Oktober 22, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TERAPI KESEHATAN NON-FARMAKOLOGIS DENGAN AL-QUR’AN, MENDOBRAK TEHNIK PENYEMBUHAN SEKULER

oleh

Moch. Anwar hakim

Praktisi Kesehatan, aktif di PC. IPNU kabupaten Tuban

 

Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang dapat perhatian dari masyarakat, mengingat dampak yang ditimbulkan baik jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga  membutuhkan penanggulangan yang menyeluruh  dan terpadu.

Penyakit hipertensi menimbulkan angka mobiditas (kesakitan) dan mortalitas (kematian) yang tinggi, hipertensi merupakan penyebab utama kematian diseluluruh dunia, selain itu penyakit hipertensi dapat menyebabkan berbagai komplikasi terhadap beberapa penyakit lain, bahkan dapat menyebabkan penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke.

Timbulnya Berbagai Penyakit

Memang penyakit darah tinggi atau hipertensi 90% tidak diketahui secara pasti faktor penyebabnya, namun dari berbagai penelitian telah di temukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Salah satunya adalah gaya hidup yang tidak sehat, contohnya adalah konsumsi garam yang tinggi, makanan berlebihan, minum alkohol dan merokok Selain gaya hidup, tingkat stress juga berpengaruh terhadap peningkatan tekanan darah apabila stress berlanjut, begitu pun dengan lansia yang kerap terkena tekanan darah yang tinggi  dikarenakan perubahan fisiologis  akibat proses lanjut usia diantaranya mengarah pada gangguan sistem kardiovaskuler, perubahan pada sistem kardiovaskuler ini mengakibatkan dinding aorta maupun katup jantung menebal dan menjadi kaku sehingga kemampuan jantung memompa darah menurun, adanya perubahan menyebabkan tekanan darah pada lansia cenderung meningkat.

Klasifikasi Hipertensia

Klasifikasi hipertensi sendiri menurut bentuknya ada dua yaitu hipertensi sistolik dan hipertensi diastolik.

Pertama yaitu hipertensi siastolik adalah jantung berdenyut terlalu kuat sehingga dapat meningkatkan angka sistolik. Tekanan sistolik berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri bila jantung berkontraksi (denyut jantung).

Ini adalah tekanan maksimum dalam arteri pada suatu saat dan tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya lebih besar.

Kedua yaitu hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran darah yang memaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya.

Tekanan darah diastolik berkaitan dengan tekanan dalam arteri bila jantung berada dalam keadaan relaksasi diantara dua denyutan. Sedangkan faktor yang mempengaruhi pravalensi hipertensi antara lain ras, umur, obesitas, asupan garam yang tinggi, adanya riwayat hipertensi dalam keluarga.

Mekanisme vasokontriktor dan relaksasi pembuluh darah terdapat pada pusat vasomotor yang terletak di medulla pada otak. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak melalui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis.

Pada titik ini neuron preganglion akan melepaskan asetikolin yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskanya norepinefrin, maka akan terjadi vasokonstriksi yang berakibat pada meningkatnya tekanan darah.

Berikut table   Tekanan Darah Normal Rata-rata (Potter & Perry, 2005)

Usia Tekanan Darah (mmHg)
Bayi baru lahir (300 g) 40 (rerata)
1 bulan 85/54
1 tahun 95/65
6 tahun 105/65
10-13 tahun 110/65
14-17 tahun 120/75
Dewasa tengah 120/80
Lansia 140/90

 

Sedangkan berikut nilai tekanan darah sendiri

Normal <130/85 (mmHg)
Normal tinggi 130-139/85-90 mmHg
Hipertensi ringan 140-159/91-99 mmHg
Hipertensi sedang 160-179/100-109 mmHg
Hipertensi berat 180-209/100-119 mmHg
Hipertensi sangat berat ≥210/≥120 mmhg

 

Tekanan darah yang selalu tinggi bisa menyebabkan serangan jantung, stroke dan gagal ginjal. Secara umum pengobatan hipertensi dapat dibedakan atas dua pendekatan, yaitu pendekatan farmakologis dan pendekatan non-farmakologis.

Pendekatan non-farmakologis dilakukan tanpa menggunakan obat-obatan sama sekali, yaitu dengan mengubah kebiasaan hidup seperti olahraga, retriksi natrium, pendekatan diet, penghentian konsumsi alkohol dan rokok, menghindari stress dan teknik relaksasi.

Solusi Relaksasi Non-Farmakologis

Dari sini saya mencoba memakai Relaksasi yang dapat dijadikan sebagai upaya penyembuhan bagi penderita hipertensi. Hal ini dikarenakan dalam relaksasi terkandung unsur penenangan diri yang dapat menstabilkan tekanan darah. Selain itu relaksasi merupakan salah satu teknik pengelolaan diri berdasarkan kinerja saraf simpatis dan para simpatis .

Salah satu teknik relaksasi tindakan non farmakologis yang dapat digunakan untuk menstabilkan tekanan darah adalah terapi lantunan Surat Ar-rohman/al-fatihah. Terapi lantunan surat dari Al- Qur’an yang diberikan selama 11-15 menit mempunyai efek positif terhadap tekanan darah yang mengalami hipertensi tersebut.

Terapi lantunan surat dari Al- Qur’an merupakan intervensi terapi yang efektif digunakan untuk menurunkan tekanan darah pada seseorang yang mengalami hipertensi/ tekanan darah tinggi. Lantunan Al-Qur’an secara fisik mengandung unsur suara manusia, suara manusia merupakan instrumen penyembuhan yang menakjubkan dan alat yang paling mudah dijangkau.

Keuntungan Mendengar Lantunan Al-Qur’an

Mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan tartil akan mendapatkan ketenangan jiwa. Lantunan Al-Qur’an secara fisik mengandung unsur suara manusia, suara manusia merupakan instrumen penyembuhan yang menakjubkan dan alat yang paling mudah dijangkau.

Suara dapat menurunkan hormon-hormon stres, mengaktifkan hormon endorphin alami, meningkatkan perasaan rileks, dan mengalihkan perhatian dari rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki sistem kimia tubuh sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernafasan, detak jantung, denyut nadi, dan aktifitas gelombang otak. Laju pernafasan, yang lebih dalam atau lebih lambat tersebut sangat baik menimbulkan ketenangan, kendali emosi, pemikiran yang lebih dalam dan metabolisme yang lebih baik.

Penulis telah melakukan penelitian di desa Temandang kecamatan Merakurak kabupaten Tuban terhadap 14 orang tentang pengaruh al-Qur’an terhadap  manusia dalam perspektif fisiologis dan psikologis yang terbagi dalam beberapa tahap. Salah satu tahapnya, bertujuan untuk menentukan kemungkinan adanya pengaruh al-Qur’an pada fungsi organ tubuh sekaligus mengukur intensitas pengaruhnya.

Hasilnya 97% responden baik yang mengerti bahasa Arab maupun tidak, mengalami perubahan fisiologis. Hasilnya membuktikan bahwa al-Qur’an memiliki pengaruh yang mampu merelaksasi ketegangan urat syaraf reflektif.

Membaca  al-Qur’an merupakan salah satu bentuk dzikir yang dituntut oleh agama Islam bagi umatnya selain ucapan tahmid, tasbih, tahlil, dan takbir. Bahwasanya membaca Al-Qur’an menjadi salah satu dari bentuk dzikir yang menjadi meditasi dalam memberikan manfaat positif bagi tubuh, maka Allah berfirman :

الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا خَسَارًا  وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ

Dan Kami turunkan dari Al- Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.(QS Al-Isra’ (17):82)

Penutup

Dengan terapi murottal maka kualitas kesadaran seseorang terhadap Tuhan akan meningkat, baik orang tersebut tahu arti al-Qur’an atau tidak. Dalam keadaan ini otak berada pada gelombang alpha (frekuensi 7-14 Hz). Ini merupakan keadaan energi otak yang optimal dan dapat menyingkirkan stres dan menurunkan. Dalam keadaan tenang otak dapat berpikir dengan jernih dan akan terbentuk koping, atau harapan positif .

Suara musik murottal surah Ar- Rahman yang bertempo lambat sebagai gelombang suara yang akan diterima oleh daun telinga kemudian menggetarkan membran timpani. Setelah itu getaran diteruskan hingga organ korti dalam kokhlea dimana getaran akan diubah dari sistem konduksi ke sistem saraf melalui nervus auditorius (N.VIII) sebagai impuls elektris, makanya pada  Lantunan Murottal tersebut dapat memacu sistem saraf parasimpatis yang mempunyai efek berlawanan dengan sistem saraf simpatis, sehingga terjadi keseimbangan antara sistem saraf simpatis dan parasimpatis.