Oktober 25, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TANTANGAN SPRITUALITAS ANAK-ANAK MILENIAL

Oleh :

Imam Sarozi

Pendahuluan

Pencarian jati diri setiap insan manusia sering kali mengalami berhenti di persimpangan jalan, Yang artinya sering mengalami kebimbangan dan kebingungan dalam menentukan langkah. Niat yang kuat namun tidak barengi dengan pengetahuan mumpuni. Alhasil, ada 2 hal ayng didapatkan yaitu: pilihan yang salah serta fanatik menyakininya, dan pilihan yang salah namun berusaha membenarkannya tanpa pengetahuan yang memadai.

Abad 21 M Kematangan Spiritual dalam diri manusia kian meredup. Banyaknya generasi sekarang yang sudah terlepas dari batas-batasan norma. Disebabkan peranan agama hanya sebatas lebel keyakinan untuk realitas publik dan penguatan identitas secara formalitas untuk orang-orang di sekitar bahwa kita memiliki Tuhan. Pengetahuan agama menjadi nilai penuntas tugas kelulusan bukan sebagai kewajiban yang melekat dalam hak hidup itu sendiri.

Era milineal bukan hanya tehnologi dan ekonomi yang mengalami perkembangan. Pergulatan agama beserta konflik dan fenomenanya. Disitulah peran dari kemantangan spiritual dalam beragama harus menjadi solusi agar para pemuda generasi bangsa mampu memiliki pedoman dan tuntunan dalam menjalani kehidupan.

Maraknya gerakan Trans-Internasional yang sudah di jejaring di Indonesia menyulap pengajian, kajian, serta majlis-majlis ilmu menjadi lebih kekian. Gerakan hijrah, gerakan kembali ke sunnah, khilafah dan lain sebagainya. Di tambah dengan tokoh-tokoh publik seperti para artis dan beberapa tokoh pemerintah sudah menjadi bagian dari gerakan itu. Sehingga trend pakaian dan gerak gerik tokoh-tokoh publik tersebut menjadi daya Tarik untuk generasi muda mengikutinya.

Gerakan artis hijrah, para fans haruskah ikut disana?

Deretan nama-nama artis yang memulai perubahan dalam dirinya  mengataskan hidayah sebagai langkah awal memasukinya. Ingin memurnikan diri dan mensucikan diri hati menjadi jawaban falimiar yang menjadi landasan.

Namun apakah sudah cukup sampai disitu? Jelas tidak. Perjalanan dalam beragamana bukan semudah membeli kuota internet, melihat youtube, lalu hijrah dan mendirikan kajian atau pondok pesantren.

Para fans artis menjadi sekelompok orang yang menempatkan diri dalam perahu yang terombang-ambing. Kemanapun sang idola pergi mereka akan berlabuh. Dan akhirnya agama hanya menjadi komunitas yang bergerak dengan ideologi baru. Yaitu idelogi gangster. Idelogi yang di landasi dengan pemujaan terhadap para idola yang tidak jelas cara beragama.

Islam Nusantara Rumah Tobat Artis

Islam Nusantara menawarkan setuju solusi yang ringan, pasti, dan berisi. Ringan karena tegas namun memberikan ruang kejelasan dalam memperdalam atau belajar agama Islam yang berkembang di Nusantara.

Pasti dalam sisi sanad maupun kedalaman keilmuan para ulama-ulama. Luwes nan fleksibel dalam memberikan solusi terhadap problematika yang di hadapi masyarakat.

Berisi keseimbangan beragama, bernegara, dan bermasyarakat. Pandai menempatkan diri. Dan bijaksana memilih jalan yang harus di ikuti.

Islam Nusantara diperkenalkan kembali di era millineal sebagai Islam yang khas ala Indonesia, gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di tanah air. Karakter Islam Nusantara ini menunjukkan adanya kearifan lokal yang tidak melanggar ajaran Islam. Islam Nusantara justru menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia (www.ibadah.or.id).

Dalam hal ini Islam Nusantara mengarahkan para artis-artis yang hendak memperdalam keilmuan agam Islam mampu memahami, mengerti, serta mengetahui bahwa Islam di Nusantara adalah wujud Islam rahmatin lil alamin yang sebenarmya.