Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

TADARUS QUR’AN TIDAK PAKAI PENGERAS, LEBIH BAIK DAN LEBIH BERKAH

oleh : Moh. Syihabuddin

 

Sudah menjadi hal yang wajar jika pada bulan Ramadlan berkumandang lantunan tadarus al-Qur’an dari musholla atau masjid. Para santri dan kiai “berlomba-lomba” membaca al-Qur’an sebanyak mungkin dengan berbagai gaya suara, intonasi lagu, dan tenaga suara yang dikeluarkan.

Lantunan al-Qur’an ini menjadi media yang paling efektif untuk meramaikan suasana Ramadlan. Karena selain menunjukkan “semarak” dan menciptakan kodisi “ramai” juga didukung dengan pengeras suara yang menjadikan suara para qori’ semakin keras dan terdengar di beberapa penjuru.

Gemuruh suara al-Qur’an yang “menyeluruh” inilah yang membuat Ramadlan menjadi bulan yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Seakan ada energi tertentu yang menyebar di seluruh langit lingkungan desa dan kota tempat tadarus itu berada.

Jelas sekali, membaca al-Qur’an adalah sesuatu yang baik dan memperoleh pahala bagi yang membacanya. Ia merupakan “pancaran” kalimat-kalimat yang dikumandang oleh Tuhan untuk hamba-hambanya di dunia dan “bisa jadi” peta jalan (pegangan hidup) bagi mereka yang ingin kembali kepada Tuhan-nya.

Tadarus (dengan pengeras suara) bukan hanya amalan yang baik dan halal, di bulan Ramadlan ia juga menjadi salah satu “pekerjaan terbaik” untuk menunjukkan eksistensi diri sebagai muslim yang taat dan patuh kepada Allah, sekaligus menjadi identitas yang menegaskan dirinya sebagai “santri” yang merawat Indonesia dengan al-Qur’an.

Kendati demikian tidak semua tadarus al-Qur’an dengan pengeras suara ini menjadi sebuah perbuatan baik, bisa jadi dalam kondisi tertentu ia menjadi pekerjaan yang kurang baik. Bisa jadi dengan kerasnya suara santri bertadarus akan memberikan gangguan yang menimbulkan perasaan orang lain yang kontra produktif.

Salah satu tadarus dengan pengeras suara yang kurang baik adalah ketika ada orang yang sedang sakit di sekitarnya—musholla tempat tadarus—yang membutuhkan ketenangan, ada orang yang sedang menyelenggarakan sebuah hajatan atau juga seorang ibu yang punya bayi yang membutuhkan ketenangan untuk menidurkan bayinya.

Pada tiga contoh konteks tersebut tadarus al-Qur’an dengan menggunakan pengeras suara bisa menimbulkan “rasa sakit” dan perasaan kesal bagi orang disekitarnya.

Misalnya, orang yang sakit yang butuh ketenangan, bisa jadi akan semakin sakit ketika mendengar tadarus yang terlalu keras. Dan jangan-jangan juga akan mengalami gangguan yang lebih parah tatkalah mendengar “keramaian” dan akhirnya bisa meninggal, wallahu’alam.

Seorang ibu yang ingin menidurkan bayinya yang membutuhkan ketenangan bisa jadi juga akan merasa terganggu dan bayinya sulit ditidurkan. Akhirnya sang ibu merasa capek, jarang tidur, lelah dan akhirnya sakit yang menyebabkan dirinya “keberatan” untuk menyusui dan menidurkan bayinya.

Orang yang punya hajatan, mengundang bayang orang dan membutuhkan ketenangan untuk membaca doa-doa atau ceramah agama (dari kiainya yang diundang) akan merasa terganggu jika ada tadarus al-Qur’an yang sangat keras. Suaranya yang menggelenggar dari spiecker akan menyebabkan sebuah hajatan tidak nyaman dan terlihat kacau.

Pada tiga contoh konteks tersebut maka melakukan tadarus menjadi lebih baik jika tidak menggunakan pengeras suara. Membaca al-Qur’an akan lebih berkah dan lebih menentramkan jika tidak menggunakan pengeras suara, karena masyarakat (pihak tertentu yang bersangkutan) tidak terganggu dan bisa nyaman menikmati serpihan hidupnya.

Melihat konteks tersebut juga bisa dikaitkan dengan tujuan awal dari pada membaca al-Qur’an itu sendiri, yakni “berupaya untuk bisa” beribadah kepada Allah.

Teks al-Qur’an merupakan pancaran sinar ketuhanan dan produk (bekal) Tuhan yang dibahasakan dalam indera manusia agar manusia memahami dan bisa merenungkannya. Ia merupakan teks yang terdiri atas huruf dan suara, yang tentunya bukan hakekat dari kalam Tuhan itu sendiri, karena Kalam Tuhan tidaklah berhuruf dan tidak pula bersuara.

Jika demikian, maka membaca teks al-Qur’an—berbahasa dan berhuruf Arab bukanlah membaca kalam Tuhan secara hakiki, yang maksum dan kekal secara dzati. Membaca teks al-Qur’an sama halnya dengan membaca teks-teks lainnya yang berbahasa arab dengan huruf Arab, yang mana secara hakiki tidak mampu memberikan “koneksi” yang bisa menembus dimensi Allah yang kekal dan abadi.

Oleh sebab itulah membaca al-Qur’an dengan pengeras suara atau tanpa pengeras suara, berjama’ah atau sendirian di rumah saja, dan menggunakan al-Qur’an yang mahal atau yang harganya murah adalah sama saja, tidak ada perbedaan. Semuanya sama saja dalam sisi hakekat.

Karena hal inilah, jika membaca al-Qur’an dengan pengeras suara akan berdampak pada sesuatu yang kurang produktif dan bisa menimbulkan “gangguan” bagi muslim lain yang punya “hajat”, maka tadarus tersebut lebih baik dilakukan dengan cara-cara yang tidak menimbulkan masalah.

Pertimbangan-pertimbangan kemaslahatan bersama masyarakat dan menciptakan ketentraman masyarakat menjadi lebih diutamakan dari pada hal-hal yang menggangu. Sehingga ketika kegiatan tadarus dengan pengeras suara itu mengganggu maka akan lebih utama jika dilakukan dengan “tanpa pengeras suara” dan sendirian di rumah saja. Dan tentunya dengan tanpa pengeras suara juga bisa menjadi lebih berkah.