Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TANTANGAN DAN ANCAMAN TUHAN TERHADAP UPAYA MENEMBUS KE LANGIT (LUAR ANGKASA) (Bagian II)

oleh: Moh. Syihabuddin

Manusia baru memungkinkan bisa melintasi penjuru bumi dan langit, hanya dengan kekuatan Allah sendiri, yaitu kekuatan yang diperantarakan melalui malaikat jibril dan secara turun temurun diwarisan kepada para nabi dan rasul-Nya. Kekuatan itu adalah ‘Nur Muhammad’ yang diwujudkan dengan bentuk dzikrullah dalam qalbu.

Dengan metode dzikrullah itu Allah memberikan sebuah kekuatan ilmiah dan solusi bagi manusia dan jin untuk mengetahui pengetahuan di seluruh penjuru langit dan bumi.

Hanya dengan metode dzikrullah inilah maka manusia dan jin baru akan memungkinkan untuk melakukan perjalanan secara “halus” melintasi seluruh bumi dan langit—tidak dengan cara yang kasar melalui tehnologi dan sains.

Melalui sabda-Nya sebenarnya Allah sudah memberikan tanda-tanda akan kebesaran kekuatan yang akan diberikan kepada manusia untuk mengetahui rahasia alam semesta dan mengungkapkannya.

Apa-apa yang tersimpan di seluruh alam semesta ini sebenarnya sudah dipersilahkan oleh Allah untuk dijelajahi oleh manusia dan jin. Namun tujuan penjelajahan itu tentu saja hanya untuk beribadah kepada Allah dan perjalanan menjelajahi alam itu dilakukan dengan berdzikir kepada Allah, menyebut nama-Nya.

Contoh nyata perjalanan ke lampisan langit dan ke seluruh penjuru langit adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah dalam peristiwa isra’ mi’raj. Perjalanan tersebut hanya dilakukan beberapa jam saja (di dimensi manusia), namun terasa sekali beberapa tahun dan melintasi banyak tempat (karena melintasi dimensi-dimensi lain yang lebih tinggi).

Perjalanan isra’ mi’raj ini merupakan perjalanan yang dilakukan dengan kekuatan (Allah) yang intensif diamalkan oleh Rasulullah selama dua belas tahun (berupa dzikrullah), sejak pertama kali menerimanya pada usia 40 tahun di dalam gua hira’. Pada saat itu Rasulullah belum menerima sholat, sehingga ibadahnya hanya intensif berdzikir di rumah istrinya dan di gua hira’.

Pada saat sukses menuju ke langit ketujuh, yang tidak ada siapapun yang bisa menggapainya, termasuk jibril sendiri, Rasulullah mendapatkan hadiah sholat selama 40 waktu. Mengapa Allah memberikan perintah sholat selama 40 waktu kepada umat manusia dan jin dalam 24 jam? Apakah manusia mampu?

Tentu saja semuanya itu dilakukan oleh Allah untuk memberikan manusia pengetahuan tentang rahasia alam dengan cara intensif menyatukan dirinya kepada Allah. Semakin banyak mengerjakan sholat maka semakin banyak manusia akan mengingat Allah.

Dengan banyak mengingat Allah inilah, maka Allah akan mempermudah bagi manusia dan jin untuk mendapatkan kekuatan-Nya Allah dan menyingkap rahasia alam semesta yang telah diciptakan oleh Allah untuk manusia dan jin. Rahasia alam semesta diungkap dengan dzikrullah, bukan dengan riset ilmiah ala empiris dan rasionalis—dan meninggalkan ibadah dzikrullah.  

Nampaknya, kaum evolusionis, kaum naturalis, dan para pendukung teori bumi bulat (mereka semuanya satu paket dalam menjunjung gerakan anti-Tuhan) ingin menghilangkan upaya manusia untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan tersebut dengan cara meninggalkan ‘perintah’ ibadah, meninggalkan berdzikir dan meninggalkan kenyakinannya akan Allah. Lalu mereka menggantinya dengan upaya-upaya saintis dan riset ilmiah.

Lihat saja saat terjadinya peristiwa gerhana matahari atau bulan, hampir di seluruh dunia. Di satu sisi Allah (Agama) menganjurkan untuk sholat dan memperbanyak berdzikir (karena semuanya itu merupakan wujud karunia Allah kepada manusia).

Bahkan dalam tradisi masyarakat Jawa dianjurkan untuk mengadakan ‘selametan’ dan sedekah makanan kepada masyarakat yang kurang mampu.

Namun disisi lain kaum evolusionis mengadakan penelitian dengan segala ‘alat canggihnya’ hanya untuk mengamati gerhana bulan atau matahari, tanpa ada manfaat yang bisa diambilnya. Bahkan dewasa ini justru menjadi rekreasi yang hanya mengumbar kesenangan dan pamer diri terhadap ‘upaya melihat fenomena alam’.

Foto selfi pada saat melihat gerhana matahari atau bulan sudah menjadi kegemaran generasi mutakhir dewasa ini, baik tua maupun muda. Mereka lebih cenderung menonjolkan kesenangannya dari pada beribadah dengan khusyu’ di rumah atau di tempat suci.

Padahal seharusnya jauh lebih baik hal itu dilakukan untuk beribadah dan berdzikir kepada Tuhan-Nya, entah di rumah atau di masjid. Akan tetapi mereka tidak mungkin melakukan ibadah di saat gerhana, karena mereka tidak menyakini Tuhan dan bahkan menolak keberadaan-Nya. bagi mereka, gerhana adala fenomena alam yang tidak ada hubungannya dengan keberadaan Tuhan.

***

Ancaman Allah jelas terhadap mereka (kaum evolusionis dan naturalis bumi bulat), yang merasa bisa menembus langit dam merasa bisa ‘mencapai’ ke lapisan langit ke tujuh, Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya).

Ini merupakan bentuk siksaan yang akan diberikan kepada manusia dan jin yang berkerjasama, berkolaborasi, bersekutu dan bersekongkol untuk melampaui batas menuju ke langit dan merasa bisa melintasi penjuru bumi dan langit tanpa kekuatan dzikrullah dari Allah.

Dan cara-cara tersebut sudah dilakukan oleh orang-orang di muka bumi ini sejak zaman nabi Nuh, Sholeh, Ibrahim, Sulaiman, Musa, hingga sekarang di zaman akhir. Para pengikuti kaum-kaum yang mendukung fir’aun, Namruj dan para penguasa lainnya sejauh ini masih aktif melakukan ‘perlawanan’ kepada keberadaan Tuhan dan nabi-Nya. namun bentuknya mereka dewasa ini lebih elegan dan lebih keren serta didukung dengan tehnologi yang mereka ciptakan.

Yang paling jelas, surat alam semesta ini, atau surat Ar-Rahman ini dipenuhi dengan sabda Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Merupakan wujud penegasan yang disampaikan Allah kepada manusia dan jin yang sudah mendapatkan banyak nikmat dan karunia sebagai hamba Allah yang menempati bumi dan langit sebagai atap.

Nikmat dan karunia itu sudah ada di bumi dan langit yang menutupinya, sehingga manusia dan jin sudah diberikan peluang oleh Allah untuk mengelolahnya dan menggunakannya untuk hidup dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan memperbanyak berdzikir.

Penegasan tersebut juga mencegah manusia dan jin agar tidak melampaui batas dengan melawan sabda Allah.

wallahu’alam bisshowaf.