Oktober 20, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

STRATEGI MENGHADAPI SKIZOFRENIA DI DUNIA POSTMODERN

Oleh :

Moh. Syihabuddin

Direktur Kitasama Stiftung

 

Skizofrenia merupakan salah satu tantangan masyarakat di dalam dunia postmodern yang tidak terelakkan. Ia merupakan sebuah terminologi psikoanalisis, yang di dalam wacana dunia postmodern digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial dan kebudayaan yang lebih luas, terutama fenomena kebebasan hasrat dari berbagai aturan, kekangan, dan batasannya, serta pembebasan tanda dari berbagai kode semiotika yang mapan.

Dalam kehidupan masyarakat postmodern skizofrenia telah mengantarkan pada revolusi hasrat yang mengakibatkan terbentuknya tiga arah posisi psikis, yakni orpahs (tidak dibatasi oleh aturan keluarga atau sosial), atheis (tidak dikendalikan kepercayaan), dan nomads (tidak pernah berada pada kenyakinan atau teritorial yang sama).[1] Tiga arah psikis ini akan mengantarkan masyarakat pada kecairan hasrat, yakni kebebasannya mengalir ke segala arah tanpa ada pengendalian. Ia akan mengacak-acak tatanan moralitas, institusi sosial-tradisional, dan mengaduk-aduk aturan agama yang cenderung mengekang. Dengan demikian masyarakat akan lebih bebas dalam melakukan segala hal tanpa harus takut, tanpa harus malu, dan tanpa harus merasa bersalah.[2]

Jama’ah Hasan Ma’shum menyikapi skizofrenia dengan cara menjalankan secara maksimal tiga modal budaya yang menjadi amaliyah rutin mereka. Berdzikir sendiri sekali dalam sehari, berdzikir berjama’ah ke surau (tawajuh), dan dzikir intensif atau suluk. Dengan memperbanyak berdzikir hati akan merasa terkendali dan tidak mudah lepas landas dalam melepaskan hasrta, baik hasrat politik, ekonomi, amaupun seksual. Paling tidak satu kali dalam satu hari para jama’ah Hasan Ma’shum mengamalkan dzikir sendiri untuk membentengi diri agar tidak mudah terjerumus dalam pelepasan hasrat oleh skizofrenia. Pengaruh dzikir sendiri sangat berpengaruh sekali dalam mengendalikan skizofrenia agar mempengaruhi kehidupan para jama’ah Hasan Ma’shum.

Bisa menjaga diri sendiri untuk tetap bisa beramal (berdzikir) secara rutin dirumah, atau dimana pun sudah cukup untuk menjaga diri dari pengaruh nafsu yang kejam dan selalu mengajak diri kita untuk berbuat jelek. Nafsu akan terkalahkan jika kita rajin berdzikir dan tidak melupakan ketergantungan kita kepada Dia. Hanya kepada Dia-lah kita bisa memohon perlindungan diri agar tidak terbawa oleh arus nafsu yang senantiasa mempengaruhi kehidupan kita tiap hari.[3]

 Selain berdzikir sendiri, tawajuh ke surau setiap dua sampai tiga kali seminggu menjadi cara tepat untuk mengalahkan skizofrenia. Dalam kehidupan sehari-hari skizofrenia akan terus dan senantiasa menggoda manusia untuk mengumbar hasrat, ia menampilkan permukaan tanpa harus memperhatikan kedalaman. Pengaruhnya cukup hebat dan bahkan memberikan pusaran yang sangat kuat pada setiap tindakan manusia.[4] Tidak sedikit orang yang terbawa arus skizofrenia dengan berbagai alasan rasionalnya. Mulai dari keharusan sebuah pekerjaan, tuntutan profesi, kebutuhan mendesak, atau jalan pintas yang hanya bisa ditempuh.

Para jama’ah Hasan Ma’shum menyadari bahwa skizofrenia merupakan arus zaman postmodern yang tidak lain bertujuan mengajak manusia untuk semakin melupakan tujuannya sendiri, yakni beribadah. Skizofrenia mengajak melepaskan diri dari kungkungan rutinitas beribadah, ia mengajak untuk mempertanyakan otoritas kebenaran syari’at agama (sholat, puasa, dsb), melupakan kontrol diri berupa ajaran moralitas, membebaskan diri dari pengaruh agama yang cenderung membatasi kebebasan manusia. Dengan melepaskan semua kungkungan dari diri maka manusia bebas melakukan apapun untuk bisa merasa puas. Banalitas kepuasan dijunjung tinggi oleh masyarakat yang telah menemukan hasrat kebebasan melayang dalam dirinya.

Kehidupan diluar (aktivitas berdzikir) yang dibimbing nafsu akan mengajak manusia untuk melanggar semua batas-batas moralitas yang ada, terutama aturan agama (Islam). Ia bebas melakukan hal yang dimurkai Tuhan, bebas melakukan pekerjaan yang merugikan orang lain dan dirinya, dan bebas melakukan kesenangan demi dirinya. Sehingga manusia semakin merasa terpuaskan, namun pada hakekatnya mereka semakin kehilangan dirinya, karena terbawa oleh arus nafsu yang terus diumbar. Nafsu menipu dengan impiannya yang “indah”, namun sebenarnya kosong dan menyakitkan.[5]

Dalam kehidupan masyarakat postmodern kebebasan nafsu menjadi hal yang niscaya. Ia harus menjadi bagian dari kehidupan nyata yang terus diciptakan untuk menjadi sebebas-bebasnya hingga mampu mengalir keseluruh sendi-sendi kehidupan. Kebebasan ini menggiring hasrat atau nafsu untuk bisa bergerak tanpa ada halangan.[6] Sebuah interupsi apapun tidak diperkenankan untuk mencegah meluapnya hasrat ini, dan kalau bisa ia diberi ruang yang sangat luas untuk bergerak.

Kecenderungan untuk mengalirnya hasrat tanpa interupsi, telah menceburkan masyarakat postmodern ke dalam medan deteritorialisasi, yaitu medan kehidupan sosial yang di dalamnya seseorang tidak pernah berhenti pada sebuah kedudukan, baik kedudukan sosial, spiritual, dan bahkan politik, yang tetap dan konsisten.[7] Pada medan inilah hasrat terjun bebas hingga menciptkan masyarakat postmodern yang tidak akan pernah puas dalam menemukan ujung kehidupannya sendiri. Kehidupan manusia postmodern seperti dalam sebuah jurang yang sangat dalam yang tidak pernah ditemukan lembahnya. Tidak menherankan jika ada seorang pejabat publik tidak akan pernah mau turun (istirahat) dan bergantian dengan kadernya yang lebih muda atas jabatan yang didudukinya. Sekali mendapatkan, seolah-seolah tidak boleh dilepaskan dan jika memungkinkan digantikan oleh keluarganya atau familinya.[8]

Sebagai kaum sufi, yang harus menjunjung nilai-nilai asketisme jama’ah Hasan Ma’shum sangat menghindari terjadinya terjun bebas hasrat dalam kehidupannya. Mereka tidak mau masuk dalam arus skizofrenia yang sudah menghayutkan masyarakat secara umum. Kontrol diri yang mereka lakukan tentu saja tetap menjalankan ajaran Guru-nya dan senantiasa menjaga amaliyah yang menjadi kewajiban mereka sebagai jama’ah Hasan Ma’shum.[9] Yang paling sederhana mereka lakukan adalah setiap hari harus berdzikir satu hatam dan menjaga untuk selalu bisa ikut tawajuh dimana pun ada hilqah dzikir maupun surau Hasan Ma’shum berada.

Skizofrenia dalam masyarakat postmodern ini dikatakan oleh jama’ah Hasan Ma’shum sebagai bagian dari “kejamnya dunia”. Ia tidak henti-hentinya memberikan urusan-urusan yang tidak pernah selesai. Selalu saja datang tipuan dan rayuannya yang bisa mengajak nafsu untuk bersenang-senang. Semakin dituruti maka nafsu akan semakin terus membelenggu hingga tidak terkontrol menguasai seluruh kehidupan.[10] Bagi jama’ah Hasan Ma’shum solusi untuk membendung terjuan bebasnya nafsu ini hanya bisa dilakukan dengan menjaga rutinitas amaliyahnya secara konsisten dan komitmen yang tinggi.

Dunia itu kejam. Kata Ayah benar. Ia akan senantiasa memberikan bujukan-bujukan yang menipu. Nafsu dibiarkan hidup mempengaruhi kita, sehingga kita menjadi manusia yang tidak ada bedanya dengan hewan. Perilaku seperti hewan, seprti menikmati makanan sepuasnya, menghabiskan nikmat sesuka hatinya, atau mengumbar aurat sesuka hatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Maka kita harus berhati-hati dan terus berpegang teguh dengan ajaran Guru.[11]

 Berpegang teguh dengan ajaran Guru menjadi bahasa yang sudah melakat bagi jama’ah Hasan Ma’shum dalam menyikapi pengaruh “dunia” terhadap nafsu agar bisa terjun bebas. tanpa berpegang teguh dengan ajaran Guru sangat mustahil bisa mengekang atau mengendalikan hasrat, karena yang mempunyai hasrat dan yang menguasai hasrat itu juga Guru.[12] Dalam pemikiran Jama’ah Hasan Ma’shum, Dia-lah yang menguasai segala apa yang ada dan tidak ada dalam diri murid-muridnya. Karena hal itulah, para jama’ah Hasan Ma’shum sebisa mungkin dan berupaya sebaik mungkin mengendalikan diri untuk senantiasa bisa bergantung hatinya kepada Guru-nya.

[1] Ibid, 234.

[2] Jangan heran jika dewasa ini orang sudah banyak yang tidak lagi mengindakan nilai-nilai yang membatasi mereka, sehingga perilaku mereka mulai bergeser pada kehidupan yang tidak lagi manusiawi. Telanjang di muka umum menjadi hal yang biasa, melakukan kejahatan menjadi hal yang wajar, dan melanggar syari’at agama menjadi hal yang lumrah. Mengenahi kritik tajam terhadap kondisi ini silahkan baca Haryatmoko dalam Dominasi Penuh Muslihat: akar kekerasan dan diskriminasi. (Jakarta: Gramedia. 2010), 127.

[3] Wawancara dengan Anton pada saat berada satu Bus dalam perjalanan dari Jakarta menuju ke Tuban, pada Rabo, 7 Juli 2016.

[4] Yasraf Amir Piliang, Semiotika dan Hipersemiotika: kode, gaya dan matinya makna. (Bandung: Matahari. 2012), 143.

[5] Sambutan Alfian pada malam menjelang tahlil pada suluk khusus Ramadlan 1437 H. di Surau Hasan Ma’shum Bambuapus Jakarta. Selasa, 6 Juli 2016.

[6] Selengkapnya baca Marcel Danesi dalam Pesan, Tanda dan Makna. (Jogjakarta: Jalasutra. 2010), 53.

[7] Yasraf Amir Piliang, Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi. (Bandung: Mizan. 2011) 235.

[8] Sebuah fenomena masyarakat postmodern yang sudah banyak dijumpai dewasa ini. Tidak pandang orang yang berlatar belakang “agama” maupun “sekuler” akan tetap ingin menguasai atau menduduki jabatan yang pernah didudukinya. Seolah kehidupan ini tidak diperbolehkan berpindah ke orang lain.

[9] Sebagaimana dianjurkan oleh para sesepuh jama’ah Hasan Ma’shum bahwa untuk menjaga diri dari segala bentuk pengaruh duniawi yang tak terbendung adalah dengan cara menjaga kewajiban sebagai murid Guru. Hasil pengamatan dan diskusi penulis dengan jama’ah Hasan Ma’shum sepuh pada setiap selesai tawajuh rutin di Surau Sugihwaras Tuban.

[10] Lihat Abdul Qadir al-Jailani dalam Tenggelam dalam Lautan Hikmah Kekasih Allah. (Jogjakarta: Diva Press. 2015), 356.

[11] Wawancara dengan Sarman pada saat Suluk Khusus Ramadhan 2016, bertepatan pada 6 Juli 2016.

[12] Hal inilah yang dimaksud oleh Syech Abdul Qadir al-Jailani dengan mengharuskan setiap muslim dekat dan cinta kepada orang yang dicintai Allah (Wali). Karena hasrat hati dan hawa nafsu bisa terkendali ketika mendekatkan diri dan mencintai para wali Allah. Lihat Abdul Qadir al-Jailani dalam Tenggelam dalam Lautan Hikmah Kekasih Allah. (Jogjakarta: Diva Press. 2015), 84.