Oktober 29, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TAWAJUH SETELAH SHUBUH, MENDORONG AKTIVITAS MENINGKATKAN KETENANGAN HATI

Oleh :

MOH. SYIHABUDDIN

Tawajuh setelah shubuh merupakan “kewajiban” bagi setiap ikhwan yang memiliki ajaran warisan junjungan baginda Rasulullah. Ia merupakan pekerjaan yang mulia dan menjadi sarapan pagi bagi qalbu (ruhani) sebelum sarapan jasmani dinikmati. Ia menjadi sarana yang tepat untuk mengawali aktivitas guna menghadapi segala ketakutan dan keraguan dalam melangkah. Sehingga sudah barang tentu tawajuh di waktu fajar ini memberikan banyak “kekuatan” bagi pengamalnya.

Dunia ini kejam, benar adanya. Ia kejam dalam segala sisi dan seram dalam segala tingkatannya. Ia memperlihatkan keelokan wajahnya dengan impian beberapa hal yang membuat seorang muslim dan seorang mukmin tergeser hatinya dalam mengingat Tuhan. Mulai dari pekerjaan sehari-hari di kantor, cangkruk bertemu kawan, aktivitas belanja ke pasar, janji bertemu seseorang, menghadapi sebuah negosiasi, dan atau berperang “untuk mencari nafkah” bagi diri sendiri maupun keluarga, adalah bentuk berbagai aktivitas yang membuat kita (sebagai manusia biasa) tidak mampu memprediksi hasilnya.

Tidak ada Yang Berbeda

Semua aktivitas itu akan memberikan dampak yang positif jika apa yang kita harapkan bisa terwujud dan terealisasi. Berbeda dengan kondisi yang melahirkan masalah dan menyebabkan apa yang kita impikan gagal untuk diwujudkan, maka yang muncul adalah rasa gelisah, rasa menyesal, galau, dan tidak mampu membentuk cara berfikir yang jernih.

Kondisi manusia di muka bumi ini sama, tidak ada yang berbeda, baik orang yang dipenuhi dengan melimpahnya harta, banyaknya fasilitas kerja dan lengkapnya koleksi keinginan dunia atau mereka yang dicoba dengan kekurangan makan, ketiadaan apa yang diinginkan, tidak adanya harta yang cukup untuk makan. Semuanya sama saja, kaya atau miskin, besar atau kecil, berprofesi atau tanpa kreasi, laki-laki atau perempuan, pejabat atau para rakyat. Sisi kesamaannya terletak pada keadaan ruhani dan ketenangan berfikirnya.

Jika sedang dalam kondisi pikiran tenang dan hati tentram maka semua aktivitas adalah miliknya, menjadi kebahagiaan baginya, dan akan menjadi sebuah pelecut hidupnya. Namun jika sedang dalam kondisi pikirang galau-gulana-gundah dan hati terasa sempit maka dunia seolah neraka, siksaan bagi dirinya dan sebuah hambatan bagi kenikmatan.

Tidak ada artinya pekerjaan yang “abadi” dan terakreditasi “secara sah”, banyaknya uang dalam kartu kreditnya atau melimpahnya kepemilikan atas keinginannya jika hati sedang galau-gulana-gundah dan pikiran sedang tidak cerah, yang dihadirkan akan tetap sebuah kegalauangn dan kebimbangan yang tidak bisa diterjemahkannya sendiri.

Tawajuh setelah shubuh adalah jawabannya, dan jika tidak mampu melaksanakannya (di Surau) maka beramal rutin adalah kuncinya. Laksanakanlah itu, maka dunia berada dalam milik kita.

Apapun halangan yang menghadang diri kita untuk melaksanakan tawajuh setelah shubuh hendaknya kita hadapi dan kita tantang secara “jantan”. Pilihannya ahanya dua, kita mampu menjalankannya atau nafsu kita (kemalasan) yang akan mengalahkannya (ruhani kita). Yang mampu melawan nafsu kita adalah diri kita, dan tentunya dengan bantuan Guru Ruhani yang senantiasa bersemayan di dalam qalbu kita.

Merengkuh Tujuh Keajaiban Hidup

Orang yang melaksanakan tawajuh atau beramal setelah shubuh dijamin akan mendapatkan tujuh keajaiban hidup, dan munculnya selalu tidak pernah disangka-sangka dan selalu tiba-tiba.

Pertama, rezekinya dalam satu hari dijamin oleh Yang Maha Kaya.

Kenapa itu terjadi, karena hatinya sudah tersambung dengan yang memiliki harta di dunia ini (Allah subhanahu wata’ala) sebelum matahari terbit. Seluruh bagian dari harta manusia yang akan diberikan pagi itu sudah diberikan terlebih dahulu kepada para ikhwan yang berhasil tawajuh atau beramal setelah shubuh.

Kedua, keamanannya terjamin oleh Yang Maha Penjaga.

Karena dirinya sudah berikrak dan terikat dalam sebuah perisai ruhani (ghaib; dzikir) yang ada di dalam ruhaninya dengan Dzat Yang Maha Tinggi. Keselamatan adalah jaminnya yang pasti akan diperolehnya.

Ketiga, pikirannya senantiasa dalam ketenangan berfikir.

Keputusan yang akan diambil selalu dalam bimbingan dan arahan dari ruhani yang telah dipeliharanya. Seorang ahli dzikir pagi akan selalu mendapatkan ide yang menentukan dan memiliki bobot kualitas lebih terpercaya jika sedang menghadapi masalah.

Keempat, melahirkan banyak inovasi dan pemikiran.

Seorang inovator adalah ahli dzikir, namun terkadang ahli dzikir “merahasiakan” inovasinya. Karena baginya lebih penting fokus tetap pada bersama Tuhan-nya dari pada lainnya. Inovasi yang dilahirkan dari dzikir shuhuh selalu menjadi kebutuhan sehari-hari dan bisa membantu memecahkan permasalah yang dihadapinya, baik inovasi dalam solusi-problematika atau solusi dalam menghadapai gencarnya masalah.

Kelima, keluarga dijamin seluruh keamanannya. Baik keamanan jasmani maupun keamanan hati.

Inilah yang yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim sehingga memberanikan diri untuk meninggalkan istrinya, dewi Hajar di tengah-tengah pasang pasir Hijaz yang panas dan sepi tiada apapun untuk dimakan dan dipelihara, hanya sekantong air untuknya dan air susu dirinya (bagi putranya).

Keenam, dimenangkan dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Siapa pun pasti mempunyai musuh, baik dalam dunia kerja maupun dunia sosial, baik nyata maupun tidak nyata. Musuh-musuh itu akan dengan sendirinya dilemahkan dan dibuat bimbang hingga tidak bisa berfikir untuk melakukan apa yang ingin dilakukan terhadap kita.

Ketujuh, dipertemukan dengan jalan untuk bisa tawajuh atau beramal pada waktu berikutnya. Sehingga dalam hari-harinya akan terus sambung-menyambung untuk bisa aktif dan rutin (istiqomah) dalam menyatukan diri kepada ruhani Guru.

Rugi, mungkin sudah bisa dipertimbangkanbagi mukmin yang tidak bisa tawajuh shubuh atau beramal. Dan sudah tidak saatnya untuk beralasan apapun bagi orang yang berakal.

Wallahu’alam bisshowaf.