Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TEATER VISUAL DALAM VIRTUAL DI MASA COVID-19 (Bagian 2)

Proses Kreatif Teater Virtual

Mobile Media secara khusus di tengarai melalui ukuran dan fungsi yang meliputi Smartphone maupun tablet yang keduanya berfungsi sebagai media komunikasi dan informasi melalui koneksi internet. Dalam hal ini, Smartphone memiliki kecenderungan lebih besar digunakan sebagai media komunikasi  terkait jumlah pengguna smartphone yang semakin meningkat. Smartphone juga dapat mengakomodasi berbagai tayangan hiburan termasuk seni pertunjukan teater karena dimiliki secara personal dan bersifat individual. Setiap seniman mampu berkreasi dengan mengambangkan pola kerja kreatif dengan masing-masing peralatan yang dimiliki. Berikut proses kreatif yang dilakukan dimasa pandemic covid19 dengan kemampuan Virtual Media yang di kuasai;

  1. Pra Produksi

Seniman dapat melakukan sharing ide dan gagasan dengan seniman lainnya via Google zoom meet, hal tersebut tetap harus di lakukan karena proses kerja teater merupakan proses kerja kolektif untuk mengkaji naskah yang akan disuguhkan dapat dilihat dari segala sudut pandang keilmuan. Bedah naskah yang dilakukan harus melalui reading selama 4 kali dalam kerja kolektif secara nyata.

Jadi, meskipun seniman melakukan proses kreatif di rumah karena pandemic, berdiskusi tetaplah merupakan strategi dalam penyampaian pesan pada teater sesungguhnya. Di dalam google meet bisa di libatkan Sutradara, sastrawan, Aktor, pemusik, dan editor. Sutradara akan berbicara bagaimana naskah tersebut bisa di garap dalam situasi pandemic seperti ini dan di pahami oleh actor, Tugas sutradara merepresentasikan kerja pemikiran semua elemen dalam pemaknaan. Hal ini harus menjadi sangat fleksibel karena semua orang bisa menjadi actor, bisa menjadi sutradara, dan pemusik untuk diri masing-masing sesuai dengan kemampuan masing-masing.

  1. Produksi

Hal ini dilakukan dengan memulai pemeranan sesuai dengan naskah yang akan di bawakan, setiap actor harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri dalam situasi seperti ini. Sutradara hanya bisa membantu mengantarkan dan merepresentasi naskah pada actor dan memberikan stimulus pada pemusik atas sitausi yang di harapkan. Saat sang aktor memulai untuk melakukan perekaman sesuai dengan alat yang dimiliki dan pemusik mulai menawarkan instrument sesuai dengan situasi cerita. Setelah aktor sudah merekam hasil pemeranan sesuai dengan naskah dan memiliki kecocokan dengan feel music yang di tawarkan, maka 2 elemen tersebut bisa di berikan pada editor untuk melakukan editing semua elemen. Saat proses editor dilakukan sutradara bisa memberikan ulasan dan koreksi pada kerja kolaboratif yang sudah di lakukan. Setelah semua elemen sepakat dengan pertunjukan yang sudah di garap via virtual, Maka semua team bisa mengupload via media social yang dimiliki.

  1. Pasca Produksi

Pasca produksi menjadi momen yang sangat berharga saat social media mampu memberikan peran aktif dalam memberikan ulasan dan kritik yang membangun atas pertunjukan yang telah di unggah. Semua orang berhak untuk menjadi bagian dari penikmat pertunjukan yang di lakukan.

Semua hal yang di lakukan selama pandemik berlangsung menjadi serba fleksibel, namun fleksibilitas tersebut tidak akan di gunakan oleh orang-orang yang mampu berfikir Out of The Box tetap berada pada zona nyaman. Pelaku seni diharapkan terus menemukan hal-hal baru yang menjadi dobrakan dalam seni pertunjukan teater untuk kedepannya saat manusia harus hidup berdampingan dengan covid19.

Perubahan Teater di Masa Covid-19

Dari keterangan diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan terkair representasi Visual dalam Virtual dalam pertunjukan Seni Teater, Karakter Mobile Media, Mekanisme penayangan atau tampilan seni pertunjukan yang dapat di rasakan penonton baik secara langsung ataupun melalui virtual media.

Visual Seni Pertunjukan Teater dalam Virtual Media yang dilihat dan bisa ditangkap dari hasil penayangan proses sebelum Covid19 datang. Video yang di tayangkan merupakan hasil proses rekam yang di proses ulang dan di tayangkan di beberapa media online seperti Instagram, Youtube live dan Zoom Meet. Penayangan tersebut hanya menjadi sebuah refleksi bagi penonton dirumah yang tidak bisa menikmati sajian pertunjukan pada panggung atau gedung pertunjukan.

Visual Seni pertunjukan melalui hasil proses kolaborasi jarak jauh antar berbagai pelaku seni teater yang dilakukan dirumah serta menggabungkan beberapa hasil karya melalui proses editing hasil perekaman. Kesadaran untuk berproses melalui media digital semakin dirasakan oleh banyak orang saat mereka mengalami rasa bosan akibat lockdown, Banyak dijumpai video-video yang menampilkan kreatifitas beberapa seniman teater, music, dan multimedia yang melakukan colaborasi dalam menciptakan ruang kreatif digital.

Media digital yang bersifat Mobile, seperti smartphone atau tablet digunakan sebagai media yang mendukung pertunjukan serta mempermudah cara menyaksikan sebuah pertunjukan (efisiensi dan kepraktisan. Sifat Mobile tersebut dimanfaatkan pengguna atau penonton untuk mengakomodasi kepentingan praktis, yakni kemudahan akses informasi dan komunikasi. Sifat media digital yang bergerak sehingga dapat diatur pemutarannya mengurangi kenikmatan menonton seni pertunjukan secara kronologis, sehingga spirit dalam seni pertunjukan tidak terlalu di rasakan.

Penutup

Pemutaran tayangan seni pertunjukan melalui mobile media yang bergerak memungkinkan pengguna dapat dengan bebas mengatur mekanisme pemutaran. Pengguna juga dapat dengan bebas mengakses tayangan tersebut dimana saja dan tidak terikat waktu, serta dapat menghentikan tayangan atau melompati bagian-bagian tertentu yang tidak diminati. Dalam hal ini, spirit seni pertunjukan teater yang berupa ekspresi gerak, kronologi dan alur cerita, dan unsur pelengkap lain secara audio-Visual tidak dapat dinikmati secara utuh. Kebebasan atau “kuasa” pengguna dlam mekanisme akses mobile media mempengaruhi cara penikmat seni pertunjukan sehingga ketersampaian spirit pertunjukan pada pengguna menjadi relatif.

Namun, Hal tersebut menjadi sedikit berkurangnya feeling penonton yang biasa menonton pertunjukan teater secara live. tayangan seni pertunjukan teater secara live memberikan pengalaman “Eksklusif” bagi penontonnya focus pada pertunjukan dari awal hingga akhir dan tidak tergantung pada media yang menyajikan dengan teknis pengambilan gambar secara khusus. Pengalaman eksklusif tersebut terkait dengan penikmat seni pertunjukan secara langsung dan kronologi sesuai durasi waktu yang ditentukan dan tidak terputus. Sudut pandang yang tetap sejak awal hingga akhir juga membuat penonton focus pada pesan-pesan yang disampaikan melalui media ekspresi seni pertunjukan