Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TERJUNGKALNYA KEBUTUHAN DASAR MILENNIAL (Fenomena Seleb Instagram dan Piramida Kebutuhan Maslow yang Mulai Terbalik)

Oleh :

Siti Fatkhiyatul Jannah

 

Pengantar

Abraham Maslow mengembangkan teori kepribadian yang telah mempengaruhi sejumlah bidang yang berbeda, termasuk pendidikan. Ini berpengaruh luas karena sebagian tingginya tingkat kepraktisan teori yang dikembangkan oleh Abraham Maslow.

Teori ini sangat akurat dalam menggambarkan realitas yang banyak tumbuh dan berkembang dari pengalaman pribadi. Banyak orang menemukan jati dirinya, saat mereka bisa melihat teori yang dikembangkan oleh Maslow, sehingga melahirkan beragam perspektif dalam melihat realita.

Dengan memanfaatkan terori Maslow mereka dapat mengenali beberapa fitur dari pengalaman mereka atau perilaku yang benar dan dapat diidentifikasi, kendati mereka tidak pernah mengungkapkannya kedalam kata-kata.

Sebagai mana diketahui sosok Maslow adalah seorang psikolog humanistik. Yang menyakini bahwa ada kekuatan yang berjalan sendiri dalam tubuh manusia tanpa ada kekuatan lain yang tersembunyi. Humanis tidak pernah percaya bahwa manusia mampu melakukan upaya mendorong dan atau ditarik oleh kekuatan mekanik, salah satu dari rangsangan dan bala bantuan (behaviorisme) atau impuls naluriah sadar (psikoanalisis).

Dengan jalan ini maka seorang Humanis berfokus pada potensi. Mereka percaya bahwa manusia berusaha untuk tingkat atas kemampuan. Manusia mencari batas-batas kreativitas, tertinggi mencapai kesadaran dan kebijaksanaan. Ini telah diberi label “berfungsi penuh orang”, “kepribadian sehat”, atau sebagai Maslow menyebut tingkat ini, “orang-aktualisasi diri.”

Aktualisasi Maslow

Dalam piramida Maslow, kebutuhan sosial ditempatkan di bawah kebutuhan esteem dan kebutuhan aktualisasi diri—yang kalau dilihat lagi secara seksama semuanya saling terkait.

Kebutuhan esteem, misalnya, hanya akan berarti jika pencapaian tersebut diketahui oleh lingkungan sekitarnya. Percaya pada diri sendiri dan kebanggaan adalah sesuatu yang relatif terhadap apa yang kita jumpai dalam kelompok sosial. Begitu pula halnya dengan aktualisasi diri. Kebutuhan akan tujuan hidup, perkembangan pribadi, dan juga realisasi dari potensi diri secara utuh, yang merupakan komponen aktualisasi diri, menjadi sesuatu yang nyata saat di bandingkan dengan konteks lingkungan yang dihadapi.

Wujud dari sesuatu yang “bagaimana orang memenuhi kebutuhan sosialnya” sudah kita lihat dari fenomena dewasa ini yang berkembang. Lihat saja perkumpulan social, ada di mana-mana—dari dulu sampai sekarang. Perkumpulan tersebut dibentuk atas dasar hal-hal ketertarikan, pekerjaan, atau aktivitas yang sama. Sebut saja, mulai dari perkumpulan keagamaan, arisan, fans untuk klub-klub olah raga, sampai bahkan dharma wanita, yang kesemuanya bisa dikategorikan sebagai konektor sosial yang ada di dunia offline.

Namun di era New Wave ini, kita semakin melihat bahwa teori Maslow ini menjadi semakin kentara, dalam arti semakin mudah bagi siapa pun untuk tampil, mengaktualisasi diri, tampil percaya diri, di lingkungan sosial mereka. Tentunya asal, mereka menggunakan konektor sosial yang ada di dunia online dan offline secara cerdas, bijak dan kreatif.

Hasilnya, kemungkinan besar konektor sosial tersebut tentunya semakin mudah untuk diakses, bagi siapapun-dimanapun-kapanpun, dengan catatan asalkan mau-mampu.

Teknologi Media dan Personal Branding

Rupanya teori kebutuhan Maslow yang disampaikan oleh Abraham Maslow seolah-olah tidak lagi relevan tidak jaman millennial ini. Ada semacam kerusakan sistem dengan apa yang dipikirkan oleh Maslow dengan kondisi dewasa ini.

Maslow menyatakan bahwa kebutuhan manusia dari yang paling utama adalah (1) kebutuhan fisiologi, (2) rasa aman, (3) kasih sayang, (4) penghargaan, dan (5) aktualisasi diri. Artinya kebutuhan fisiologi merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum memperoleh kebutuhan selanjutnya. Tanpa memenuhi kebutuhan dasar (yang pertama) maka kebutuhan selanjutnya mustahil untuk diperoleh dan dicapai.

Untuk mendapatkan kebutuhan kasih sayang misalnya, seseorang terlebih dahulu harus memenuhi kebutuhan fisiologi dan rasa aman. Kedua kebutuhan ini harus dicapai terlebih dahulu jika ingin memperoleh kebutuhan yang selanjutnya.

Dewasa ini proses piramida yang dikembangkan oleh Maslow mulai mengalami perubahan dan lebih jelasnya, ketidaksesuaian dengan realita milenial abad 21 M. Ada perubahan secara radikal, 180 derajad kebutuhan mansia ini dibandingkan dengan yang dulu.

Saat ini kebutuhan diurutan piramida terbawah tergantikan oleh kebutuhan terhadap battery dan Wifi. Kebutuhan akan kedua hal ini menjadi fakta yang paling penting dibandingkan dengan kebutuhan milenial lainnya.

Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Karena adanya kecepatan dan peng-arus-utama-an informasi yang berjalan sangat cepat hingga melimpah ruah melebihi batas penerimaan otak (indra lainnya) terhadap informasi tersebut.  Informasi tumbuh dan menyebar bagai sebuah virus ke seluruh relung kehidupan dan menontrol seluruh kebutuhan manusia dari bangun tidur hingga menjelang tidur, serta pada saat tidur itu sendiri.

Sekarang kita tinggal klik satu kali usapan layar android atau smarphone, maka segala sesuatu yang menjadi keinginan kita sudah tersedia dihadapan kita, tanpa harus bersusah payah untuk mendapatkannya secara manual (bergerak menuju ke tempatnya berada secara fisik). Kita hanya membutuhkan duduk manis ditempat yang aman, menunggu beberapa menit, maka kebutuhan kita akan terpenuhi.

Kecepatan akses dengan keterbukaan informasi yang luas inilah yang lantas membuat hirarki kebutuhan maslow sudah tidak berlaku lagi di era millenial ini. Orang tidak lagi membutuhkan kebutuhan fisiologi, sebagai kebutuhan dasar untuk memenuhi hidupnya.  Alih-alih menjadi kebutuhan terakhir, aktualisasi diri menjadi kebutuhan utama masyarakat di era industri 4.0 dan postmodern ini.

Terbalinya Piramida Maslow

Hal inilah yang kemudian membuat hirarki yang sudah menjadi pakem Maslow akhirnya kabur dengan masuknya beberapa variabel, yang diantaranya percepatan akses media sosial (virtual) hari ini yang mengajak kepada penggunanya untuk selalu up to date mengikuti perkembangan zaman. Upaya “mengajak” media sosial  (virtual) bukan secara halus dan santun, tapi secara radikal hingga mengubah dan mencerabut akar budaya dan kebiasaan seseorang.

Seorang pengguna instagram (salah satu platform media sosial) menyebut dirinya sebagai selebgram (seleb Instagram) bagi yang memiliki pengikut atau follower sebanyak kurang lebih 1.000.000 pengikut inilah yang menjadi tanda bahwa kita memiliki kemampuan meng-Influence atau sebagai role model dalam berbagai sajian konten yang disajikan. Selebgram inilah nantinya yang akan menjadi sebuah representasi dari terbentuknya sebuah personal branding, yakni sebagai manifestasi dari aktualisasi diri.

Aktualisasi diri dewasa ini, akibat pengaruh industri 4.0 menjadi puncak tertinggi hirarki kebutuhan sebelum terpenuhinya tahapan-tahapan dibawahnya. Seperti tercukupkannya kebutuhan fisiologis, keamanan, sosial dan penghargaan akan segera terpenuhi jika kebutuhan aktualisasi diri terlebih dahulu bisa terpenuhi. Dengan memperoleh kebutuhan aktualisasi maka kebutuhan yang lainnya akan dengan sendirinya mendekat dan merapat pada sosok individu, lebih tepatnya melekat pada sosok selebgram.

Adanya kemajuan teknologi pada media virtual memberikan dampak yang cukup besar terhadap perubahan piramida kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia menjadi berubah, terbalik 180 derajad. Landasan piramida kebutuhan berubah, yang atas menjadi bawah dan bawah menjadi atas.

Oleh sebab itu, atas capaian yang diperoleh dengan kemudahan akses teknologi informasi inilah kemudian menciptakan asumsi dasar, bahwa pada setiap perubahan manusia terjadi pula perubahan kebutuhan.  Artinya, kebutuhan manusia tidak selamanya tetap dan akan berubah seiring dengan perubahan ruang-waktu.  Dan ini yang dibentuk dan ditampilkan oleh generasi internet dewasa ini yang lebih membutuhkan sebuah paketan data, koneksi internet, atau android dari pada kebutuhan atas makan, rumah dan pakaian.

Selanjutnya, tergantung kita membaca kebutuhan kita atau kita mengikuti arus budaya populer yang tak menghiraukan kedalaman makna.

Wallahu’alam bisshowaf.