Oktober 31, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TEATER VISUAL DALAM VIRTUAL DI MASA COVID-19 (Bagian 1)

 oleh : Aulina Umazah

 

Pengantar

Pandemi Covid19 menjadi masalah baru yang dirasakan semua elemen masyarakat didunia dalam segala sektor bidang, termasuk kesenian. Seni Teater yang merupakan salah satu cabang seni pertunjukan yang membutuhkan kerja komunal menjadi korban dari kemelutnya dunia kesenian saat wabah semakin mendarah. Beberapa praktisi teater seperti kehilangan arah untuk bisa berkumpul dan bermusyawarah.

Laboratorium Kerja kreatif semakin di minimalisir sebab pemerintah memberikan anjuran Social Distancing. Saat ini semua orang di harapkan bekerja di rumah dan menjalankan segala aktifitas juga dirumah. Semua yang dilakukan karena wabah dan pengaturan jarak sosial membuat para pekerja seni dan budaya layaknya terpukul. Di Era yang serba digital, semua orang dituntut untuk melakukan kreatifitas yang di miliki dengan memanfaatkan Teknologi yang ada, Termasuk kreatifitas dalam melakukan proses kreatif berteater.

Teater merupakan Seni Pertunjukan yang kompleks, Banyak hal yang bisa di eksplorasi di dalamnya sebab Seni Teater bisa mengandung unsur seni lain, Seperti; Seni Tari, Seni Pemeranan, Seni Musik, dan Seni Rupa. Setiap aktor bisa menjadi yang dia inginkan dalam mengeksplorasi 4 hal tersebut. Hal yang paling utama dalam sebuah pagelaran adalah pesan yang ingin di sampaikan bisa menjadi katarsis untuk penonton, Hal tersebut menjadi pertimbangan dalam proses kerja teater yang membutuhkan Visual yang bisa di nikmati panca Indra. Namun belakangan ini,

Proses teater merasakan dampak Covid19 yakni harus bergeser dalam semua hal bahkan menyerupai perfilman, mulai dari Pra, Pagelaran, hingga Pasca pagelaran. Semua menjadi serba luwes, fleksible, dan tidak pakem. Hal tersebut menambah daya imajinasi pelaku seni teater diwajibkan lebih mengenal dunia Virtual.

Seiring berkembangnya teknologi, terutama sebagai platform baru seperti Ruang Facebook, Instagram, Netflix, Viu menyediakan pertunjukan teater maya dan akan terus berkembang. Ini hanya masalah waktu sebelum kita mulai menggunakan headset VR untuk hal-hal seperti menonton film Netflix, atau video 360 di media sosial. Ini berarti bahwa siapa pun yang memiliki jejaring Internet memiliki akses terhadap pertunjukan yang mungkin tidak terjangkau.Dunia sedang mengalami revolusi “teater pribadi” di mana video game, filmmusik dan pertunjukan panggung saling memadukan. Apa yang telah menjadi pertunjukan teater selama ratusan tahun akan berubah.

Pergeseran Esensi Teater di Masa Covid-19

Pandemi ini dapat menjadi katalisator proses digitalisasi, ketika para seniman membuat karya online dan mengeksplorasi hal untuk berinteraksi satu sama lain dan audience. Namun, ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana seni teater di masa depan?: apakah media social dan internet menjadi platform terpenting kedepannya?

Sebenarnya, tidak sedikit seniman jauh sebelum covid19 datang mereka telah mencoba mengeksplorasi teknologi digital dalam seni pertunjukan teater. Namun dengan adanya pandemi seolah memberikan aksen yang lebih kuat.

Bagaimana dengan Teater? Seperti di beberapa negara lain, kelompok-kelompok teater di Indonesia saat ini memasang beberapa pertunjukan lama daring secara gratis melalui platform digital mereka. Pertanyaannya adalah, apakah kedepannya teater akan melakukan live streaming dalam kerja komunalnya? Atau, selain live streaming, apakah dapat dilakukan pentas bentuk lain seperti drama radio atau bahkan bisa menyerupai film?

Hal ini tentu akan mendapati banyak kendala karena selain pekerja teater, penonton sudah memiliki platform dan kesenangan sendiri dalam genggamannya. Apalagi ketika kita berbicara mengenai teknologi headset VR dan AR yang tidak semua orang dapat memilikinya.

Termasuk komputer. Ketika sebuah karya teater, katakanlah sudah jadi, dan dipasang pada platform digital, apakah itu juga akan menjamin hak cipta dan kekayaan intelektual pekerja seni pun menjadi masalah baru. Sebab ketika sebuah karya seni sudah terpasang pada platform digital, masih ada “penjaga gerbang online”, yaitu perusahaan besar yang mengendalikan platform tersebut.

Peretas dapat dengan mudah mencuri kekayaan intelektual pekerja seni jika tidak dilindungi. Sekarang Internet semakin korporatisasi. Pertanyaan-pertanyaan ini berputar-putar di sekitar seni di era digital secara luas, tetapi ada sedikit keraguan bahwa pandemi telah mendorong seniman untuk berpikir lebih keras dan lebih dalam tentang bagaimana teknologi dapat meningkatkan praktik kerjanya.

Menurut Badan Ekonomi Kreatif Indonesia atau BEKRAF (2015, hal. 6), Seni pertunjukan adalah seni menyampaikan gagasan kepada penonton dengan mengolah dan mewujudkan ide kedalam bentuk lisan, music, tata rupa ekspresi, dan gerakan tubuh secara langsung didalam ruang dan waktu yang sama oleh pekerja teknis atau penampil. Seni pertunjukan menggunakan beragam media untuk berkomunikasi dan berinteraksi untuk menyampaikan pesan melaui narasi (Iskandar, 2006).

Saat ini media sebagai menyampai pesan semakin berkembang seiring datangnya pandemic di dunia. Munculnya social media menjadi hal yang sangat efektif di gunakan saat semua orang berada dirumah saja. Sosial media membuat seni pertunjukan menjadi semakin terbuka. Teater merupakan proses komunal yang memngumpulkan banyak elemen seni lain dalam penggapannya, Namun di saat pandemic menyebar di seluruh dunia, semua pelaku seni teater mencari jalan lain, menemukan kemungkinan-kemungkinan baru untuk bisa mengekplorasi diri agar tentang berfikir mengenai ide dan gagasan tentang proses kerja kreatif berteater selama pandemic. Disaat pandemi berlangsung, semua aspek teater yang sebelumnya di jumpai di secara bertatap muka serta terjadi pertemuan secara langsung antara pemain dan penonton, Saat ini esensi teater dan film hampir sama yakni bisa di tonton di rumah.

Pergeseran esensi teater tersebut memberikan banyak dampak bagi seniman yang tidak memiliki kreatifitas dan pengalaman dalam bidang virtual. Sebab visual teater atau pesan yang akan disampaikan tidak akan di pahami oleh penikmat seni yang hanya bisa menikmati dalam genggaman digital dirumah masing-masing. Hasil rekam visual para penikmat seni sebelum pandemic datang diunggah dalam berbagai social media  menciptakan sebuah pemaknaan terhadap seni pertunjukan yang dilihat. Hal tersebut menjadikan para penikmat seni pertunjukan dapat menyampaikan tanggapan pada kolom komentar yang di sediakan dan bahkan membuat review pada social media masing-masing dan dapat dilihat jutaan orang yang melihatnya.

Teater Menuju ke Mobile Media (Virtual)

Menurut Toh Wen Li, dalam tulisannya di The StraitsTimes, platform virtual melengkapi tetapi belum bisa meniru kekuatan teater secara langsung. Dan saat ini Penyajian Seni teater di Mobile Media ada 2 macam; Ada yang memperlihatkan kembali review pertunjukan sebelum pandemic dan Hasil dari Kreator seni pertunjukan yang berada dirumah saja dengan hanya mengandalkan gadget sebagai sarana komunikasi dengan seniman lain sebagai media kolaborasi.

Pada dasarnya perbedaan yang di dapat hanya cara kerja teater yang dilakukan selama pandemic hampir mirip dengan film. Yakni terletak pada proses kreatifitas menggarapan yang mengandalkan editing dalam mengkombinasikan seni pemeranan, music, dan multimedia.  Pengambilan gambar pada umumnya dilakukan oleh juru kamera (Cameramen) dan kadang dilakukan penyuntingan  (Editing) atas hasil kamera pengambilan gambar tersebut jika akan diunggah di media social. Sebagai contoh penayangan teater Bunga Penutup Abad. Teater ini disiarkan resmi live streaming di www.indonesiakaya.com pada 18-19 April 2020. Siaran ini pun tak lepas dari upaya ajakan publik untuk tetap di rumah semasa pandemi virus korona atau Covid-19.

Terkait pemanfaatan media virtual pada pengguna di media social atau smartphone, masing-masing pengguna memiliki kebebasan mengatur setting Smartphone ataupun cara menggunakan smartphone tersebut. Hal ini juga berpengaruh pada cara pengguna mengakses konten seni pertunjukan di media social sharing audio visual seperti youtube.

Aplikasi semacam ini di format untuk dapat diatur secara khusus oleh pengguna atau di lengkapi dengan mekanisme pemutaran tayangan, seperti tombol Play, Pause, Stop, Next, Skip, Volume, dan sebagainya yang dapat diatur sesuai freferensi pengguna. Dengan demikian pengguna memiliki kuasa untuk mengatur mekanisme dan waktu atau durasi menonton seni teater dalam Mobile Media. Subjektivitas minat atas tayangan terjadi karena masing-masing pengguna tidak selalu sama dalam menikmati dan mengatur tayangan di media. Selain itu, minat pada seni teater yang relative antara pengguna juga dapat menjadi factor pengguna menuntaskan suatu tayangan atau cepat berpindah pada tayangan yang lain.