Oktober 1, 2020

KOMUNITAS KITASAMA

Menebar Pengetahuan Membuka Wawasan

SHOLAT, HARUS SUCI DARI DUA HADATS DAN NAJIS JASMANI DAN JUGA MAKNAWI

oleh: Moh. Syihabuddin

 

Syarat utama dalam mendirikan sholat adalah suci dari hadats kecil maupun besar sekaligus suci dari najis, baik kondisi badannya, pakaiannya ataupun tempatnya.

Melaksanakan sholat dalam kondisi najis atau memiliki hadats tentu saja menjadikan sholat tersebut tidak sah dan pekerjaannya menjadi tidak ada artinya, alias pekerjaan sholat itu menjadi sia-sia.

Suci dari hadats kecil dan hadats besar bisa dilakukan dengan cara berwudlu atau mandi besar, dengan mengerjakan seluruh syarat-syarat sahnya sekaligus beberapa hal yang menjadi syarat rukunnya. Dengan berwudlu maka seseorang sudah terbebas dari hadats kecil dan dengan mandi besar maka seseorang sudah bisa terbebas dari hadats besar.

Demikian juga dengan najis—baik pakaian, tempat atau badannya—bisa dibersihkan dengan alat utama dalam sesuci, yaitu dengan air. Suatu tempat, pakaian atau tubuh yang mengandung najis bisa segera dibersihkan dengan air dan dihilangkan bau, warna dan rasanya.

Hal tersebut tentu saja menunjukkan bahwa menghilangkan najis dan hadats sangat sederhana dan mudah sekali untuk dilakukan. Berwudlu, mandi atau membasuh najis.

Akan tetapi kegiatan syarat utama sholat itu menjadi berat ketika dibenturkan dengan proses sholat itu sendiri yang merupakan kegiatan ruhani, bukan hanya kegiatan yang bersifat jasmani.

Sholat bukan hanya gerakan mengangkat tangan, rukuk, sujud atau duduk—lalu berdiri lagi. Sholat merupakan kegiatan ruhani yang menjadi sarana bagi manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhannya. Sholat menjadi jalan (ruhani) yang bisa dilakukan oleh manusia untuk menghadap Tuhannya. Dan Melalui sholat manusia akan diingatkan tentang keberadaan Allah (secara nyata) dan keberadaan dirinya sebagai seorang hamba (budaknya) Allah.

Sebagai sebuah kegiatan ruhani sholat tentu saja melibatkan hati dalam proses pelaksanaannya dan menjadikan hati sebagai pusat utama untuk berkomunikasi dengan Tuhannya. Hati menjadi titik tumpuh untuk menyatukan jasad manusia dengan ruhani Tuhan yang Maha Tinggi dan Maha Suci. Dari dalam hati manusia inilah Allah bisa dimungkinkan untuk hadir dalam dirinya manusia dan dimungkinkan untuk berkomunikasi secara tatap muka. Karena jalan yang bisa ditempati Allah di alam semesta  ini hanyalah hati manusia (yang bersih dan suci).

Dengan demikian, suci dari dua hadats dan najis tentunya belum cukup untuk bisa sholat secara totalitas dan maksimal, dibutuhkan sucinya ruhani dan bersihnya hati yang terbebas dari hadats dan najis-najis maknawi dan najis-najis ruhani.

Hadats dan najis maknawi merupakan sifat-sifat tercela, perasaan sombong yang mencerminkan perilaku iblis, pikiran-pikiran yang mengandung cinta (kenikmatan) duniawi, pemuja nafsu birahi (seksualitas), gemar dengan kesenangan-kesenangan duniawi (berfoya-foya, pesta pora, pemborosan), dan sangat bangga akan kekayaan dan harta bendanya (kepemilikan).

Najis-najis maknawi meliputi perilaku-perilaku atau perasaan-perasaan (berikut pemikiran) yang menyebabkan kebencian, kemarahan, kesombongan, kegundahan, dan balas dendam serta kerakusan. Najis-najis ini banyak mempengaruhi manusia dalam kehidupan sehari-harinya, yang tumbuh dan berkembang biak di dalam hati sanubari manusia.

Sedangkan hadats maknawi merupakan ketidakmampuan manusia menghadirkan Tuhannya, mengingat Tuhannya ketika sudah mulai melakukan takbiratul ihram. Manusia yang melakukan sholat dan gagal menghadirkan wajah Tuhannya maka dia (masih) melekat dalam tubuhnya hadats maknawi, baik kecil maupun besar.

Keberadaan hadats dan najis maknawi berposisi di dalam qalbu. Ia menancap dan melekat di dalam hati sanubari manusia. Tentunya hati tidak bisa disucikan dengan wudlu maupun mandi. Kecuali dengan dzikrullah (berdzikir dengan menyebut nama Allah).

Untuk bisa sholat, maka seseorang harus mensucikan hatinya dengan memperbanyak berdzikir dan menyebut nama Allah—yang mendapatkan bimbingan dari guru para ahli waris Rasulullah.

Dzikir ini bukan sekedar dzikir yang mengucapkan kalimat “Allah” saja melalui bibir atau mulut, tapi dzikir yang dikumandangkan melalui hati yang dibimbing oleh seorang guru ruhani yang mendapatkan jalur keilmuan langsung dari ahli waris Rasulullah.

Dengan sering berdzikir maka hati akan menjadi bersih dan dibersihkan oleh Allah. Karena hanya dengan menyebut kalimat “Allah” itulah yang bisa membersihkan hati manusia dan menghilangkan najis-najis maknawi yang menempel di dalam hati manusia.

Maka dengan proses berdzikir ini sholat baru memungkinkan untuk “sah” secara benar dilakukan dan secara totalitas didirikan. Karena hati sudah dibersihkan melalui dzikir dan disatukan dengan membiasakan dirinya menyebut nama “Allah” secara ruhani.

Tanpa adanya kebersihan hati dari hadats dan najis-najis maknawi ini tentu saja sholat tidak akan (pernah) dilakukan dan tidak akan bisa didirikan.

Lalu, belajar berdzikir terlebih dahulu atau sholat terlebih dahulu? Tentu saja jawabannya adalah belajar secara bersamaan, namun harus dilakukan secara bertahap.

Bagi anak-anak kecil yang belum akil-baligh, belajar tata cara sholat secara jasmani adalah penting untuk pembiasaan dan pengenalan ibadah dalam islam. Namun bagi orang yang sudah masuk akil-baligh maka belajar sholat disertai dengan belajar berdzikir adalah sebuah kewajiban yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.

Maka wajib hukumnya belajar berdzikir bagi orang Islam yang sudah masuk masa-masa akil-baligh dan mencari guru yang bisa membimbing hatinya untuk berdzikir kepada Allah (secara benar).

Wallahu’alam bisshowaf.