Oktober 24, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SI TANGAN MALAIKAT; LAHIR DAN TUMBUH DARI SEBUAH TA’ZIR DI PESANTREN

Oleh :

Moh. Syihabuddin

Menciptakan sebuah ide dari seorang santri-pelajar yang dianggap lemah namun memiliki kemampuan berfikir cerdas-aneh merupakan gagasan yang melandasi lahirnya Jawara Kitasama ke-12 ini. Seorang santri-pelajar yang mampu mengendalikan sebuah kekuarangannya menjadi sebuah kekuatan yang mampu membantu teman-temannya di saat yang lain tidak mampu menolongnya.

Dialah Si Tangan Malaikat (Angelhand) yang memiliki kekuatan tehnologi robot di tangan kanannya.

Tangan robot ini merupakan temuan yang tidak disengaja yang diciptakannya sendiri untuk menolong kawan-kawannya saat mengalami kecelakaan di suatu perjalanan liburan di pegunungan kapur.

Selain itu, saat sekawanan penjahat sedang ingin mengganggu teman-teman putrinya yang sedang ingin perjalanan menuju perpustakaan di kota tangan robot ini sangat bermanfaat membantu mengusir para penjahat ini.

Dan yang paling keren, tangan robot ini juga bisa digunakan untuk menghadapi sosok Iblis Bertopeng, The Masked Devil’s yang mempunyai tujuan untuk menghancurkan pesantrennya. Iblis bertopeng ini adalah utusan dari seorang pengusaha yang menginginkan tanah pesantren agar dijual kepadanya.

Nampaknya ada rahasia di tanah pesantren tersebut.

Latar Belakang Kehidupan

Nama aslinya Ibrahim Suminto berusia 15 tahun. Sejak berusia 5 tahun sudah diserahkan oleh kedua orang tuanya untuk belajar di suatu pesantren di pedesaan Tuban yang diasuh oleh kawan orang tunya sendiri. Namanya Kiai Abdurrahamn, yang terkenal ahli dalam bidang fiqih dan akhlak tasawuf.

Minto, sapaan akrab Ibrahim Suminto terkenal sebagai anak yang sulit dalam menghafalkan syair-syair atau surat di dalam kitab suci al-Qur’an. Tidak salah jika dia dianggap sebagai anak yang penuh dengan “dosa dan kesalahan” oleh teman-temannya, yang mengembangkan mitos bahwa kesulitan hafalan dipengaruhi oleh dosa-dosa yang dilakukannya.

Selama menjalani kelas hafalan Minto selalu gagal melewatinya dan mendapatkan hukuman untuk berdiri di tengah lapangan sambil menghafalkan tugas yang diterimanya. Kendati sudah dihukum tetap saja Minto tidak mampu menghafalkan apa yang dihafalkan. Dia merasa bebal dan bodoh sekali.

Selama di Madrasah Minto tidak pernah mendapatkan nilai baik, apalagi ketika masuk di tingkat Tsanawiyah, jika tidak dihukum pasti mendapatkan nilai yang kurang memuaskan orang yang melihatnya.

Tidak hanya teman-temannya yang menyebutnya bodoh dalam pelajaran di Madrasah tapi juga beberapa guru-gurunya. Tidak jarang dia ditertawakan ketika salah saat mengerjakan suatu soal yang diberikan oleh gurunya dan mendapatkan nilai nol.

Ta’zir pada Guru Berpikiran Jernih

Saat semua melihat Minto anak yang mengalami kekurangan maka ada satu guru yang melihatnya berbeda dan menganggap Minto adalah anak yang cerdas, yaitu Mister Darjo Asvaruddin, alumnus Megister Pendidikan di Universitas di Surabaya.

Berawal dari Minto yang dihukum atau di-ta’zir untuk pengabdian masyarakat di kampung, karena kegagalannya mengerjakan ujian terakhir di Madrasah, Mister Asvar memintanya agar pengabdian dilakukan di rumahnya. Di rumah Mr. Asvar inilah Minto mendapatkan tugas membersihkan sebuah gudang milik keluarga Mr. Asvar, sekaligus diminta untuk menciptakan sesuatu yang berguna dari peralatan yang ada di gudang tersebut.

Hanya dalam waktu 24 jam kali 3 gudang sudah bisa dibersihkan dan Minto bisa menciptakan mainan aneh dari ronsokan gudang. Yang membanggakan Minto, peralatan tersebut diperbolehkan dibawa oleh Minto.

Dari sinilah minto bisa menggunakan mainannya itu untuk sesuatu yang bermanfaat dan bisa dibawa pulang ke pesantren saat tugasnya ta’zirnya pengabdian masyarakat telah selesai.

Gagasan untuk, oleh, dan dari Santri    

Sosok Jawara Kitasama ini sengaja diciptakan untuk menghadirkan superhero yang lahir dari tradisi pesantren. Dia sosok santri yang dianggap bodoh, namun menyimpan kemampuan yang memerlukan penanganan khusus.

Jawara Kitasama ke-12 ini akan dibangun (ceritanya) menjadi beberapa kisah. Dimana kisah-kisah ini akan menyatu bersama dengan perjalanan bersama Jawara Kitasama lainnya dalam Barisan Pelindung.

Beberapa kisah yang kemungkinan besar menjadi bagian dari perjalanan Si Tangan Malaikat antara lain;

  1. Harta di bawah Pesantren

Merupakan petualangan awal si Tangan Malaikat dalam menunjukkan jatidirinya sebagai sosok Jawara santri. Misi utamanya adalah melindungi pesantrennya agar tidak dirusak dan diserang oleh Iblis Bertopeng. Disini musuh utama Si Tangan malaikat adalah Iblis Bertopeng.

  1. Kilatan Masa Depan

Setelah berjibaku menghadapi Iblis Bertopeng dan mengalahkannya ternyata masalah yang dihadapi oleh si Tangan Malaikat semakin panjang yang mengakibatkan beberapa bangunan pesantren rusak parah.

Disinilah si Tangan Malaikat kembali berurusan dengan polisi yang ternyata adalah sosok polisi palsu yang disewa oleh Korporasi tertentu untuk menghancurkan pesantren melalui tuduhan aliran sesat.

Dengan kemampuannya yang bisa terbang dan mendatangkan angin topan si Polisi menyebut dirinya Dewa Angin Perusak Alam.

  1. Darah para Syahid Palsu

Lulus dari pesantren si Tangan Malaikat berhadapan dengan kawannya sendiri yang beralih faham menjadi golongan ekstremis. Junaidi, si kawannya telah mengikuti pelatihan militer di camp teroris yang dirahasiakan. Dengan dibekali senjata lengkap dan kemampuan beladirinya Junaidi beruba wujud menjadi sosok sang Peledak. Dia menghancurkan segalanya termasuk bangun pesantrennya sendiri yang dulu dijadikan sebagai tempat belajar.

Jika sekenario cerita ini berjalan dengan baik kemungkinan perjalanan sosok si Tangan Malaikat bisa dilanjutkan menjadi kisah yang lebih menarik.