran Tuhan mempengaruhi pikiran masuk pada kondisi diantara tidur dan terjaga, terjaga namun tidur atau sebaliknya, tidur tapi terjaga.

Kondisi hati seperti itu biasanya dihadapi oleh orang-orang yang galau dan pikirannya “menghayal” tanpa disertai dengan kegiatan-kegiatan yang mengembangkan perasaannya, semisal dzikir, membaca buku, intens diskusi, dan rajin menulis hal-hal mendalam (keilmuan). Kondisi hati seperti itu menggiring pada perasaan-perasaan yang kurang fokus, melayang pada khayalan, dan seolah berada dalam keadaan mimpi.

Jika sudah masuk pada kondisi tersebut maka yang bersangkutan mudah saja dikendalikan dan mudah pula dipengaruhi untuk melakukan segala hal. Para teroris juga menggunakan metode ini untuk melakukan rekrutmen “kader-kader” radikalisnya utnuk melakukan “jihad konyol” melawan musuh yang sebetulnya saudaranya sendiri.

Oleh karena itulah, penting menjaga kondisi pikiran dan hati pada saat pandemik ini yang sekaligus dijalaninya pada masa-masa puasa. Yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi puasa dan suasana pandemik-nya.

Puasa tidak sekedar mengosongkan perut dan menahan lapar saja lalu dihabiskan dengan aktivitas-aktivitas yang tidak produktif (ngabuburit, nonton film, tidur dan main game). Puasa termasuk pada kegiatan yang mengarahkan pada upaya-upaya suci dan mengharuskan aktivitas (yang tentunya juga) mengoneksikan dirinya dengan kekuatan ghaib Tuhan yang Maha Suci.

Pada kondisi puasa kegiatan yang paling benar adalah berdizkir, membaca al-Qur’an, membaca buku, menulis keilmuan yang mendalam, dan atau beri’tikaf di masjid menjauhi handphone. Malamnya bisa disibukkan dengan menjalani ibadah sholat-sholat sunnah dan membaca buku yang berkualitas.

Jika hal itu bisa dilakukan maka akan bisa (berpeluang) membantu kondisi pikiran terjaga dari hal-hal yang “kosong”. Apalagi pada masa pandemik ini yang menghadirkan kekosongan pekerjaan, galau keuangan, dan kepikiran belanja, tentu saja sangat membutuhkan sekali kehadiran kegiatan-kegiatan yang bisa mengontrol hati dan pikiran agar tidak terjerumus pada pengaruh-pengaruh “penyucian otak” yang negatif. Dan kegiatan yang saya sampaikan tadi dalam kondisi puasa akan mendorong keadaan tersebut yang mengamankan dirinya.

Apa yang dialami oleh pria di desa Karangagung itu merupakan sebuah kombinasi yang terstruktur antara kegalauan, kekosongan pikiran, perut lapar, dan serangan berita-berita corona yang bercampur aduk menjadi “manusia tanpa nyawa” atau kondisi mimpi dalam terjaga.